Rabu, 05 November 2008

Refleksiku Sewaktu PPL Jurnalistik

Terbuka terhadap Kritik: Jalan Menuju Kesuksesan

(Tian Sarwoyo)

Semua orang di dunia ini pasti menginginkan kesuksesan dalam hidupnya. Untuk mencapai kesuksesan itu, orang kemudian berusaha dengan cara atau gayanya masing-masing. Cara atau gaya yang akan ditempuh seseorang tentu lebih dipengaruhi oleh kesuksesan macam apa yang dia ingini. Hal ini didasarkan pada kenyataan bahwa ada beragam tolok ukur seseorang dinyatakan sukses.
Salah satu jalan untuk mencapai kesuksesan adalah melalui jalur pendidikan. Ada begitu banyak orang yang memilih jalur ini. Lewat jalur ini, orang merasa perlu terlebih dahulu dibekali dengan berbagai pengetahuan dan keterampilan sebelum terjun ke dunia kerja. Dengan kata lain, begitu banyak orang yang merasa perlu untuk memiliki kompetensi tertentu agar menjadi seseorang yang sukses.
Kompetensi memiliki arti yang sama dengan kemampuan. Seseorang dikatakan berkompetensi apabila orang tersebut mengetahui sesuatu dan pengetahuan itu bisa diwujudnyatakan dalam kehidupan nyata (di lapangan). Jadi, seseorang tidak bisa dikatakan berkompeten apabila orang itu hanya mengetahui banyak hal tentang sesuatu tetapi tidak bisa menerapkan apa yang ia ketahui itu dalam kehidupan yang nyata. Kompetensi benar-benar terbukti apabila didukung performansi.
Usaha untuk mencapai kompetensi itulah yang kami alami lewat ber-PPL Jurnalistik di majalah PRABA. Kami merasa bahwa agar kami menjadi lebih berkompeten dalam bidang jurnalistik, tidak cukup bagi kami kalau hanya mempelajari teori. Kami pun akhirnya memberanikan diri untuk mencoba mempraktikkan teori-teori yang kami dapat itu di lapangan, yang dalam hal ini di majalah dua mingguan PRABA.
Dengan bermodalkan keberanian dan niat yang sungguh dari kami untuk mencoba mengimplementasikan toeri yang telah diterima, akhirnya pada 19 Maret 2008 kami secara resmi berpraktik di PRABA. Peresmian itu ditandai dengan penyerahan sembilan mahasiswa oleh Prodi PBSID, USD yang diwakili oleh Drs. G. Sukadi. Pihak PRABA pun yang diwakili Mt. B. Suryowidagdo, selaku pemimpin umum dengan senang hati menerima beberapa mahasiswa yang memang berniat untuk ber-PPL di sana.
Bagi saya, pengalaman ber-PPL ini merupakan sebuah pengalaman yang sangat indah dan bernilai. Dengan kegiatan ini, saya kemudian berusaha untuk menekuni dunia jurnalistik dengan sungguh-sungguh, meskipun saya sendiri bukanlah sungguh-sungguh jurnalis. Kegiatan PPL ini membuat saya mau dan mampu bergelut dan bergulat dengan berbagai hal yang ada hubungannya dengan jurnalistik.
Begitu banyak hal yang saya alami, baik suka maupun duka. Tetapi semua hal itu saya sadari dan yakini akan menjadikan saya seorang pribadi yang mendekati atau bahkan mungkin mencapai “kepenuhan”. Lewat program ini, saya menjadi sungguh-sungguh berproses dan mengalami sendiri secara langsung apa dan bagaimana itu kegiatan jurnalistik.
PPL yang telah saya jalani di PRABA telah menyadarkan saya akan banyak hal, antara lain: pertama, mendengarkan dan menerima masukan dari orang lain itu penting. Mungkin hal ini yang menjadi hal utama dan terpenting bagi saya. Hal ini sungguh saya alami dalam program ini, baik ketika saya berproses dalam kelompok bersama sesama teman PPL maupun ketika saya berproses dengan pihak PRABA, khususnya yang mendampingi kami dalam PPL ini. Dengan berbagai masukan itu, saya menjadi sadar bahwa ternyata begitu banyak hal yang mungkin saya anggap baik, ternyata menurut orang lain itu tidak baik; ada hal yang saya anggap sudah “utuh” dan sempurna saya lakukan, ternyata di mata orang lain hal itu belumlah apa-apa; dan masih begitu banyak hal lainnya. Dalam kenyataan seperti inilah, saya menjadi lebih terbuka dan lebih menyadarkan diri bahwa ternyata aku belumlah apa-apa dan bukanlah siapa-siapa di mata orang lain.
Kedua, pentingnya menjalin kerja sama dan berhubungan dengan orang lain. Dalam PPL ini saya menjadi begitu sadar bahwa ternyata kerja sama dengan orang lain itu sangat penting. Manusia tidak ada yang sempurna. Setiap manusia ada kelebihan dan ada kekurangan. Dengan kelebihan dan kekurangan itulah, manusia kemudian berusaha untuk saling melengkapi satu sama lain. Kerja sama juga telah memungkinkan suatu pekerjaan yang berat dapat menjadi mudah dan cepat diselesaikan. Begitulah yang saya alami ketika kami ditugaskan dalam kelompok untuk meliput masalah Keistimewaan DIY.
Ketiga, sikap mengalah dan mengerti (memahami) keadaan orang lain itu penting dalam sebuah kerja tim (kelompok). Watak setiap orang dalam kelompok tidak selalu sama. Itu perlu dipahami dalam suatu kerja tim. Ada orang yang berwatak keras kepala, mau menang sendiri, dan lain-lain. Menghadapi kenyataan seperti itu, sikap mengalah dan memahami satu sama lain sungguh sangat penting. Mengalah bukan berarti kalah.
Keempat, teori tidak selamanya sama dengan kenyataan yang terjadi di lapangan. Hal ini pula yang saya alami saat ber-PPL di PRABA. Saya menjadi begitu sadar bahwa saya harus menjadi fleksibel, tidak kaku dalam menghadapi suatu situasi atau keadaan yang “asing” atau baru. Semuanya harus dihadapi. Itulah bagian dari proses menuju suatu “kepenuhan”.
Masih begitu banyak hal baik suka maupun duka yang saya dapatkan lewat ber-PPL di PRABA ini. Semua hal yang saya alami itu, sudah sepatutnya saya syukuri karena semuanya akan mengantarkan saya mendekati atau bahkan mencapai sebuah ‘kepenuhan”. Puji syukur dan terima kasih kepada Sang Pemberi Hidup karena saya boleh mengalami dan merasakan begitu banyak pengalaman yang indah dan menarik. Terima kasih juga kepada Program Studi PBSID, USD yang memberikan kesempatan seluas-luasnya kepada saya dan menciptakan situasi dan kondisi yang memungkinkan saya untuk boleh mengalami kegiatan jurnalisitik secara langsung. Terima kasih yang tak terhingga kepada PRABA yang telah menerima dan “mendewasakan” saya dalam berjurnalistik. Sungguh berbagai pengalaman berharga, telah saya dapatkan dari berbagai proses yang telah dijalani di PRABA.
Ungkapan permohonan maaf juga selayaknya kami haturkan kepada pihak PRABA. Kami sungguh menyadari bahwa begitu banyak hal yang kami buat yang ternyata tidak sesuai dengan harapan pihak PRABA, baik dalam menjalankan tugas jurnalistik maupun dalam bertutur kata dan membawa diri di PRABA. Untuk itu semua, kami mohon maaf. Kiranya perlu disadari dan dipahami bersama bahwa di dunia ini tidak ada yang sempurna. Terima kasih.

Tidak ada komentar: