PRIORITASKAN PERTANIAN DAN PENDIDIKAN
(V. Sarwoyo)
Rasa-rasanya hampir sebagian besar warga NTT mengetahui kalau dalam beberapa bulan ke depan, di NTT akan diadakan Pemilu untuk memilih gubernur dan wakil gubernur yang akan memimpin NTT periode 2008-2013. Lagi-lagi pesta demokrasi akan terjadi. Pesta demokrasi yang disebut-sebut sebagai pesta rakyat ini merupakan kesempatan bagi semua warga yang memenuhi syarat untuk menggunakan hak pilihnya dalam menentukan siapa yang akan pantas dan layak memimpin NTT pada lima tahun ke depan.
Tentu bukan sesuatu yang asing lagi, kalau sebelum pemilu dilaksanakan, para kandidat yang akan ikut bertarung itu terlebih dahulu memaparkan kepada masyarakat tentang apa yang akan dibuatnya selama ia memimpin nantinya, yang dalam istilah yang cukup modern kita sebut sebagai visi dan misi. Tidak jarang juga saat ini digunakan sebagai kesempatan yang emas bagi para kandidat untuk mengumbar janji-janji palsu kepada masyarakat. Bahkan lebih dari itu, sesama kandidat juga biasanya menggunakan kesempatan ini untuk saling menjatuhkan satu sama lain dengan menceritakan kejelekan kandidat lain. Sesuatu yang tidak etis terjadi pada calon pemimpin tentunya.
Menghadapi situasi ini, warga NTT dihimbau untuk berjaga-jaga dan cermat. Dalam artian, warga diharapkan dapat dengan selektif memilih dan menentukan siapa sebenarnya yang pantas mengurusi berbagai persoalan yang terjadi. Sungguh sangat diharapkan agar warga NTT tidak hanya terbuai dengan “gombalan” sesaat para kandidat yang sebenarnya punya kepentingan individu yang terselubung atau motivasi yang lain jika akan terpilih. Harus belajar dari pengalaman tentunya.
Sebelum warga NTT dengan berani dan mantap menentukan siapa yang pantas memimpin pada lima tahun mendatang, tentunya terlebih dahulu harus diketahui siapa dari para kandidat tersebut yang memang menaruh perhatian besar terhadap berbagai persoalan mendasar yang sedang dihadapai saat ini. Hemat saya, ada dua persoalan mendasar yang sungguh telah menggerogot dan merenggut warga NTT selama berpuluh-puluh tahun. Dua masalah itu adalah kemiskinan dan SDM yang rendah.
Tidak dapat diingkari lagi bahwa sebagian besar warga NTT memang tergolong miskin. Dari berbagai berita di media massa, kita dapat membuktikan hal itu. Penyakit busung lapar, kelangkaan pangan, dan masih begitu banyak kenyataan lainnya. Selain itu masalah SDM yang rendah juga menyelimuti sebagian besar warga NTT. Fakta bahwa jumlah angka putus sekolah di NTT masih begitu tinggi.
Dua hal ini pada dasarnya saling berkaitan. Masalah yang satu mempengaruhi masalah yang lain. Kemiskinan menyebabkan SDM warga NTT rendah; di sisi lain SDM yang rendah juga menyebabkan kemiskinan. Dua masalah ini mungkin agak tepat kalau dikatakan sebagai bagian dari lingkaran setan yang mungkin cukup sulit untuk diberantas.
Namun bukan sesuatu yang mustahil kalau calon pemimpin NTT khususnya dan warga NTT umumnya memiliki tekad yang kuat untuk bisa menyingkirkan hal ini.
Dengan kenyataan seperti itu, tentunya ada dua hal pokok yang seharusnya menjadi prioritas calon pemimpin di NTT. Pertama, memiliki tekad yang kuat untuk memberantas kemiskinan yang telah sekian lama menggerogoti warga NTT. Salah satu alternatif yang dapat dilakukan adalah memberikan porsi perhatian yang lebih besar dalam bidang pertanian. Mengapa? Tidak dapat diragukan lagi bahwa sebagian besar warga NTT bermata pencaharian sebagai petani. Sebagai mayoritas, sungguh lebih bijaksana kalau pemeritah atau para pemimpin memberikan porsi perhatian lebih besar daripada yang minoritas. Tidak berarti bahwa yang minoritas tidak perlu diperhatikan.
Memang dalam kenyataan bahwa selama ini pemerintah sudah memberikan bantuan atau program yang bisa membantu rakyat kecil. Namun, berbagai bantuan itu kemudian menjadi mubazir lantaran pemerintah tidak dengan sungguh-sungguh menaganinya. Salah satu contoh nyatanya adalah proyek ubi aldira di Kabupaten Manggarai Barat. Dalam begitu banyak kebijakan yang ada, pemerintah NTT belum sepenuhnya memikirkan secara komprehensif dan matang sebelum mengambil suatu kebijakan; ada kesan terburu-buru dan asal-asalan, atau bahkan mungkin sekali ada motivasi pribadi yang ingin “digolkan” dalam kebijakan itu.
Hal kedua yang harus dan terus dilakukan pemerintah atau siapa saja yang akan memimpin NTT adalah memberikan perhatian yang lebih besar terhadap persolan dan masalah pendidikan. Persolan pendidikan merupakan persoalan yang sungguh-sungguh kompleks di NTT. Mulai dari masalah kekurangan guru, bangunan yang tidak memadai, gaji guru yang masih rendah, kualitas guru yang masih dipertanyakan, dan masih banyak masalah lainnya yang kiranya tidak cukup kalau dibeberkan semuanya. Perlu dipahami bahwa dalam sebuah negara atau daerah berkembang, pendidikan merupakan faktor kunci yang harus mendapat perhatian utama. Pertanyaannya adalah apakah NTT termasuk daerah berkembang atau tidak? Ini menjadi pertanyaan reflektif bagi pemerintah NTT atau siapa saja yang merasa diri pantas memimpin NTT yang sekiranya harus segera ditemukan jawabannya dan alternatif pemecahannya.
Dua hal ini yang kiranya pantas menjadi prioritas jika ingin membangun NTT. Memang efek nyata dari kebijakan ini sifatnya tidak instant; semuanya butuh waktu dan proses. Tentu berbeda halnya jika para calon pemimpin NTT langsung memberikan uang (atau material lain) kepada masyarakat untuk meraup dukungan. Artinya money politics terjadi dalam pilkada NTT. Yang satu ini jelas hasilnya langsung terasa. Sekarang kita mau memilih yang mana? Itu tergantung kita semua. Momentum peringatan satu abad kebangkitan nasional kiranya menjadi momen yang tepat bagi masyarakat, pemimpin, dan bahkan calon pemimpin NTT untuk bersama-sama bertekad dan bersatu padu membangun NTT, tidak lagi memprioritaskan kepentingan pribadi dan demi keuntungan sesaat. Mari kita pikirkan bersama nasib NTT pada masa-masa mendatang.
(Cat: Penulis, lahir di Manggarai; SMP-SMA di Seminari Pius XII Kisol. Sekarang mahasiswa PBSI, FKIP, Universitas Sanata Dharma, Yogyakarta).
Tidak ada komentar:
Posting Komentar