Oemar Bakrie di Gereja Kota Baru
Minggu sore, 19 Oktober 2008, Gereja Kota baru lagi-lagi sesak dengan “pengunjung” kaum muda. Pasalnya sore itu di Gereja Kota Baru berlangsung ekaristi kaum muda (EKM) yang dipandu kaum muda dari SMA Kolese De Britto. Ekaristi yang berlangsung semarak dengan ‘dipolesi’ kreativitas putra-putra JB itu mengusung tema “Maju tak Gentar, Mundur tak Geguyu. Ha…ha…ha”.
Misa yang berlangsung selama lebih kurang 1,5 jam itu dipimpin oleh Rm. Cornelius Priyanto, SJ. dan Rm. Ageng Marwoto, SJ. Saat ini ladang garapan kedua Romo tersebut adalah di De Britto. Dalam misa itu, sosok Oemar Bakrie-lah yang ditonjolkan. Romo Yan, dalam pengantarnya, mengatakan bahwa Oemar Bakrie, seorang tokoh fiksi, dijadikan sosok dalam misa itu lebih-lebih karena sifatnya yang tidak mudah menyerah. Salah satu simbol khas Oemar Bakrie adalah sepeda, yang merupakan simbol kesederhanaannya dalam menjalankan tugas untuk mengantar anak didiknya menjadi menteri namun, tetap tekun, setia, dan pantang menyerah.
Dalam kotbahnya, Rm. Yan yang sekarang mengurusi Campus Ministry di JB ini, sekali lagi menggarisbawahi bahwa tidak ada keberhasilan tanpa perjuangan; tidak ada kesuksesan tanpa kerja keras, pengorbanan, dan semangat pantang menyerah. Semangat hidup Oemar Bakrie harus dihidupkan kembali oleh orang-orang muda. Orang muda telah dipercaya oleh masyarakat umum di antaranya sebagai orang yang mampu membawa perubahan dan bisa membuat pembaharuan.
Fakta sejarah telah membuktikan bahwa kaum muda senantiasa membuat perubahan besar dalam sejarah perkembangan bangsa ini, di antaranya: pertama, Sumpah Pemuda 20 Oktober 1928 merupakan peristiwa besar dalam sejarah kemerdekaan bangsa ini di mana para pemuda Indonesia berhasil ‘duduk’ bersama mengikrarkan sumpah yang pada akhirnya berhasil mengantarkan Indonesia menjadi satu negara, satu bangsa, dan satu bahasa. Kedua, lengsernya penguasa tunggal orde baru pada Mei 1998 juga merupakan buah dari kerja keras kaum muda yakni para mahasiswa. Fakta-fakta ini menujukkan bahwa kaum muda adalah orang yang sangat berpengaruh dalam kehidupan bermasyarakat. Semoga kenyataan sejarah itu dapat dihidupkan kembali di zaman ini di tengah berbagai masalah dan kesulitan yang dihadapai bangsa ini. “Maju tak Gentar, Mundur Jijik i” demikian ungkapan Rm. Yan dengan nada menantang kaum muda di akhir kotbahnya.
(Oleh: Ventianus Sarwoyo)
Tidak ada komentar:
Posting Komentar