BERPIKIR DAN BERBUAT
Ventianus Sarwoyo
Beberapa waktu yang lalu ketika SMA-SMA di Yogyakarta sibuk melaksanakan MOS, penulis menemukan suatu rumusan tema MOS yang sangat menarik di sebuah sekolah swasta. Bunyinya “Berpikir dan Berbuat”. Sebuah tema yang hemat penulis sarat makna. Salah satu makna yang implisit tersampaikan dalam tema ini adalah adanya pengakuan akan kebebasan pada diri seorang pemuda, yakni bebas untuk berpikir kemudian berbuat (melakukan aksi). Pemuda yang diyakini sebagai generasi penerus diakui memiliki suatu kekuatan yang bisa mengubah kehidupan bangsa ini.
Pengakuan akan keberadaan dan kekuatan yang dimiliki kaum muda juga sempat terlontar dalam sebuah pidato Presiden RI yang pertama, yakni Soekarno yang berbunyi “Beri aku tiga orang pemuda, maka aku akan mengubah dunia”. Pernyataan ini kelihatan sederhana tetapi sebenarnya mengandung makna yang begitu dalam terhadap peran kaum muda. Secara implisit pernyataan ini menggambarkan tentang peran kaum muda yang begitu sentral di negara atau dunia ini. Kaum muda diyakini sebagai orang yang mampu membawa perubahan. Hal ini sebenarnya didasari pada kenyataan bahwa kaum muda merupakan generasi penerus bangsa.
Begitu banyak orang yang yakin bahwa kaum mudalah yang bisa menyelamatkan dunia ini. Bahkan sejumlah tokoh terkemuka dunia dan bangsa ini dengan tegas mengungkapkan bahwa gerakan pemuda merupakan penentu sejarah zaman. Perjalanan sejarah bangsa Indonesia telah membuktikan dan menunjukkan peran kaum muda yang begitu besar. Hal itu dapat kita lihat dari berbagai peristiwa penting dan berharga di negeri ini yang dipelopori oleh kaum muda.
Sejarah bangsa Indonesia telah menunjukkan dan membuktikan bahwa pemuda Indonesia memang senantiasa jadi pelopor atau pemimpin bangsanya dalam berbagai tahap perjuangan. Kebangkitan Nasional tahun 1908 dipelopori oleh orang-orang muda, Sumpah Pemuda tahun 1928, yang telah merekat bangsa ini menjadi bangsa yang satu jelas adalah karya para pemuda kita. Proklamasi 1945 dan perjuangan mempertahankan kemerdekaan juga dipelopori oleh pemuda. Demikian pula saat rakyat Indonesia berusaha menyingkirkan rezim orde baru, pemuda tetaplah menjadi yang terdepan
Mungkin terlupakan dari benak kita sehingga kita bertanya-tanya apa kontribusi kaum muda saat menjelang kemerdekaan RI. Sekedar mengingatkan kembali dan memperjelas bahwa sesaat sebelum proklamasi kemedekaan RI, para pemuda berusaha menyingkirkan Soekarno dan Hatta ke Rengasdengklok. Di sana Soekarno dan Hatta dipaksa dan terus didorong oleh para pemuda agar secepatnya memproklamasikan kemerdekaan RI. Hal ini memang berangkat dari sikap menggebu-gebu (agar secepatnya memperoleh kemerdekaan) yang dialami pemuda, dan juga rasa ketakutan dalam diri mereka akan kembalinya para penjajah ke tanah air.
Menyaksikan berbagai hal besar yang dilakukan kaum muda beberapa waktu silam itu, tentu tidak salah kalau kita memunculkan sebuah pertanyaan reflektif. Apakah peran kaum muda yang selalu menjadi pelopor atau pemimpin (seperti yang tampak pada masa penjajahan sampai dengan runtuhnya orde baru) masih tampak pada masa sekarang ini? Menjawab pertanyaan ini memang tidak mudah; butuh data/fakta tentunya. Di bawah ini, penulis mencoba menghadirkan sebagian kecil data, yang diambil dari hasil jajak pendapat yang dilakukan Litbang Kompas pada 16-17 Oktober 2006. Semoga hasilnya dapat menjawab pertanyaan tersebut. Jajak pendapat ini mengambil responden yang berusia minimal 17 tahun sebanyak 886 orang yang dipilih secara acak menggunakan metode pencuplikan sistematis dari buku telepon terbaru. Responden berdomisili di 32
propinsi dengan jumlah responden di setiap kota ditentukan secara proposional.
Dari jajak pendapat ini, ada berbagai tanggapan dari responden, antara lain: pertama, 38,8 % responden memberikan apresiasi positif terhadap peran pemuda dalam memperbaiki kerukunan antaretnis, sementara lebih dari separuh (52,7 %) responden lainnya mengatakan sebaliknya bahwa peran pemuda selama ini justru memperburuk keadaan. Kedua, 44,1 % responden menilai positif peran generasi muda dalam memperbaiki kerukunan antarkelompok, seperti antarpendukung partai atau tokoh politik tertentu, sementara 48,4 % responden lainnya menilai bahwa peran generasi muda selama ini justru memperburuk kerukunan antarkelompok politik dalam masyarakat.
Ketiga, tidak kurang dari 51,6 % responden menilai generasi muda saat ini sudah bersikap kritis terhadap persoalan bangsa yang menyangkut konflik di masyarakat, sementara sebagian yang lain (44,8 %) memberikan penilaian sebaliknya. Keempat, 36,8 % responden mengapresiasi positif keterlibatan pemuda dalam masalah sosial dan kesejahteraan rakyat, sementara lebih dari separuh (60,5 %) responden tidak puas dengan kiprah kaum muda di bidang sosial ini. Kelima, 32,6 % responden puas dengan keterlibatan langsung pemuda dalam persoalan politik, sementara 64 % belum puas.
Keenam, tidak kurang dari 58,8 % responden menyetujui bahwa kaum muda saat ini lebih mementingkan diri sendiri daripada masyarakat, sementara 37,7 % yang lain menolak anggapan itu. Ketujuh, tidak kurang dari 65,8 % responden setuju dengan anggapan bahwa generasi muda saat ini cenderung bersikap konsumtif daripada produktif.
Dari data di atas tentunya tidak sulit bagi kita untuk bisa menyimpulkan bagaimana penilaian masyarakat luas tentang peran kaum muda di masa sekarang. Di mata masyarakat umum, kaum muda kita zaman ini dinilai justru telah menjadi semakin egois, konsumtif, tidak peduli, dan lain sebagainya. Dengan keadaan seperti itu, apa yang dapat diandalkan bangsa ini pada masa yang akan datang jika generasi penerusnya saja seperti itu? Tidak ada upaya lain selain harus berubah dan berintrospeksi diri. Sudah waktunya bagi kaum muda untuk tidak lagi menutup mata terhadap berbagai persoalan bangsa ini. Kaum muda hendaknya bersatu padu untuk menyelamatkan bangsa yang masih terbelakang dan sudah diambang kehancuran ini. Sebagai bagian dari bangsa Indonesia dan sebagai generasi penerus bangsa, pemuda sudah saatnya harus sadar dan segera mengambil sikap dan tindakan untuk menunjukkan dan membuktikan kepada bangsa Indonesia bahwa memang kaum muda ada dan merupakan agen perubahan.
Hemat penulis, ada dua hal utama yang harus dimiliki pemuda atau kaum muda saat ini untuk mengisi kemerdekaan dan agar bisa memberikan andil yang besar dalam upaya meningkatkan daya saing bangsa ini dengan bangsa-bangsa lain. Kedua hal itu adalah: pertama, kaum muda harus mampu memimpin, dan kedua, kaum muda harus mampu memberikan teladan. Sifat-sifat seperti inilah yang dibutuhkan oleh kaum muda pada masa sekarang ini karena memang tugas itu cocok untuk kaum muda yang memang diyakini sebagai generasi penerus dan bahkan dikenal sebagai agent of change.
Mengapa diperlukan kaum muda yang harus mampu memimpin? Fakta sejarah bangsa Indonesia telah membuktikan bahwa kaum muda selalu menjadi pelopor atau pemimpin dalam berbagai pergerakan nasional namun saat ini sikap kepeloporan atau kepemimpinan kaum muda itu sudah tidak tampak lagi. Karena itu sudah saatnya sikap kepeloporan atau kepemimpinan itu ditumbuhkembangkan kembali apalagi dengan kondisi pemimpin bangsa kita saat ini yang tidak lagi benar-benar memimpin tetapi malah menuntun bangsa ini ke jurang kehancuran yang salah satunya dengan praktik korupsi. Padahal masalah yang paling besar dan paling banyak dihadapi bangsa ini yang membuat bangsa ini selalu terbelakang dan tidak bisa bersaing dengan bangsa-bangsa lain adalah masalah korupsi.
Berkaitan dengan kepemimpinan atau kepeloporan kaum muda, Kartasasmita mengemukakan bahwa ada tiga aspek penting yang perlu diperhatikan, yaitu membangun semangat, kemampuan, dan pengamalan. Kepeloporan atau kepemimpinan jelas menunjukkan sikap berdiri di muka, merintis, membuka jalan, dan sesuatu untuk diikuti, dilanjutkan, dikembangkan, dipikirkan oleh orang lain. Dalam kepeloporan ada unsur menghadapi resiko. Kesanggupan untuk memikul resiko ini menjadi sangat penting dalam setiap perjuangan. Dalam zaman modern seperti sekarang ini, kehidupan manusia mejadi semakin kompleks sehingga resiko yang timbul pun kian kompleks. Meminjam istilah Giddens “modernity is a risk culture”. Untuk menghadapi berbagai resiko itu, sangatlah diperlukan sikap tangguh baik mental maupun fisik dari para pemuda. Tidak semua orang dapat dan berani mengambil jalan yang penuh resiko. Kepemimpinan bisa berada di mana saja, entah itu di depan, di tengah, atau pun di belakang, seperti ungkapan “ing ngarso sung tulodo, ing madyo mangun karso, dan tut wuri handayani”.
Tidak hanya sikap kepeloporan atau kepemimpinan, sikap lain yang harus ditunjukkan pemuda adalah mampu memberikan teladan yang baik. Sikap keteladanan harus dimiliki pemuda mengingat saat ini, bangsa ini telah kehilangan pemimpin, tokoh, dan sosok yang bisa diteladani. Pemimpin bangsa ini sekarang lebih banyak mementingkan kesejahteraan pribadi, korupsi, hanya mengumbar janji untuk meraup dukungan, melakukan politik uang, dan masih begitu banyak tindakan negatif lainnya. Sudah begitu banyak warga masyarakat yang mulai kehilangan kepercayaan terhadap pemimpin (pemerintah) kita saat ini. Di tengah keadaan seperti itu, kiranya kehadiran tokoh muda yang bisa diteladani banyak orang (masyarakat) sungguh relevan dan sangat penting. Keteladanan yang dimaksud jelas berkaitan dengan sikap atau perilaku yang diidealkan atau dicita-citakan banyak orang (warga masyarakat).
(Penulis: Mahasiswa PBSI, FKIP, Universitas Sanata Dharma)
Tidak ada komentar:
Posting Komentar