Rabu, 05 November 2008

Beritaku yang Sudah Dimuat Di Surat Kabar

Pembukaan Bulan Maria di Sendang Jatiningsih


Hari Rabu, 30 April 2008 sekitar pukul 19.30-21.30 WIB, ratusan umat Kristiani memenuhi halaman Sendang Jatiningsih untuk merayakan perayaan ekaristi pembukaan Bulan Maria. Perayaaan ekaristi itu dipimpin oleh Rm. Ngatmo, Pr dari Paroki Boro.
Salah satu penggalan pesan yang disampaikan Rm. Ngatmo, Pr dalam khotbahnya adalah agar orang tua tidak pernah lupa mendoakan anak-anaknya dengan rosario, novena, dan adorasi. Misa yang berlangsung selama lebih kurang 2 jam itu berlangsung dengan cukup khidmat. Partisipasi umat pun sangat tinggi. Terbukti dengan banyaknya umat yang datang dan memadati halaman Sendang Jatiningsih.
Misa itu merupakan serangkaian agenda di Sendang jatiningsih selama Bulan Mei yang diperingati orang-orang Katolik sebagai Bulan Maria. Misa pembukaan yang mengawali Bulan Maria seperti ini bukan lagi suatu hal yang baru bagi umat Katolik tapi sudah merupakan bagian dari agenda rutin.
Bagi orang katolik, bulan Mei dan juga bulan Oktober memang dikhususkan untuk menghormati Maria. Bulan Mei biasa disebut sebagai bulan Maria, sedangkan bulan Oktober disebut sebagai bulan Rosario. Sebetulnya, tradisi yang memandang bulan Mei sebagai bulan Maria sudah ada sejak abad pertengahan. Pada mulanya, orang-orang kafir di Italia dan Jerman sudah mempunyai kebiasaan untuk menghormati dewa-dewi pada bulan Mei. Ketika mereka menjadi Kristen, bentuk kebiasaan bulan Mei itu tetap dilanjutkan, tapi sasarannya diganti: bukan lagi dewa-dewi, tapi Bunda Maria.
Penghormatan terhadap Maria juga merupakan hasil perkembangan dalam Gereja, sejak abad XVII hingga abad XIX. Pada tanggal 1 Mei 1965, Paus Paulus VI dengan ensiklik Mense Maio menegaskan kembali tradisi kesalehan ini dengan menyatakan bahwa penghormatan kepada Bunda Maria pada bulan Mei merupakan “kebiasaan yang amat bernilai“. Kebiasaan bulan Oktober sebagai bulan Rosario dinyatakan pertama kalinya oleh Paus Leo XIII pada akhir abad XIX yang menganjurkan umat beriman untuk berdoa rosario setiap hari pada bulan Oktober. Dalam bulan Mei ini doa yang indah bagi Bunda Maria menurut tradisi Katolik adalah doa Salam Maria. Bagian pertama dari doa tersebut berkembang dalam abad pertengahan ketika Maria, Bunda Yesus, menjadi bahan perhatian umat kristiani sebagai saksi terbesar atas hidup, wafat dan kebangkitan Yesus. Menurut Metodius Sarumaha, OFM Cap., bagian awal dari doa Salam Maria merupakan salam Malaikat Gabriel di Nazaret menurut Injil Lukas: Salam Maria, penuh rahmat, Tuhan sertamu. Dengan salam itu, Malaikat Tuhan menyatakan belas kasih ilahi bahwa Tuhan akan menyertai Maria. Maria akan melahirkan Yesus ke dunia. Bagian selanjutnya, adalah salam yang disampaikan kepada Maria oleh Elisabet, sepupunya, seperti ditulis dalam Injil Lukas: terpujilah engkau di antara wanita, dan terpujilah buah tubuhmu Yesus. Dan akhirnya pada abad ke-15, bagain doa selanjutnya di tambahkan: Santa Maria, bunda Allah, doakanlah kami yang berdosa ini sekarang dan waktu kami mati. Melalui bagian doa ini kita memohon kepada Bunda Maria untuk mendoakan kita orang yang berdosa, sekarang dan menjelang saat ajal kita.
Bunda Maria adalah bunda yang siap memperhatikan dan mendampingi kita anak-anaknya dalam peziarahan kita di dunia ini. “Bunda Maria tidak pernah tidur duluan mendahului kita. Dia senantiasa setia menunggu dan menantikan kita” begitu kata Romo Ngatmo, Pr di akhri khotbahnya.


(Peliput: V. Sarwoyo, PBSID, USD)

Tidak ada komentar: