Rabu, 05 November 2008

Ujian Akhir Sekolah Berstandar Nasional

UPAYA MENGATASI RENDAHNYA KELULUSAN UJIAN AKHIR SEKOLAH BERSTANDAR NASIONAL DI SEKOLAH DASAR
Oleh: Tian Sarwoyo

I. Pendahuluan
Salah satu tolok ukur keberhasilan atau kemajuan suatu negara adalah sumber daya manusia (SDM) yang berkualitas. Karena dijadikan sebagai tolok ukur itulah yang kemudian mendorong banyak negara untuk mengupayakan SDM yang berkualitas. Salah satu upaya utama dan yang paling penting adalah melalui jalur pendidikan; secara khusus jalur pendidikan formal.
Indonesia sebagai sebuah negara juga menjadikan pendidikan (formal) sebagai upaya yang diprioritaskan untuk membentuk SDM yang berkualitas seperti yang dimaksud. Indonesia memiliki keyakinan bahwa pendidikan yang berkualitas akan menjamin terbentuknya SDM yang berkualitas pula. Beranjak dari keyakinan itu pulalah yang mendorong pemerintah untuk serius menangani pendidikan di Indonesia yang salah satunya dengan mengawasi (mengendalikan) mutu atau kualitas pendidikannya termasuk peserta didik.
Demi mewujudkan keinginan agar peserta didik di Indonesia memiliki mutu atau kualitas yang bagus, pemerintah telah mendesain atau merancang suatu model evaluasi (yang berbentuk ujian akhir) bersama. Untuk siswa-siswa sekolah menengah (baik menengah pertama maupun menengah atas), standar kelulusannya (patokan keberhasilannya) telah ditetapkan secara nasional (berbentuk UAN); sedangkan untuk tingkat sekolah dasar (SD) pemerintah telah memformat suatu kebijakan baru, yang wujudnya Ujian Akhir Sekolah Berstandar Nasional (UASBN). Standar kelulusan dalam UASBN ini masih ditentukan oleh pihak sekolah sendiri.
Dalam dokumen sosialisasi UASBN (2008) yang dikeluarkan oleh Badan Standar Nasional Pendidikan (BSNP) tercantum tujuan UASBN sebagai berikut: pertama, menilai pencapaian kompetensi lulusan secara nasional pada mata pelajaran bahasa Indonesia, Matematika, dan Ilmu Pengetahuan Alam (IPA); dan kedua, mendorong tercapainya target wajib belajar pendidikan dasar yang bermutu. Selain dipaparkan tentang tujuan, dalam dokumen itu juga dibahas kegunaan hasil UASBN, yakni: (1) pemetaan mutu program dan/atau satuan pendidikan; (2) dasar seleksi masuk jenjang pendidikan berikutnya; (3) penentuan kelulusan peserta didik dari satuan pendidikan; dan (4) dasar pembinaan dan pembinaan dan pemberian bantuan kepada satuan pendidikan dalam upaya meningkatkan mutu pendidikan. Singkatnya semua itu dibuat dan dirancang oleh pemerintah demi tercapainya pendidikan yang berkualitas dan pada akhirnya adakan membentuk SDM yang handal.

II. Fakta
Di atas sudah dijelaskan bahwa semua bentuk program yang dibuat pemerintah di atas tidak lain memiliki tujuan utama agar pendidikan di Indonesia bermutu. Namun, perlu disadari bahwa untuk menggapai pendidikan yang bermutu atau berkualitas, ada banyak faktor yang ikut berpengaruh. Beberapa faktor yang dianggap paling penting adalah: (1) siswa, (2) guru, (3) orang tua, dan (4) sarana-prasarana. Apabila keempat hal ini, dari segi kuantitas dan kualitas terjamin, maka besar kemungkinan cita-cita atau keinginan untuk memperoleh pendidikan yang berkualitas dapat terwujud.
Dalam kenyataannya, begitu banyak sekolah di Indonesia yang jumlah gurunya masih sangat kurang. Selain jumlahnya kurang, mutu atau kualitas guru-guru yang ada pun masih tergolong rendah. Begitu pula dalam hal sarana dan prasarana. Dari media massa kita bisa mendengar dan melihat informasi atau berita tentang begitu banyak sekolah yang gedungnya rusak dan hancur; bahkan tidak jarang ada sekolah yang belum memiliki bangunan sendiri. Buku-buku dan perpustakaan yang tidak memadai dapat dengan mudah kita temukan di banyak sekolah.
Dari segi orang tua, masih banyak orang tua yang kurang memberikan perhatian lebih pada pendidikan anak-anaknya. Hal ini sangat dipengaruhi oleh latar belakang ekonomi orang tua siswa yang sebagian besar adalah masyarakat menengah ke bawah. Dengan kenyataan ini, tentunya banyak orang tua yang sebagian besar waktunya dipakai untuk bekerja mencari nafkah untuk menghidupi keluarga; pendidikan anak kemudian menjadi kurang diperhatikan. Efek lainnya adalah tidak dikontrolnya jam belajar anak di rumah. Berbagai masalah tersebut akan dengan sangat berpengaruh pada tinggi rendahnya kelulusan saat UASBN.
Di SDK Raka sendiri ada banyak masalah yang ditemukan yang memiliki pengaruh yang signifikan pada kelulusan para siswa saat UASBN. Masalah-masalah tersebut antara lain: (1) jumlah guru yang masih kurang, (2) sebagian besar orang tua siswa adalah petani, sehingga kurang adanya kontrol terhadap jam belajar anak di rumah, (3) sarana dan prasarana yang kurang memadai seperti buku-buku dan fasilitas perpustakaan yang masih kurang lengkap, dan (4) para siswa yang kurang memiliki minat baca.
Menghadapi pelbagai masalah itu, tentu bukan saatnya lagi bagi orang-orang yang berkecimpung, bergulat, dan bergelut dalam dunia pendidikan seperti guru, orang tua, dan siswa di SDK Raka untuk hanya tinggal diam dan berpangku tangan karena dengan begitu cita-cita atau keinginan untuk menggapai pendidikan yang bermutu (termasuk menghasilkan lulusan yang berkualitas) menjadi semakin jauh dari harapan. Tentunya dibutuhkan langkah-langkah yang sifatnya solutif dan tindakan nyata untuk menghadapi pelbagai tantangan itu.

III. Upaya untuk Mengatasi Rendahnya Kelulusan
Di atas sudah dipaparkan berbagai masalah yang menghambat tingginya (jumlah dan mutu/kualitas) lulusan, khususnya masalah-masalah yang dihadapi pihak SDK Raka. Menghadapi pelbagai masalah itu, hemat saya ada berbagai upaya atau solusi yang sangat penting dan mendesak untuk dilakukan agar cita-cita untuk mencapai jumlah dan mutu lulusan yang tinggi tercapai. Pelbagai upaya itu adalah sebagai berikut:
1. Meningkatkan jumlah dan kualitas guru
Kehadiran guru (pendidik) dalam suatu proses atau kegiatan belajar-mengajar merupakan suatu hal yang sangat diperlukan dan tidak bisa ditoleransi. Gurulah yang menjadi ujung tombak di sekolah formal. Hal ini mengingat fungsi guru sebagai seorang motivator dan fasilitator dalam proses pembelajaran. Sebagai seorang motivator dan fasilitator, guru harus kreatif dan mampu mendesain materi serta kegiatan pembelajaran yang merangsang anak untuk aktif dan berpikir kritis. Selain itu kehadiran guru di kelas juga akan mendukung upaya penciptaan makna serta suasana yang interaktif, baik antarsiswa sendiri maupun antara guru dengan para siswa.
Kemampuan untuk mendesain materi atau kegiatan pembelajaran belumlah dianggap cukup atau dianggap memadai karena jumlah guru di SDK Raka masih kurang. Jumlah guru yang kurang akan menyebabkan rasio perbandingan antara guru dengan siswa menjadi tidak seimbang (tidak normal); dan efek lanjutnya adalah pembimbingan yang dilakukan kepada para siswa pun menjadi kurang optimal. Dengan kenyataan itu kiranya pemerintah atau pihak-pihak yang terkait dengan urusan guru bisa menambah beberapa orang guru untuk melengkapi guru-guru yang sudah ada di SDK Raka.
2. Menambah persediaan buku-buku pelajaran
Supaya para siswa dapat berhasil (lulus) dalam UASBN tentunya mereka harus mempelajari berbagai materi yang sudah pernah mereka terima. Materi-materi itu secara lengkap tentunya ada di dalam buku-buku paket. Tetapi, bagaimana siswa bisa belajar dengan baik sementara buku-buku pelajaran yang ada di SDK Raka saja belum cukup. Dengan kenyataan itu usaha yang tidak kalah pentingnya adalah mengupayakan tersedianya buku-buku pelajaran (baik jumlah maupun jenisnya) yang dapat dipakai (dipinjam) oleh para siswa ketika mempersiapkan UASBN.
3. Menambah waktu belajar bagi siswa dan memperbanyak latihan
Di atas sudah dikemukakan bahwa sebagian besar orang tua siswa di SDK Raka adalah petani dan masyarakat yang secara ekonomi tergolong menengah ke bawah. Kenyataan itulah yang menyebabkan kemajuan belajar anak (para siswa) tidak dipantau oleh orang tua termasuk tidak diperhatikannya waktu untuk belajar. Dengan keadaan seperti ini, menjadi sesuatu yang amat penting untuk diupayakan di SDK Raka agar para siswa diwajibkan untuk menyisihkan sebagian waktunya di sore hari (misalanya selama 2 jam) untuk belajar bersama di sekolah (atau pun secara berkelompok) serta diisi dengan kegiatan latihan soal-soal. Kegiatan seperti ini pun tetap berada di bawah bimbingan dan pengawasan guru.
4. Mendorong para siswa untuk rajin membaca buku
Tidak bisa diingkari bahwa minat baca para peserta didik di Indonesia masih tergolong rendah. SDK Raka sebagai bagian dari negara Indonesia juga tidak luput dari persoalan ini. Menghadapi persoalan itu maka upaya yang dilakukan tidak lain adalah mendorong para siswa untuk rajin membaca. Adapun salah satu cara agar para siswa terdorong untuk membaca adalah dengan meminjamkan buku-buku kepada para siswa dan meminta agar para siswa wajib membaca buku-buku yang dipinjamnya. Setelah dibaca, para siswa harus mampu untuk mengemukakan kembali secara singkat apa inti pokok (isi) dari buku yang sudah ia baca itu.
5. Menyadarkan orang tua akan pentingnya memantau kemajuan belajar serta waktu belajar anaknya
Upaya ini dianggap penting karena disadari bahwa sebagian besar waktu para peserta didik adalah ada bersama orang tua. Selain itu orang tua dianggap sebagai pendidik yang pertama dan utama bagi anaknya. Jika orang tua tidak serius menangani dan memperhatikan kemajuan belajar anaknya, maka waktu yang banyak itu akan terbuang percuma. Upaya ini dapat disampaikan atau disosialisaikan kepada orang tua saat rapat para orang tua/wali siswa.

IV. Penutup
Kualitas atau kemajuan suatu negara amat dipengaruhi oleh SDM yang berkualitas. SDM yang berkualitas itu akan terbentuk melalui proses pendidikan, khususnya pendidikan formal. Salah satu kriteria keberhasilan sebuah proses pendidikan (formal) adalah seberapa tinggi (banyak) kelulusan para siswa (peserta didik) ketika mengikuti ujian (misalnya: UAN atau UASBN).
Tinggi rendahnya kelulusan amat dipengaruhi oleh banyak faktor. Beberapa faktor yang dianggap penting adalah guru, siswa, orang tua, dan sarana-prasarana. Kelulusan akan semakin baik (semakin tinggi) apabila jumlah dan kualitas guru terpenuhi, sarana dan prasarana (seperti: buku pelajaran dan perpustakaan) tersedia dengan lengkap, orang tua sungguh memperhatikan perkembangan atau kemajuan pendidikan anaknya, serta para peserta didik yang memiliki minat baca yang tinggi.

Tidak ada komentar: