Rabu, 29 Oktober 2008

Resensi Buku Sastra

MENGGALI SISI-SISI SEJARAH YANG TERLUPAKAN

Judul : Pergolakan Daerah
Penulis : Soewardi Idris
Penerbit : Beranda
Tahun : 2008
Halaman : xxiii + 320


Pergolakan Daerah merupakan sebuah buku kumpulan (antologi) cerpen yang ditulis seorang wartawan, sastrawan, dan budayawan terkemuka Indonesia yang berasal dari Sumatera Barat. Buku yang memuat 29 cerpen ini pada dasarnya memuat serangkaian kisah seputar pemberontakan PRRI. Ke-29 cerpen yang ada dalam antologi ini dikelompok-kelompokan penulis dalam tiga bagian. Bagian pertama diberinya judul Di Luar Dugaan yang memuat delapan cerpen. Bagian yang kedua diberinya judul Istri Seorang Sahabat yang berisi delapan cerpen. Sedangkan bagian ketiga, oleh Idris diberi judul Lagu Tak Bersyair yang memuat 13 cerpen.
Lewat antologi cerpen ini, penulis sesungguhnya memberikan sumbangan yang sangat besar bagi catatan perkembangan sejarah kehidupan bangsa kita. Hal-hal yang diungkapkan penulis sesungguhnya belum pernah diungkapkan penulis lain dan kalaupun ada, kadarnya tidak seperti yang diuraikan dalam buku ini. Buku ini menyodorkan kepada kita suatu pengetahuan untuk menyadarkan kita akan gerak dan dinamika bangsa ini ketika bergulirnya PRRI. Tidak banyak sastrawan yang menulis tentang hal ini, dan bisa dikatakan bahwa kisah mengenai PRRI ini terlupakan dari catatan-catatan sejarah kita.
Kisah pemberontakan PRRI tidak banyak ditulis dengan berbagai kemungkinan rasionalisasi. Pertama, bagi sekian banyak sastrawan, masalah itu bukan suatu yang menarik karena memang pemberontakan itu merupakan pemberontakan yang gagal. Kedua, minimnya ulasan tentang PRRI bisa juga karena “ketakutan”/kecemasan segelintir oang untuk mengupas persoalan tersebut secara detail. Atau ketiga, bisa juga terjadi, persoalan itu oleh banyak orang dianggap tabu untuk dibahas.
Berbagai kemungkinan rasionalisasi itu akhirnya menjadi ‘basi’ dengan keberanian seorang Idris untuk mengupas secara detail, rinci, dan mendalam akan peristiwa yang sesungguhnya terjadi sekitar 1958 itu. Lebih dari hanya sekadar keberanian, buku ini ditulis Idris berdasarkan kesaksiannya secara nyata saat ia terlibat dalam pemberontakan PRRI selama tiga tahun. Idris kemudian menuangkan pengalaman-pengalamannya itu dalam bentuk cerpen dan novel. Idris adalah wartawan pertama yang menulis berita pemberontakan itu.
Buku ini bisa tergolong sebuah antologi kisah sejarah tentunya karena semua ulasan dalam buku ini berdasar pada kisah seputar pemberontakan PRRI. Kekuatan buku ini tidak hanya semata-mata mengupas masalah sejarah yang terlupakan tetapi lebih dari itu buku ini merupakan sebuah kesaksian dan pengalaman penulis ketika terlibat dalam pemberontakan tersebut. Buku ini memiliki muatan informasi yang kaya bagi kita dalam usaha memahami secara utuh lika-liku pergulatan dan pergelutan bangsa Indonesia pascakemerdekaan.
Ulasan-ulasan yang menarik dan gaya bahasa yang polos dan khas dalam buku antologi cerpen ini membuat pembaca tidak bosan untuk memahami ceritanya satu per satu. Buku ini sangat cocok bagi mereka yang berminat dalam menggeluti secara mendalam dan utuh masalah sejarah nasional bangsa kita karena tidak banyak penulis yang telah secara mendalam dan detail mengupas masalah PRRI. Tidak hanya itu buku ini juga bisa dinikmati oleh masyarakat umum yang memiliki keinginan untuk mengetahui secara jelas dan pasti pergolakan politik yang dialami bangsa Indonesia sekitar 1958. Selamat membaca!


Penulis: Ventianus Sarwoyo
Mahasiswa PBSID, FKIP, Universitas Sanata Dharma

Tidak ada komentar: