Alumnus Seminari Menengah Pius XII Kisol; FKIP, Universitas Sanata Dharma; Pascasarjana MM STIE ISM, Jakarta
Rabu, 21 November 2012
Jumat, 13 Januari 2012
Character Education
Pendidikan Karakter Butuh Keteladanan
http://edukasi.kompas.com/read/2011/12/04/16020658/Pendidikan.Karakter.Butuh.Keteladanan
KENDARI, KOMPAS.com- Pendidikan karakter tidak berhasil jika hanya retorika. Suksesnya pendidikan karakter justru butuh keteladanan.
"Kita sering membicarakan karakter bangsa, tetapi hanya sebatas retorika. Tidak sedikitpun tercermin dalam kehidupan sehari-hari, terutama dari pemimpin bangsa. Padahal, pendidikan karakter itu efektif dengan keteladanan," papar Darni M Daud, Rektor Universitas Syiah Kuala dalam pertemuan tahunan Forum Rektor Indonesia di Universitas Haluoleo, Minggu (4/12/2011).
Idrus R Paturusi, Rektor Universitas Hasanuddin Makassar, mengatakan, pendidikan karakter bagi mahasiswa penting. "Begitu mahasiswa lulus, mereka nanti masuk persaingan. Tanpa karakter yang kuat, mereka tidak mampu bersaing," ujar Idrus.
Menurut Idrus, pendidikan karakter memang butuh keteladanan. Sebab, perangkat belajar pada manusia lebih efektif secara audio-visual.
Sementara itu, I Wayan Rai S, Rektor Institut Seni Indonesia Denpasar, mengingatkan pemanfaatan seni untuk membangun karakter dan meningkatkan daya saing bangsa. Selain melatih keterampilan, juga mampu menanmkan nilai-nilai.
"Tetapi sayang, seni belum dipandang baik di negeri ini. Bahkan, sekolah seni saja masih sedikit. Padahal, seni berperan besar dalam pembentukan karakter bangsa," kata Wayan.
Retno S Sudibyo, Wakil Rektor Senior Bidang Pendidikan, Penelitian, dan Pengabdian Masyarakat Universitas Gadjah Mada (UGM), menjelaskan, pendidikan karater di kampus singkat. Seharusnya pembentukan karakter sudah secara serius dilaksanakan di jenjang pendidikan dasar dan menengah.
Retno menjelaskan kampus ini memanfaatkan program kuliah kerja nyata (KKN) pemberdayaan masyarakat sebagai bagian dari pendidikan karakter. Mahasiswa dibentuk untuk berempati dan peduli secara multidisiplin keilmuan sekaligus membangun kepemimpinan.
"Kita sering membicarakan karakter bangsa, tetapi hanya sebatas retorika. Tidak sedikitpun tercermin dalam kehidupan sehari-hari, terutama dari pemimpin bangsa. Padahal, pendidikan karakter itu efektif dengan keteladanan," papar Darni M Daud, Rektor Universitas Syiah Kuala dalam pertemuan tahunan Forum Rektor Indonesia di Universitas Haluoleo, Minggu (4/12/2011).
Idrus R Paturusi, Rektor Universitas Hasanuddin Makassar, mengatakan, pendidikan karakter bagi mahasiswa penting. "Begitu mahasiswa lulus, mereka nanti masuk persaingan. Tanpa karakter yang kuat, mereka tidak mampu bersaing," ujar Idrus.
Menurut Idrus, pendidikan karakter memang butuh keteladanan. Sebab, perangkat belajar pada manusia lebih efektif secara audio-visual.
Sementara itu, I Wayan Rai S, Rektor Institut Seni Indonesia Denpasar, mengingatkan pemanfaatan seni untuk membangun karakter dan meningkatkan daya saing bangsa. Selain melatih keterampilan, juga mampu menanmkan nilai-nilai.
"Tetapi sayang, seni belum dipandang baik di negeri ini. Bahkan, sekolah seni saja masih sedikit. Padahal, seni berperan besar dalam pembentukan karakter bangsa," kata Wayan.
Retno S Sudibyo, Wakil Rektor Senior Bidang Pendidikan, Penelitian, dan Pengabdian Masyarakat Universitas Gadjah Mada (UGM), menjelaskan, pendidikan karater di kampus singkat. Seharusnya pembentukan karakter sudah secara serius dilaksanakan di jenjang pendidikan dasar dan menengah.
Retno menjelaskan kampus ini memanfaatkan program kuliah kerja nyata (KKN) pemberdayaan masyarakat sebagai bagian dari pendidikan karakter. Mahasiswa dibentuk untuk berempati dan peduli secara multidisiplin keilmuan sekaligus membangun kepemimpinan.
Pendidikan Karakter
Gagalnya Pendidikan Karakter Kesalahan Pendidikan?
http://edukasi.kompas.com/read/2011/12/12/10273315/Gagalnya.Pendidikan.Karakter.Kesalahan.Pendidikan
BANDUNG, KOMPAS.com - Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan tak mau disalahkan jika hingga saat ini belum terlihat hasil dari program pendidikan karakter yang telah dicanangkan kementerian. Kepala Badan Penelitian dan Pengembangan Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan Khairil Anwar Notodipuro mengatakan, perlu waktu dan sinergitas dari semua pihak untuk membentuk karakter, khususnya pada anak-anak usia sekolah.
Menurut Khairil, ada tiga hal yang menjadi
perhatian terkait upaya menanamkan pendidikan karakter. Pertama,
kesadaran jika perubahan dan pembentukan karakter tidak bisa dilakukan
dalam waktu sesaat. Kedua, minimnya waktu belajar siswa di
sekolah-sekolah.
"Yang ketiga itu lebih penting, jangan menyimpulkan gagalnya pendidikan karakter karena sebuah kasus. Kita harus menyimpulkan pada fakta yang menggejala, jika kesalahan pendidikan dituding sebagai gagalnya pendidikan karakter, saya rasa itu tidak adil," kata Khairil, Minggu (11/12/2011) malam, seusai membuka kampanye nasional "Peran Penelitian dan Pengembangan dalam Pembangunan Karakter Bangsa", di Hotel Horison, Bandung, Jawa Barat.
Ia menjelaskan, pendidikan karakter kebangsaan telah lama dicanangkan, bahkan sejak era Presiden Soekarno. Namun, ia mengakui, dalam perjalanannya banyak mengalami pasang surut. Khairil menegaskan, pendidikan merupakan investasi jangka panjang yang hasilnya baru bisa dirasakan beberapa tahun mendatang.
"Sekarang, atau dalam beberapa tahun terakhir kami ingin kembali menjalankan pendidikan karakter. Ini harus terus dikembangkan, karena menyangkut jati diri. Jika tidak, maka bangsa kita akan tergilas," ujarnya.
http://edukasi.kompas.com/read/2011/12/12/10273315/Gagalnya.Pendidikan.Karakter.Kesalahan.Pendidikan
BANDUNG, KOMPAS.com - Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan tak mau disalahkan jika hingga saat ini belum terlihat hasil dari program pendidikan karakter yang telah dicanangkan kementerian. Kepala Badan Penelitian dan Pengembangan Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan Khairil Anwar Notodipuro mengatakan, perlu waktu dan sinergitas dari semua pihak untuk membentuk karakter, khususnya pada anak-anak usia sekolah.
Jangan menyimpulkan gagalnya pendidikan karakter
karena sebuah kasus. Jika kesalahan pendidikan dituding sebagai gagalnya
pendidikan karakter, itu tidak adil
"Yang ketiga itu lebih penting, jangan menyimpulkan gagalnya pendidikan karakter karena sebuah kasus. Kita harus menyimpulkan pada fakta yang menggejala, jika kesalahan pendidikan dituding sebagai gagalnya pendidikan karakter, saya rasa itu tidak adil," kata Khairil, Minggu (11/12/2011) malam, seusai membuka kampanye nasional "Peran Penelitian dan Pengembangan dalam Pembangunan Karakter Bangsa", di Hotel Horison, Bandung, Jawa Barat.
Ia menjelaskan, pendidikan karakter kebangsaan telah lama dicanangkan, bahkan sejak era Presiden Soekarno. Namun, ia mengakui, dalam perjalanannya banyak mengalami pasang surut. Khairil menegaskan, pendidikan merupakan investasi jangka panjang yang hasilnya baru bisa dirasakan beberapa tahun mendatang.
"Sekarang, atau dalam beberapa tahun terakhir kami ingin kembali menjalankan pendidikan karakter. Ini harus terus dikembangkan, karena menyangkut jati diri. Jika tidak, maka bangsa kita akan tergilas," ujarnya.
Penelitian "Kebahasaan"
| jurnal --> GATRA --> no. 33, th. XXIII July 2007 | |||||
| PENGGUNAAN KOLOKIAL BERUPA SAPAAN PADA KATA PENGANTAR SKRIPSI MAHASISWA PBSID, USD, PERIODE JANUARI-DESEMBER 2006 | |||||
|
|||||
| Abstraksi :
Halaman "Kata Pengantar" di dalam skripsi digunakan mahasiswa untuk mengungkapkan pikirannya, termasuk untuk menyampaikan ucapan terima kasih kepada beberapa pihak yang dianggap telah berjasa dalam penyusunan skripsi tersebut. Sebagai karya tulis ilmiah, penulisan skripsi mengikuti kaidah penulisan karya ilmiah yang antara lain berupa penggunaan ragam bahasa baku. Seluruh bagian skripsi, termasuk halaman "Kata Pengantar", mengikuti kaidah penulisan karya ilmiah tersebut. Berdasarkan hasil penelitian terhadap sejumlah halaman "Kata Pengantar" skripsi, ditemukan penggunaan kolokial atau ragam bahasa lisan sehari-hari. Mahasiswa menggunakan kolokial berupa sapaan dalam menyebut nama pihak-pihak yang diberi ucapan terima kasih. Ragam sapaan yang ditemukan adalah sapaan kekeluargaan yangmenyertai gelar atau jabatan akademik, sapaan yang ditentukan berdasarkan status sosial kekeluargaan dan keagamaan, sapaan yang dipengaruhi bahasa daerah dan asing, dan sapaan yang berupa nama panggilan dan julukan. |
Menjadi Guru, Untuk Apa?
Menjadi Guru, Untuk Apa?
http://www.republika.co.id/berita/pendidikan/eduaction/12/01/11/lxmt8j-menjadi-guru-untuk-apa
Rabu, 11 Januari 2012 18:29 WIB
Mulialah guru karena mereka punya peluang untuk menginspirasi siswa agar hidup mereka jauh lebih baik dari gurunya sendiri. Berbahagia lah guru jika kelak murid-murid mereka menjadi orang yang hidupnya sukses nan bermanfaat bagi sesama. Itulah dahsyatnya menjadi guru.
Rugilah orang yang menyepelekan guru. Masyarakat, bangsa, negara yang menyia-nyiakan bahkan mendzalimi guru, sungguh mereka akan mengalami kerugian yang teramat besar. Masa depan suatu bangsa sedang dipertaruhkan. Jangan anggap sepele hal ini.
Hari ini, mari tanyakan pada anak muda Indonesia, siapa di antara mereka yang ingin menjadi guru? Saya teringat dengan paparan Prof. Cheng (The Hong Kong Institute of Education) di event The 2nd East Asian International Conference on Teacher Education Research, Desember 2010 silam. Ada 4 prinsip holistik & berjangka panjang dalam konteks pengembangan dan pendidikan profesi guru, yaitu attracting teacher, developing teacher, empowering teacher, dan retaining teacher.
Prinsip pertama, attracting teacher. Pemerintah di suatu negara harus mampu memberikan kepastian hukum & penghidupan yang layak bagi guru. Status guru tak sebatas diperjuangkan secara de jure. Secara de facto, kehidupan guru memang harus dijamin agar fokus dalam berkarya. Jika syarat ini dipenuhi, maka setiap orang akan memandang profesi guru sebagai sesuatu yang prospektif. Tugas pemerintah selanjutnya, memastikan seleksi yang super ketat agar tidak sembarangan orang bisa menjadi guru.
Prinsip kedua, developing teacher. Lembaga Pendidik & Tenaga Kependidikan (LPTK) musti dikuatkan fungsi kelembagaannya. Kehidupan kampus di universitas keguruan dikondisikan agar mampu membina dan mendidik para calon guru agar benar-benar siap menjadi guru. Konsep pengembangan profesional guru mesti didefinisikan secara operasional.
Berkembangnya kompetensi guru mesti sejalan dengan masa pengabdian mereka, fokus utama dari prinsip ini. Harus ada program pengembangan profesional yang memfasilitasi guru agar mereka tidak pernah berhenti belajar. Bentuk aktivitasnya sangat beragam, dari mulai mengikuti training guru secara berkala, adanya supervisi pembelajaran, sampai keharusan untuk melakukan penelitian tindakan kelas.
Empowering teacher, prinsip ini mensyaratkan adanya upaya untuk memastikan bahwa kinerja guru selalu dapat diukur efektivitasnya. Guru mesti dibantu agar mereka selalu dapat menunjukkan kemampuan terbaiknya. Jika pun ada kendala, kepala sekolah dengan sistem pengembangan profesionalnya selalu setia menemani guru untuk menyelesaikan masalah yang kerap mereka hadapi. Tiada hari tanpa proses pemberdayaan guru.
Rencana karir seorang guru harus dinyatakan secara tegas & tidak multitafsir, aspek penting dalam prinsip retaining teacher. Jika aturan sudah ditetapkan bahwa syarat seorang guru menjadi kepala sekolah, misalnya, perlu waktu mengabdi 10 tahun dengan kualifikasi tertentu. Tapi, ada yang baru setahun sudah bisa menjadi kepala sekolah, apalagi tanpa fit & proper test, ini namanya kecelakaan.
Komitmen dan konsistensi dalam menegakkan aturan main bisa membuat guru termotivasi untuk meningkatkan kualitas diri. Jika tidak, guru akan mengalami demotivasi. Situasi kompetisi tidak akan pernah berlangsung fair. Bahayanya, wrong man on the wrong place jadi sebuah keniscayaan. Guru paham apa yang harus dilakukan jika mereka ingin menjadi kepala sekolah, pengawas sekolah, atau jabatan struktural lainnya yang mempersyaratkan kompetensi guru yang mesti plus.
Jadi, lupakan impian untuk meraih prestasi atau jabatan tertentu jika masih banyak membual daripada berkarya nyata. Jika profesi guru ingin naik kelas, coba praktikkan keempat prinsip tersebut sesuai dengan konteks Indonesia.
Hong Kong bukan Indonesia, begitu pun sebaliknya. Hong Kong secara serius menetapkan kebijakan strategis dan mengembangkan sistem pendidikan guru secara sistematis dan berkelanjutan. Wajar kalau pendidikan mereka selangkah lebih maju dari kita. Indonesia tak usah pesimis karena citra profesi guru kita pernah mengalami masa-masa kejayaan di masa lalu.
Sayangnya itu dulu, catatan sejarah yang mesti dapat dimaknai hikmahnya. Sekarang, apa yang mesti diperbuat? Pemerintah harus mulai tergugah kesadarannya untuk mulai berbenah. Konsep sistem pendidikan guru kita mungkin tak kalah hebat dari negara lain. Persoalannya, apakah konsep tersebut konsisten diterapkan di tataran praktis pendidikan? Jangan-jangan teorinya bagus, praktiknya amburadul. Kondisi yang memilukan sekaligus memalukan.
Kapan pun dan dimana pun mereka berada, guru tetaplah guru, orang yang beruntung dan mulia. Jika hari ini, saya & Anda tetap memilih jalan hidup menjadi guru, meski jaminan hidup dan kepastian hukum dari pemerintah masih menjadi sebuah utopia, mungkin ini bisa masuk kategori keajaiban baru di dunia.
Menjadi guru di Jepang sangat sulit karena memang penghargaan pemerintah kepada guru sangat eksklusif. Ada keseimbangan sempurna antara tuntutan hak dan pemenuhan kewajiban. Guru di Jepang harus tegas memilih, jadi guru atau tidak sama sekali. Tak ada pilihan lainnya. Di Indonesia, kita selalu dibuat ragu untuk menentukan pilihan, jadi guru karena pilihan hidup, jadi guru mumpung sudah lahir UU No. 14 Tahun 2005, jadi guru karena ada peluang untuk bisa menjadi pegawai negeri sipil, atau jadi guru karena tidak ada pilihan lainnya. Sungguh ironi.
Beruntunglah guru-guru yang ada di Indonesia. Mereka sangat sadar bahwa pilihan hidupnya menjadi guru penuh resiko. Meskipun demikian, semoga semangat perjuangan mereka tidak akan pernah luntur untuk mengabdikan hidupnya bagi kelangsungan pendidikan Indonesia. Mengapa bisa demikian? Karena mereka paham bahwa ada yang harus diselamatkan untuk kepentingan masa depan bangsa, yaitu murid-murid mereka, para calon pemimpin bangsa.
Menjadi guru, untuk apa? Kita berharap guru-guru di Indonesia serempak menjawab, ‘Investasi untuk Indonesia’. Siapakah mereka yang paham arti ‘Investasi untuk Indonesia’? Semoga saya, Anda, & mereka yang saat ini menjadi guru di seantero penjuru nusantara.
Asep Sapa'at Teacher Trainer di Divisi Pendidikan Dompet Dhuafa
Minggu, 08 Januari 2012
UN 2012
SKL (Kisi-kisi) dan Jadwal Ujian Nasional Tahun 2012
Badan Standar Nasional Pendidikan (BSNP) secara resmi telah mengeluarkan Standar Kompetensi Lulusan (SKL) Ujian Nasional 2012. Dengan telah diumumkannya SKL (kisi-kisi) ini diharapkan pihak sekolah bisa menindaklanjuti dan lebih fokus dalam mempersiapkan siswa menghadapi Ujian Nasional tahun 2012 nanti.Sebagaimana yang diketahui, sebelumnya pemerintah juga telah mengumumkan jadwal UN 2012. Adapun jadwalnya sebagai berikut:
Jadwal UN 2012
| No | JENJANG PENDIDIKAN | WAKTU PELAKSANAAN UN | PENENTUAN KELULUSAN | |
| UTAMA | SUSULAN | |||
| 1 | SMA/MA dan SMK | 16 – 19 April 2012 | 23 – 26 April 2012 | 24 Mei 2012 |
| 2 | SMP/MTs dan SMPLB | 23 – 26 April 2012 | 30 April – 4 Mei 2012 | 2 Juni 2012 |
| 3 | SD/MI DAN SDLB | 7 – 9 Mei 2012 | 14 – 16 Mei 2912 | Kewenangan Provinsi |
Silakan Unduh SKL (kisi-kisi) UN 2012 :
SKL (kisi-kisi) Ujian Nasional SMP/MTs/SMPLB, SMA/MA/SMALB dan SMK Tahun Ajaran 2011/2012
SKL (kisi-kisi) Ujian Nasional SD/MI Tahun Ajaran 2011/2012
Penerimaan PNS tahun 2012
TRIBUNNEWS.COM, JAKARTA - Menteri Pemberdayaan Aparatur Negara dan Reformasi Birokrasi (Menpan-RB) Azwar Abubakar memperkirakan lowongan sekitar 50.000 hingga 65.000 calon Pegawai Negeri Sipil (CPNS) seluruh Indonesia tahun 2012 ini.
"Saya perkirakan sekitar 50.000 hingga 65.000 sudah cukup," kata Azwar di kompleks Istana Kepresidenan RI Jakarta, Jumat (6/1/2012), sore.
Penerimaan CPNS tahun ini turun dibandingkan tahun-tahun sebelumnya yang bisa mencapai di atas 100.000 CPNS. Menurut, Azwar ini disebabkan penerimaan CPNS tahun ini disesuaikan dengan tingkat kebutuhan pada sektor tertentu saja. "Kita tidak akan menerima CPNS yang tidak dibutuhkan. Itu prinsip," kata dia.
Karena itu, lanjut Azwar, maka formasi penerimaan CPNS akan diumumkan lebih cepat. 'Sehingga ada persiapan," ujarnya. Mantan Anggota DPR RI dari Aceh ini mewanti-wanti penerimaan CPNS tahun ini bebas dari main uang. "Itu tidak fair," kata dia. (aco)
"Saya perkirakan sekitar 50.000 hingga 65.000 sudah cukup," kata Azwar di kompleks Istana Kepresidenan RI Jakarta, Jumat (6/1/2012), sore.
Penerimaan CPNS tahun ini turun dibandingkan tahun-tahun sebelumnya yang bisa mencapai di atas 100.000 CPNS. Menurut, Azwar ini disebabkan penerimaan CPNS tahun ini disesuaikan dengan tingkat kebutuhan pada sektor tertentu saja. "Kita tidak akan menerima CPNS yang tidak dibutuhkan. Itu prinsip," kata dia.
Karena itu, lanjut Azwar, maka formasi penerimaan CPNS akan diumumkan lebih cepat. 'Sehingga ada persiapan," ujarnya. Mantan Anggota DPR RI dari Aceh ini mewanti-wanti penerimaan CPNS tahun ini bebas dari main uang. "Itu tidak fair," kata dia. (aco)
Langganan:
Komentar (Atom)