Senin, 15 Desember 2008

Mencari MAKNA kerja

PRABA Mengantarkan Kami pada “Kepenuhan” Berjurnalistik

Tidak ada orang yang tidak ingin tampil profesional. Pada zaman yang sarat dengan persaingan saat ini, tentunya keprofesionalan seseorang sangatlah dituntut. Tampil profesional akan memungkinkan seseorang menjadi tokoh idola dan lebih dari itu disenangi banyak orang. Beranjak dari keinginan untuk bisa tampil profesional dan menjadi seorang yang profesional itu pulalah yang mendasari kami, sebagian dari para mahasiswa PBSID, memberanikan diri untuk mencoba ‘mengetuk hati’ PRABA agar sudi menampung kami sehingga kami bisa mengalami langsung apa dan bagaimana jalan menuju keprofesionalan itu. Tanpa memperpanjang jalan dan memperumit birokrasi, pada 19 Maret 2008 PRABA pun dengan hati terbuka siap menampung kami bersembilan untuk bisa berproses dan berdinamika menuju (atau paling tidak mendekati) “kepenuhan” berjurnalistik.
Bagi kami, pengalaman berpraktik ini merupakan sebuah pengalaman yang sangat indah dan bernilai. Dengan kegiatan ini, kami kemudian berusaha untuk menekuni dunia jurnalistik dengan sungguh-sungguh, meskipun kami sendiri bukanlah sungguh-sungguh jurnalis. Praktik ini membuat kami mau dan mampu bergelut dan bergulat dengan berbagai hal yang ada hubungannya dengan jurnalistik. Praktik yang telah kami jalani di PRABA telah menyadarkan kami akan tiga sikap penting, yakni: pertama, kerja keras. Sebuah semboyan klasik yang berbunyi “hidup adalah perjuangan” sudah sering kita dengar. Semboyan inilah yang mengilhami dan menyadarkan banyak orang bahwa hidup itu harus penuh dengan perjuangan dan kerja keras. Hal itu pula yang kami dapatkan ketika berpraktik di PRABA. PRABA menyodorkan sejumlah tugas yang sarat kerja keras, misalnya memburu narasumber yang susah dihubungi atau dicari. Namun berbagai hal itu kemudian tidak menyurutkan semangat kami tetapi malah membuat kami semakin berusaha keras.
Kedua, pantang menyerah. Sikap kerja keras dan pantang menyerah merupakan dua sikap yang berbeda namun sukar dipisahkan. Dalam sikap kerja keras sesungguhnya sudah tercakup sikap tidak mudah menyerah. Sebaliknya dalam sikap pantang menyerah pun sebenarnya sudah terkandung sikap kerja keras. Tugas yang sarat tantangan dari PRABA, seperti mencari dan menghubungi narasumber dari pihak pemerintahan, yang nota bene biasanya sarat dengan birokarsi dan cukup sukar bagi “jurnalis magang”, tidak kemudian menjadikan kami putus asa dan menyerah. Berbagai tugas itu kami lihat sebagai tantangan, bukan sebagai hambatan. Ketiga, terbuka terhadap kritikan dan masukan pihak lain. Sudah menjadi hakikatnya bahwa manusia adalah makhluk sosial, makhluk yang selalu ada bersama orang lain. Selain itu, dari hakikatnya juga manusia tidak ada yang sempurna. Karena ketidaksempurnaan yang melekat pada manusia itulah maka manusia diciptakan untuk ada bersama orang lain sehingga dapat saling melengkapi ketidaksempurnaan itu satu sama lain. Kenyataan di atas yang juga menyadarkan kami ketika berpraktik di PRABA. Dalam berproses dan berdinamika bersama, baik antarsesama praktikan maupun antara praktikan dengan pihak PRABA, sesungguhnya kami telah disadari bahwa menerima masukan dan kritikan pihak lain itu sangat penting karena sesungguhnya kita manusia tidak ada yang utuh dan sempurna.
Tiga sikap di atas yang menurut kami sangat mendasar dan bisa kami dapatkan ketika berpaktik di PRABA. Sesungguhnya masih begitu banyak hal positif yang kami dapatkan dari PRABA yang mungkin tidak cukup kalau kami beberkan di sini. Harapan kami PRABA senantiasa menjadi media terdepan yang selalu menjadi pembawa garam dan terang bagi dunia serta menjadi pengamal sejati nilai-nilai Pancasila sebagai mana telah tertuang dalam motto PRABA sendiri. Akhir kata, terima kasih yang tak terhingga kepada PRABA yang telah menerima dan “mendewasakan” kami dalam berjurnalistik.

(V. Sarwoyo)

Tidak ada komentar: