Senin, 03 November 2008

Kaum Muda dan Daya Saing Bangsa

KEPEMIMPINAN DAN KETELADANAN:
Sumbangan Kaum Muda Terhadap Upaya
Peningkatan Daya Saing Bangsa


Ventianus Sarwoyo
PBSI, Universitas Sanata Dharma


I. Pendahuluan
Tidak bisa disangkal lagi bahwa memang saat ini, negara-negara di dunia telah memasuki suatu abad yang dikenal oleh banyak orang sebagai abad globalisasi. Abad globalisasi ini telah mengakibatkan runtuhnya sekat-sekat antarnegara. Runtuhnya sekat antarnegara inilah yang kemudian mengakibatkan timbulnya interaksi yang cukup bebas antara suatu negara dengan negara yang lain. Tidak sebatas interaksi saja, akibat lain adalah adanya suatu kebebasan bagi suatu negara untuk memasarkan hasil produk negaranya ke suatu negara yang lain. Dampak lanjut dari hal ini adalah adanya sikap saling bersaing antara suatu negara dengan negara lain.
Hal itu memang tidak bisa dimungkiri lagi. Itulah yang terjadi saat ini. Setiap negara berusaha mengerahkan segala potensi yang ada agar bisa bersaing di era pasar bebas itu dan agar tetap eksis. Begitu pulalah yang dialami dan sedang terjadi di Indonesia. Indonesia sebagai sebuah negara tentunya pula harus siap dan segera mengerahkan potensinya untuk dapat bersaing dengan negara lain.
Dalam upaya untuk bersaing dengan negara lain itu, siapa-siapa saja yang berperanaan di dalamnya? Yang pasti bahwa seluruh elemen masyarakat Indonesia harus ikut ambil bagian dalam usaha tersebut. Nah, kaum muda sebagai bagian dari masyarakat Indonesia, mampu berbuat apa berhadapan dengan situasi seperti itu? Pertanyaan inilah yang menjadi dasar pijak penulisan makalah ini. Jadi, makalah ini berusaha menguraikan pendapat penulis tentang apa dan bagaimana peran pemuda dalam upaya peningkatan daya saing bangsa Indonesia dengan bangsa lain?

II. Peran Kaum Muda
Mantan presiden RI, Soekarno pernah mengatakan “Beri aku tiga orang pemuda, maka aku akan mengubah dunia” (Bdk. http://djandjan.com/blog/?p=44). Pernyataan ini kelihatan sederhana tetapi sebenarnya mengandung makna yang begitu dalam terhadap peran kaum muda. Secara implisit pernyataan ini menggambarkan tentang peran kaum muda yang begitu sentral di negara atau dunia ini. Kaum muda diyakini sebagai orang yang mampu membawa perubahan. Hal ini sebenarnya didasari pada kenyataan bahwa kaum muda merupakan generasi penerus bangsa. Begitu banyak orang yang yakin bahwa kaum mudalah yang bisa menyelamatkan dunia ini.
Senada dengan apa yang diungkapkan Soekarno di atas, Hery Santosa (2005: 210) juga pernah mengungkapkan bahwa gerakan pemuda merupakan penentu sejarah zaman. Perjalanan sejarah bangsa Indonesia telah membuktikan dan menunjukkan peran kaum muda yang begitu besar. Hal itu dapat kita lihat dari berbagai peristiwa penting dan berharga di negeri ini yang dipelopori oleh kaum muda.

2.1 Fakta Masa Lampau Tentang Peran Pemuda
Generasi muda adalah penentu perjalanan bangsa di masa berikutnya. Mahasiswa sebagai inti dari generasi muda, mempunyai kelebihan dalam pemikiran ilmiah, selain semangat mudanya, sifat kritisnya, kematangan logikanya, dan “kebersihan”nya dari noda orde masanya. Mahasiswa adalah motor penggerak utama perubahan. Mahasiswa diakui perannya sebagai kekuatan pendobrak kebekuan dan kejemuan masyarakat.
Sejarah bangsa Indonesia telah menunjukkan dan membuktikan bahwa pemuda Indonesia memang senantiasa jadi pelopor atau pemimpin bangsanya dalam berbagai tahap perjuangan. Kebangkitan Nasional tahun 1908 dipelopori oleh orang-orang muda, Sumpah Pemuda tahun 1928, yang telah merekat bangsa ini menjadi bangsa yang satu jelas adalah karya para pemuda kita. Proklamasi 1945 dan perjuangan mempertahankan kemerdekaan juga dipelopori oleh pemuda. Demikian pula saat rakyat Indonesia berusaha menyingkirkan rezim orde baru, pemuda tetaplah menjadi yang terdepan (Bdk. www. ginandjar.com).
Tidak beda jauh dengan apa yang dikemukakan di atas, Fanar Syukri (dalam
http://www.ppi-jepang.org/print.php?id=1) juga memaparkan tentang peran pemuda atau mahasiswa dalam lima gelombang nasionalisme di Indonesia, yang berulang hampir dua puluh tahun sekali, yaitu:
a. Nasionalisme Gelombang Pertama: Kebangkitan Nasional 1908
Dalam sejarah dikemukakan bahwa gerakan kebangkitan nasional Indonesia pada dasarnya diawali oleh organisasi Boedi Oetomo pada tahun 1908 dengan dimotori oleh para mahasiswa kedokteran Stovia, tempat sekolah anak priyayi Jawa, di sekolah yang disediakan Belanda di Djakarta.

b. Nasionalisme Gelombang Kedua: Sumpah Pemuda 1928
Dua puluh tahun setelah kebangkitan nasional, ternyata para pemuda tetap tidak mau tinggal diam. Mereka tetap berjuang dan berusaha dengan caranya masing-masing untuk memperjuangkan nasib bangsa Indonesia, sehingga sampai saatnya pada 28 Oktober 1928 mereka (para pemuda) yang merupakan gabungan Jong Java, Jong Celebes, Jong Sumatera, dan sebagainya bersatu dan berani mengucapkan sumpah yang kita kenal sebagai Sumpah Pemuda yang di dalamnya dinyatakan tentang kesadaran kaum muda untuk menyatukan negara, bangsa, dan bahasa ke dalam satu negara, bangsa, dan bahasa yaitu Indonesia.

c. Nasionalisme Gelombang Ketiga: Kemerdekaan 1945
Kurang dari 20 tahun (yaitu 17 tahun) setelah peristiwa Sumpah Pemuda, di negara kita terjadi lagi sebuah peristiwa sejarah yang sangat besar dan banyak dikenang orang. Peristiwa itu adalah peristiwa kemerdekaan. Pada peristiwa ini pun, kaum muda memiliki perannya tersendiri. Kalau kita dengan teliti membaca dalam buku-buku sejarah, akan kita temukan informasi yang berisi tentang penyingkiran Soekarno dan Hatta oleh para pemuda menuju ke Rengasdengklok. Penyingkiran itu, oleh para pemuda dimanfaatkan benar-benar untuk mendorong dan memaksa Soekarno dan Hatta untuk segera memproklamasikan kemerdekaan RI.

d. Nasionalisme Gelombang Keempat: Lahirya Orde Baru 1966
Dua puluh tahun setelah peristiwa kemerdekaan, di negara RI terjadi lagi sebuah peristiwa besar yaitu terjadinya pemberontakan G30S. Di sini pun pemuda atau mahasiswa memiliki peran. Tanpa peran besar mahasiswa dan organisasi pemuda serta organisasi sosial kemasyarakatan di tahun 1966, Soeharto dan para tentara tidak mungkin bisa merebut kekuasaan dari penguasa orde lama.

e. Nasionalisme Gelombang Kelima: Lahirnya Orde Reformasi 1998
Berbeda dengan nasionalisme-nasionalime gelombang sebelumnya yang berselang sekitar 20 tahun, nasionalisme gelombang kelima ini memiliki rentang waktu yang cukup panjang (lebih dari 20 tahun, bahkan mencapai 32 tahun) dari nasionalisme gelombang sebelumnya (yaitu nasionalisme gelombang keempat). Hal ini tidak lain karena kuatnya rezim orde baru mempertahankan kekuasaannya dengan berbagai cara dan tindakan. Namun, meskipun rezim orde baru semakin gigih melanggengkan kekuasaannya, ternyata tekanan pemuda dan mahasiswa masih lebih kuat dan tidak bisa dibendung lagi sehingga pada Mei 1998, rezim orde baru “runtuh”, dengan lengsernya penguasa utama Soeharto dari kursi kepresidenan.
Sebagian besar warga Indonesia mengetahui apa yang terjadi pada Mei 1998 itu dan juga mengetahui apa dan bagaimana peran mahasiswa dalam peristiwa itu. Peristiwa runtuhnya rezim orde baru ini tentunya tidak bisa dipisahkan dari usaha dan perjuangan para mahasiswa dan pemuda. Jadi, saat itu pun ternyata pemuda atau mahasiswa juga memegang peran utama atau peran kunci.

2.2 Peran Pemuda Saat Ini
Dari pembahasan di atas, kita telah mengetahui apa dan bagaimana sebenarnya peran kaum muda pada masa lampau (pada masa penjajahan sampai dengan runtuhnya orde baru). Ternyata para pemuda memegang peranaan yang utama dan sentral. Pemuda selalu menjadi pelopor atau pemimpin terhadap berbagai pergerakan nasional. Yang menjadi pertanyaan selanjutnya adalah apakah peran kaum muda yang selalu menjadi pelopor atau pemimpin (seperti yang tampak pada masa penjajahan sampai dengan runtuhnya orde baru) masih tampak pada masa sekarang ini?
Dalam sebuah tulisannya yang berjudul “Semangat Pemuda Meredup”, B. E. Satrio menyimpulkan bahwa pada dasarnya peran kaum muda dalam kehidupan bernegara saat ini kian meredup. Kesimpulan B. E. Satrio ini didasarkan pada hasil jajak pendapat yang dilakukan Litbang Kompas pada 16-17 Oktober 2006. Jajak pendapat ini mengambil responden yang berusia minimal 17 tahun sebanyak 886 orang yang dipilih secara acak menggunakan metode pencuplikan sistematis dari buku telepon terbaru. Responden berdomisili di 32 propinsi dengan jumlah responden di setiap kota ditentukan secara proposional (Bdk. http://www.kompas.com/kompas‑cetak/0610/30/Politikhukum/3055911.htm.)
Dari jajak pendapat ini, ada berbagai tanggapan dari responden, antara lain: pertama, 38,8 % responden memberikan apresiasi positif terhadap peran pemuda dalam memperbaiki kerukunan antaretnis, sementara lebih dari separuh (52,7 %) responden lainnya mengatakan sebaliknya bahwa peran pemuda selama ini justru memperburuk keadaan. Kedua, 44,1 % responden menilai positif peran generasi muda dalam memperbaiki kerukunan antarkelompok, seperti antarpendukung partai atau tokoh politik tertentu, sementara 48,4 % responden lainnya menilai bahwa peran generasi muda selama ini justru memperburuk kerukunan antarkelompok politik dalam masyarakat.
Ketiga, tidak kurang dari 51,6 % responden menilai generasi muda saat ini sudah bersikap kritis terhadap persoalan bangsa yang menyangkut konflik di masyarakat, sementara sebagian yang lain (44,8 %) memberikan penilaian sebaliknya. Keempat, 36,8 % responden mengapresiasi positif keterlibatan pemuda dalam masalah sosial dan kesejahteraan rakyat, sementara lebih dari separuh (60,5 %) responden tidak puas dengan kiprah kaum muda di bidang sosial ini. Kelima, 32,6 % responden puas dengan keterlibatan langsung pemuda dalam persoalan politik, sementara 64 % belum puas.
Keenam, tidak kurang dari 58,8 % responden menyetujui bahwa kaum muda saat ini lebih mementingkan diri sendiri daripada masyarakat, sementara 37,7 % yang lain menolak anggapan itu. Ketujuh, tidak kurang dari 65,8 % responden setuju dengan anggapan bahwa generasi muda saat ini cenderung bersikap konsumtif daripada produktif.
Dari berbagai data yang diperoleh dari hasil jajak pendapat yang dilakukan Kompas di atas kiranya tidak sulit bagi kita untuk menyimpulkan bahwa memang sikap keteladanan dan kepeloporan atau kepemimpinan kaum muda seperti yang tampak pada masa penjajahan sampai orde baru tidak tampak lagi pada masa sekarang ini. Justru sebaliknyalah yang dilakukan oleh kaum muda. Kaum muda kita justru telah menjadi semakin egois, konsumtif, tidak peduli, dan lain sebagainya. Lalu pertanyaan selanjutnya adalah apakah dengan keadaan atau kondisi seperti itu, pemuda masih bisa memberikan sumbangan atau berperan dalam upaya peningkatan daya saing bangsa ini dengan bangsa-bangsa lain?

2.3 Apa yang Perlu Dilakukan Pemuda Sekarang?
Menghadapi berbagai situasi seperti yang telah dipaparkan Satrio di atas, kiranya sudah saat bagi pemuda untuk berubah dan berintrospeksi diri. Sudah waktunya bagi kaum muda untuk tidak lagi menutup mata terhadap berbagai persoalan bangsa ini. Kaum muda hendaknya bersatu padu untuk menyelamatkan bangsa yang masih terbelakang dan sudah diambang kehancuran ini. Sebagai bagian dari bangsa Indonesia dan sebagai generasi penerus bangsa, pemuda sudah saatnya harus sadar dan segera mengambil sikap dan tindakan untuk menunjukkan dan membuktikan kepada bangsa Indonesia bahwa memang kaum muda ada dan merupakan agen perubahan.
Hemat penulis, ada dua hal utama yang harus dimiliki pemuda atau kaum muda saat ini untuk bisa memberikan andil yang besar dalam upaya meningkatkan daya saing bangsa ini dengan bangsa-bangsa lain. Kedua hal itu adalah: pertama, kaum muda harus mampu memimpin, dan kedua, kaum muda harus mampu memberikan teladan. Sifat-sifat seperti inilah yang dibutuhkan oleh kaum muda pada masa sekarang ini karena memang tugas itu cocok untuk kaum muda yang memang diyakini sebagai generasi penerus dan bahkan dikenal sebagai agent of change.
Mengapa diperlukan kaum muda yang harus mampu memimpin? Fakta sejarah bangsa Indonesia telah membuktikan bahwa kaum muda selalu menjadi pelopor atau pemimpin dalam berbagai pergerakan nasional namun saat ini sikap kepeloporan atau kepemimpinan kaum muda itu sudah tidak tampak lagi. Karena itu sudah saatnya sikap kepeloporan atau kepemimpinan itu ditumbuhkembangkan kembali apalagi dengan kondisi pemimpin bangsa kita saat ini yang tidak lagi benar-benar memimpin tetapi malah menuntun bangsa ini ke jurang kehancuran yang salah satunya dengan praktik korupsi. Padahal kita tahu bahwa masalah yang paling besar dan paling banyak dihadapi bangsa ini yang membuat bangsa ini selalu terbelakang dan tidak bisa bersaing dengan bangsa-bangsa lain adalah masalah korupsi.
Berkaitan dengan kepemimpinan atau kepeloporan kaum muda, Kartasasmita mengemukakan bahwa ada tiga aspek penting yang perlu diperhatikan, yaitu membangun semangat, kemampuan, dan pengamalan (www.ginandjar.com). Kepeloporan atau kepemimpinan jelas menunjukkan sikap berdiri di muka, merintis, membuka jalan, dan sesuatu untuk diikuti, dilanjutkan, dikembangkan, dipikirkan oleh orang lain. Dalam kepeloporan ada unsur menghadapi resiko. Kesanggupan untuk memikul resiko ini menjadi sangat penting dalam setiap perjuangan. Dalam zaman modern seperti sekarang ini, kehidupan manusia mejadi semakin kompleks sehingga resiko yang timbul pun kian kompleks. Meminjam istilah Giddens “modernity is a risk culture” (www.ginandjar.com). Untuk menghadapi berbagai resiko itu, sangatlah diperlukan sikap tangguh baik mental maupun fisik dari para pemuda. Tidak semua orang dapat dan berani mengambil jalan yang penuh resiko. Kepemimpinan bisa berada di mana saja, entah itu di depan, di tengah, atau pun di belakang, seperti ungkapan “ing ngarso sung tulodo, ing madyo mangun karso, dan tut wuri handayani”.
Tidak hanya sikap kepeloporan atau kepemimpinan, sikap lain yang harus ditunjukkan pemuda adalah mampu memberikan teladan yang baik. Sikap keteladanan harus dimiliki pemuda mengingat saat ini, bangsa ini telah kehilangan pemimpin, tokoh, dan sosok yang bisa diteladani. Pemimpin bangsa ini sekarang lebih banyak mementingkan kesejahteraan pribadi, korupsi, hanya mengumbar janji untuk meraup dukungan, melakukan politik uang, dan masih begitu banyak tindakan negatif lainnya. Sudah begitu banyak warga masyarakat yang mulai kehilangan kepercayaan terhadap pemimpin (pemerintah) kita saat ini. Di tengah keadaan seperti itu, kiranya kehadiran tokoh kaum muda yang bisa diteladani banyak orang (masyarakat) sungguh relevan dan sangat penting. Keteladanan yang dimaksud jelas berkaitan dengan sikap atau perilaku yang diidealkan atau dicita-citakan banyak orang (warga masyarakat).

III. Penutup
Tidak bisa disangkal lagi bahwa era globalisasi telah merambah ke berbagai belahan dunia. Globalisasi ini telah membuat setiap negara bersaing untuk tetap eksis. Begitu pulalah yang dialami oleh Indonesia sebagai sebuah negara. Untuk bisa bersaing, semua elemen masyarakat Indonesia tentunya harus ikut berperan. Kaum muda sebagai bagian dari masyarakat Indonesia tentunya dituntut untuk memiliki peran tersendiri. Ada dua peran pokok atau utama yang harus dimiliki oleh kaum muda dalam upaya memberikan sumbangan terhadap upaya meningkatkan daya saing bangsa Indonesia dengan bangsa lain. Kedua peran itu adalah pertama, kaum muda harus mampu memimpin, dan kedua, kaum muda harus bisa memberikan teladan yang baik kepada masyarakat Indonesia.


DAFTAR PUSTAKA


Bharuna, Bayu. “Insan Alam yang Menjenguk Gurunya” dalam
http://djandjan.com/blog/?p=44. Diakses 24 Sepetember 2007.

Kartasasmita, Ginandjar. 1997. “Kepeloporan dan Kepemimpinan: Peran Pokok Pemuda Dalam Pembangunan” dalam www. ginandjar.com. Diakses 20 September 2007.

Santosa, Hery. 2005. “Gerakan Pemuda, Penentu Sejarah Zaman” dalam Pedoman Insadha 2005. Yogyakarta: Universitas Sanata Dharma.

Satrio, B.E. 2006. “Semangat Pemuda Meredup” dalam
http://www.kompas.com/ kompas-cetak /0610/30/Politikhukum/3055911.htm. Diakses 17 September 2007.

Syukri, fanar. 2003. “Peran pemuda dalam 20 Tahunan Siklus Nasionalisme Indonesia (Refleksi 75 tahun Soempah Pemoeda, 1928-2003)” dalam
http://www.ppi-jepang.org/print.php?id=1. Diakses 27 September 2007.


Tidak ada komentar: