Rabu, 29 Oktober 2008

Mewujudkan Learning Society Melalui Optimalisasi Peran dan Fungsi Perpustakaan

MEWUJUDKAN LEARNING SOCIETY
MELALUI
OPTIMALISASI FUNGSI DAN PERAN PERPUSTAKAAN

Ventianus Sarwoyo
Mahasiswa PBSID, FKIP, Universitas Sanata Dharma

Manusia adalah mahluk sosial (homo socius). Sebagai makhluk sosial, manusia tentunya selalu menjalin komunikasi atau berinteraksi dengan orang lain dan juga dengan lingkungan yang menyitarinya. Bentuk komunikasi yang pada umumnya kita kenal terdiri dari dua jenis, yakni komunikasi lisan dan komunikasi tulis. Kedua bentuk komunikasi ini sesungguhnya memiliki inti yang sama yakni adanya pertukaran informasi atau adanya pertukaran pesan antara komunikator dan komunikan.
Kedua bentuk komunikasi di atas senantiasa mengalami perkembangan dari waktu ke waktu seiring dengan perkembangan zaman, khususnya perkembangan dalam bidang teknologi. Apabila pada zaman dahulu kedua bentuk komunikasi itu sifatnya masih sederhana dan tradisional, maka sekarang (di zaman yang disebut banyak orang sebagai era global) bentuk komunikasi itu menjadi semakin modern dan canggih. Hal ini memang tidak dapat kita sangkal. Kemunculan telepon, handphone, internet, dan lain-lainnya telah memperpendek jarak dan waktu bagi manusia untuk berkomunikasi dengan orang lain. Terasa pendeknya jarak dan waktu inilah, yang kemudian oleh sebagian besar orang mengatakan bahwa era global telah “meruntuhkan” sekat-sekat antarnegara. Sekat antarnegara yang dimaksud tentu bukan sekat secara fisik. Sekat antarnegara menjadi runtuh salah satunya tampak ketika arus informasi membanjir dari suatu negara ke negara lain dengan begitu mudah. Orang bahkan menyebut era globalisasi sebagai era informasi. Hal terpenting yang menjadi pusat perhatian banyak orang di era global ini adalah informasi.
Kenyataan di atas diperjelas dengan pernyataan Campbell (1997: 5) yang mengutip pendapat Alvin Toffler, seorang ahli ilmu pengetahuan sosial Amerika, yang pernah menulis bahwa dunia berkembang dari era industri menuju era informasi. Lebih lanjut Toffler mengatakan bahwa informasi adalah suatu modal yang baru dan sekarang ini menguasai informasi adalah lebih penting daripada mengontrol uang. Pengetahuan diyakini sebagai sebuah kekuatan besar.
Menurut Mujiran, ada tiga kegiatan utama manusia dalam usaha menambah pengetahuan. Ketiga kegiatan itu adalah membaca, melihat, dan mendengar. Ketiganya mempunyai kelebihan dan kekurangan masing-masing. Dari ketiga jenis kegiatan itu, membaca merupakan faktor yang sangat berperan penting, karena membaca akan memacu daya nalar dan melatih konsentrasi seseorang. Selain itu kegiatan membaca merupakan suatu kegiatan yang aktif; orang menjadi semakin terpacu daya nalarnya untuk menganalisis berbagai hal dari apa yang dibacanya. Penegasan terhadap pentingnya kebiasaan membaca pernah dilontarkan oleh Wardiman Djojonegoro, mantan Menteri Pendidikan dan Kebudayaan, dalam sebuah pidatonya yang menegaskan “Kebiasaan membaca di suatu negara merupakan cerminan tingkat kemajuan negara tersebut” (Campbell, 1997: 4).
Di sini menjadi jelas bahwa seharusnya yang kita lakukan sekarang bukan lagi pada bagaimana memulai membaca tetapi seharusnya lebih pada bagaimana membaca sebanyak mungkin agar selalu mendapatkan informasi terbaru sesuai dengan yang kita butuhkan. Hal seperti ini sangat penting untuk dimiliki oleh masyarakat yang masih berada di ambang kemakmuran dan sedang berkembang seperti Indonesia karena dengan ini cita-cita untuk mewujudkan masyarakat pembelajar (learning society) akan terwujud.
Namun kenyataan yang terjadi di negara (masyarakat) kita sungguh berlainan dengan yang diharapkan. Seperti laporan Conny R. Semiawan (2003: 574) yang mengutip laporan Bank Dunia (1998) tentang hasil survei membaca murid kelas IV SD. Hasil survei tersebut menunjukkan bahwa Indonesia berada pada peringkat terendah di Asia Timur. Rata-rata hasil tes membaca di beberapa negara menunjukkan sebagai berikut: Hongkong 75,5%, Singapura 74%, Thailand 65,1%, Filipina 52,6% dan Indonesia 51,7%. Penelitian ini juga menunjukkan bahwa para siswa di Indonesia hanya mampu memahami 30% dari materi bacaan, dan kesulitan menjawab soal-soal berbentuk uraian yang memerlukan penalaran. Selain itu, Sujono Samba (2007: 12) mengutip laporan International Education Achievement (IEA) yang mengungkapkan bahwa untuk kemampuan membaca, siswa-siswa SD di Indonesia menduduki urutan ke-38 dari 39 negara yang diteliti.
Purwono (dalam http://www.penulislepas.com/v2/?p=626) juga pernah mengutip laporan UNDP tahun 2003 dalam “Human Development Report 2003” yang intinya melaporkan bahwa Indeks Pembangunan Manusia (Human Development Indeks – HDI) berdasarkan angka buta huruf menunjukan “Pembangunan Manusia di Indonesia” menempati urutan yang ke 112 dari 174 negara di dunia yang dievaluasi, sedangkan Vietnam menempati urutan ke 109 padahal negara itu baru saja keluar dari konflik politik yang cukup besar.
Dari berbagai data di atas kiranya tidak sulit lagi bagi kita untuk menyimpulkan keadaan sesungguhnya bahwa minat baca masyarakat Indonesia masih rendah. Minat baca yang rendah itu tentunya dipengaruhi oleh beragam faktor. Jane E. Campbell (1997: 1-3) mengemukakan beberapa faktor yang menyebabkan kebiasaan membaca di kalangan masyarakat Indonesia jarang bahkan tidak mendapatkan prioritas. Faktor-faktor itu adalah sebagai berikut: pertama, budaya lisan berakar sangat kuat dalam diri masyarakat Indonesia. Selain itu, faktor budaya lain yang juga ikut berpengaruh dan menghambat perkembangan minat baca adalah ciri khas bangsa Indonesia yang sangat menghargai nilai kebersamaan, keharmonisan secara berkelompok dibanding secara individu, padahal membaca dapat digolongkan kegiatan “antisosial” karena membaca merupakan aktivitas individual. Faktor budaya seperti yang sudah disebut di atas memiliki pengaruh yang kuat terhadap minat baca.
Kedua, semakin populernya kegiatan menonton televisi. Kegiatan menonton televisi tidak selalu dilakukan secara individu tetapi juga bisa secara kolektif. Untuk masyarakat yang kuat dengan tradisi lisan dan orientasi berkelompok, jelas televisi lebih disukai daripada buku. Kebiasaan menonton televisi telah mengakar dalam diri sebagian besar masyarakat Indonesia termasuk anak-anak, dan dari kegiatan menonton itu mereka mendapatkan berbagai hal yang menyenangkan dan menarik. Pada akhirnya dorongan untuk membaca pun menjadi sangat minim. Secara tegas, oleh Darmaningtyas dikatakan bahwa televisi telah melemahkan daya analisis dalam ranah kognitif penontonnya karena otak dimanjakan dengan informasi yang sifatnya instan (2008: 76).
Ketiga, kurangnya sarana dan prasarana yang tersedia di perpustakaan. Agar warga masyarakat bisa belajar (membaca) tentunya harus ada sesuatu yang dibaca. Dalam hal ini tentu yang dibutuhkan adalah buku-buku, jurnal, majalah, dan lain-lain. Pada kenyataannya, buku, jurnal, majalah itu persediaannya masih sangat kurang. Hal ini memang erat kaitannya dengan terbatasnya dana.
Demikian beberapa faktor yang dikemukakan oleh Campbell berkaitan dengan faktor-faktor yang menyebabkan rendahnya minat baca masyarakat Indonesia. Masih ada satu faktor yang hemat saya menjadi alasan utama yang tidak dilihat oleh Campbell. Faktor itu adalah masalah ekonomi yang dialami oleh sebagian besar masyarakat Indonesia. Tidak bisa dipungkiri bahwa keadaan orang miskin di Indonesia jauh lebih banyak dibandingkan dengan orang-orang yang kaya (mampu secara ekonomis). Kalau untuk kebutuhan pokok (makan dan minum) sehari-hari saja sukar untuk dipenuhi, maka yang jelas pemenuhan terhadap kebutuhan-kebutuhan lain yang skala kepentingannya tidak sama dengan kebutuhan makan dan minum (misalnya: untuk membeli buku, jurnal, atau majalah) tersisihkan.
Beranjak dari kenyataan ini, ada sebuah pertanyaan yang perlu segera dijawab, yakni “Usaha apa yang harus kita lakukan agar minat baca masyarakat Indonesia menjadi meningkat dan pada akhirnya learning society akan terwujud?” Bagi saya, jawabannya sederhana yakni tidak lain adalah perlunya kehadiran sebuah perpustakaan yang sungguh optimal dalam fungsi dan perannya. Perpustakaan identik dengan kegiatan membaca atau aktivitas lain yang tujuannya menambah pengetahuan atau informasi. Darmaningtyas (2008: 75) pernah menulis bahwa salah satu tanda sebuah masyarakat merupakan komunitas pembelajar, masyarakat yang sadar dan melek informasi, serta masyarakat intelektual adalah adanya perpustakaan yang memadai dengan banyaknya pengunjung dan aktivitas yang berkaitan dengan kepustakaan dan intelektualisme; salah satunya adalah aktivitas membaca.
Dalam UU No. 34 Tahun 2007 tentang perpustakaan, Bab I Pasal 4 tertulis perpustakaan bertujuan memberikan layanan kepada pemustaka, meningkatkan kegemaran membaca, serta memperluas wawasan dan pengetahuan untuk mencerdaskan kehidupan bangsa. Bangsa yang cerdas salah satunya akan terlihat dari tumbuh dan berkembangnya learning society (masyarakat pembelajar). Masyarakat pembelajar yang dimaksud adalah masyarakat yang dalam kehidupannya selalu ingin belajar untuk mendapatkan hal-hal (informasi) yang baru yang sesuai dengan kebutuhannya kapan saja dan dimana saja.
Pertanyaan lanjutan adalah “Bagaimana upaya yang dilakukan agar fungsi dan peran perpustakaan menjadi semakin optimal?” Hemat saya, ada beberapa hal yang harus dilakukan agar fungsi dan peran sebuah perpustakaan menjadi optimal dan benar-benar dijadikan learning centre untuk mewujudkan learning society. Beberapa upaya itu adalah sebagai berikut. Pertama, pemenuhan koleksi serta sarana dan prasarana dasar yang sesuai dengan kebutuhan. Pemenuhan koleksi ini erat kaitannya dengan beragamnya minat orang saat masuk perpustakaan, misalnya: ada yang suka membaca buku-buku ilmiah, ada yang suka mengikuti perkembangan informasi terbaru dari surat-surat kabar, dan lain-lain. Dengan beragamnya minat dan kesukaan ini jelas tidak ada jalan lain bagi pihak pengelola perpustakaan agar mampu menyediakan beragam koleksi sehingga berbagai minat dan kesenangan warga masyarakat tersebut akan terakomodasi.
Kedua, meningkatkan kualitas petugas perpustakaan. Hal tersebut diperlukan mengingat pemahaman, keluasan wawasan, loyalitas pada pekerjaan, dan kreativitas dalam mengembangkan perpustakaan mutlak diperlukan sebab bila tidak maka sebanyak apapun anggaran (dana) yang dikeluarkan untuk perpustakaan takkan dapat meningkatkan kualitas perpustakaan.
Ketiga, peningkatan kualitas layanan perpustakaan berbasis teknologi informasi. Upaya ini baru dilakukan setelah perpustakaan tersebut telah dinilai memadai dari segi koleksi. Keempat, upaya yang dilakukan setelah adanya koleksi yang lengkap dan layanan perpustakaan berbasiskan TI adalah dibangunnya gedung-gedung perpustakaan yang membuat para pengunjungnya merasa nyaman dan betah. Kelima, memaksimalkan pelayanan perpustakaan keliling. Hemat saya, perpustakaan keliling akan sangat membantu warga masyarakat di desa-desa yang jauh dari pusat kota dan juga secara ekonomi tidak mampu untuk membeli bahan-bahan pustaka (misalnya: buku, surat kabar).
Demikian beberapa faktor yang hemat saya mendesak dan penting untuk dilaksanakan dalam upaya mengoptimalkan fungsi dan peran perpustakaan dalam kehidupan bermasyarakat. Semoga dengan berbagai usaha ini peran perpustakaan sebagai sarana untuk meningkatkan kegemaran membaca, memperluas wawasan dan pengetahuan untuk mencerdaskan kehidupan bangsa menjadi semakin optimal dan dapat dirasakan oleh sebagian besar warga masyarakat. Pada akhirnya cita-cita mewujudkan masyarakat literasi dan learning society akan menjadi kenyataan. Sir Richard Steele pernah mengungkapkan “Membaca bagi jiwa sama artinya olahraga bagi tubuh” (Campbell, 1997: 21).
Daftar Pustaka

Campbell, Jane E. 1997. “Kebiasaan Membaca” dalam Wiranto, dkk. (Eds.). Perpustakaan Menjawab Tantangan Zaman. Semarang: Penerbit Universitas Katolik Soegijapranata.

Conny R. Semiawan. 2003. “Pendidikan, Mutu Pendidikan, dan Peranan Guru” dalam Supriadi, Dedi (Ed.). Guru di Indonesia. Jakarta: Departemen Pendidikan Nasional.

Darmaningtyas. 2008. “Membangun Paradigma Berpikir Masyarakat atas Budaya Baca, Inteletualisme, dan Perpustakaan” dalam Wiranto, FA (Ed.). Perpustakaan dalam Dinamika Pendidikan dan Kemasyarakatan. Semarang: Penerbit Universitas Katolik Soegijapranata.

Mujiran, Paulus. 2008. “Menumbuhkan Kebiasaan Membaca Sejak Dini” dalam Wiranto, FA (Ed.). Perpustakaan dalam Dinamika Pendidikan dan Kemasyarakatan. Semarang: Penerbit Universitas Katolik Soegijapranata.

Purwono. 2003. “Membaca, Membangun Generasi Cerdas” dalam http://www.penulislepas.com/v2/?p=626. Diakses 25 Agustus 2008.

Samba, Sujono. 2007. Lebih Baik Tidak Sekolah. Yogyakarta: Lkis.

UU No. 34 Tahun 2007 tentang Perpustakaan.



Catatan: Penulis adalah mahasiswa PBSID, FKIP, Universitas Sanata Dharma angkatan 2005

Tidak ada komentar: