KAUM MUDA DAN LINGKUNGAN HIDUP
(Ventianus Sarwoyo)
Sungguh menarik tema Aksi Puasa Pembangunan (APP) Keuskupan Agung Semarang tahun 2008 yang intinya melibatkan kaum muda dan anak-anak dalam upaya memberdayakan lingkungan hidup. Di sini terlihat bagaimana pihak Gereja sungguh menaruh perhatian dengan keadaan lingkungan kita. Di sisi lain Gereja juga mengharapkan peran serta anak-anak dan kaum muda untuk menjadi subjek utama dalam upaya penyelamatan lingkungan itu. Gereja sungguh menaruh harapannya pada anak-anak dan kaum muda, yang nota bene merupakan generasi penerus, untuk menjadi perintis dan pioner pencinta lingkungan.
Sebagian besar dari kita kiranya tahu seberapa parah kerusakan alam (lingkungan) yang terjadi saat ini. Dari media massa cetak atau elektronik, kita mendengar di mana-mana ada peristiwa kebakaran hutan, banjir dan longsor karena penebangan hutan, banjir karena sampah yang dibuang di sembarang tempat, pencemaran air karena limbah industri, dan masih banyak berita kerusakan lingkungan alam lainnya. Inilah potret buruk perilaku manusia yang mengaku diri sebagai orang-orang beriman. Manusia telah semakin tamak dan rakus untuk mencari kesenangan diri, sehingga lingkungan alam pun harus dieksploitasi demi memenuhi kesenangan tersebut. Sebagian besar umat manusia tidak lagi melihat alam sebagai teman atau saudara satu pencipta yang kiranya perlu dihargai, tetapi malah melihat alam sebagai aset yang dapat dikeruk sebesar-besarnya demi kemakmuran diri.
Menghadapi kenyataan ini, anak-anak dan kaum muda, yang disebut-sebut masyarakat sebagai generasi penerus, harus segera mengambil langkah-langkah atau tindakan konkret agar lingkungan alam tidak semakin hancur yang pada akhirnya juga akan bisa menghancurkan kehidupan manusia. Tindakan konkret yang dilakukan bisa berupa kegiatan reboisasi, penghijauan, membuang sampah pada tempatnya, tidak merambah hutan, dan masih banyak kegiatan lainnya. Kiranya perlu diapresiasi kegiatan “1 Jam Bersama Bumi” oleh sebagian kaum muda di Sanata Dharma (yang dikoordinasi Forum Biarawan Biarawati) pada hari Jumat, 14 Maret 2008 yang melakukan aksi pemungutan sampah secara bersama-sama selama satu jam. Kegiatan lain yang patut diacungi jempol adalah gerakan Gereja Paroki Hati Kudus Yesus Tanah Mas Semarang yang berusaha menanam 1.000 pohon sejak perayaan Hari Raya Kristus Raja Semesta Alam 2007. Kegiatan seperti ini mungkin tergolong sederhana dan kita anggap sepele, tetapi dampaknya akan benar-benar terasa di kemudian hari. Upaya-upaya seperti itu memang harus dilakukan dengan kesadaran penuh sebagai bagian dari upaya melestarikan keutuhan ciptaan Tuhan, bukan semata-mata untuk dipuji orang lain atau untuk mendapatkan imbalan yang setimpal.
Di balik harapan pada keterlibatan anak-anak dan kaum muda dalam upaya penyelamatan lingkungan, tema APP di atas secara tidak langsung juga sebenarnya mengajak keluarga-keluarga Katolik untuk terlibat dan berpartisipasi secara aktif. Keterlibatan yang dimaksud dapat berupa dukungan atau dorongan kepada anak-anak untuk ikut melestarikan alam. Selain memberi dorongan atau dukungan, orang tua juga harus dapat menjadi teladan atau contoh bagi anak-anak dalam mengupayakan keutuhan alam. Jadi, orang tua tidak hanya bisa memerintah dan ngomong saja tetapi harus mampu berbuat konkret yang bisa dilihat langsung oleh anak-anak. Di sinilah letak pendidikan yang bermakna. Ingat dalam Kitab Suci dikatakan “…Allah menciptakan semuanya itu dan baiklah adanya”. Maka tugas kita tentunya menjaga dan melestarikan ciptaan Tuhan itu, bukan malah merusak.
(Penulis: Mahasiswa PBSI, FKIP, Universitas Sanata Dharma)
Tidak ada komentar:
Posting Komentar