Pelajar SMP “Menggugat” U(A)N
Judul : Lebih Asyik Tanpa UAN
Penulis : Naylul Izza, Fina Af’idatussofa, dan Siti Qona’ah
Penerbit : LkiS Yogyakarta
Tahun : 2007
Tebal : xiv + 82 halaman
Judul di atas bukanlah sebuah judul yang terlalu bombastis dan berbau politis tetapi itulah sebuah judul yang hemat saya cukup representatif menyatakan isi sebuah buku yang ditulis oleh tiga orang pelajar SMP Alternatif Qaryah Thayyibah. Permasalahan seputar UN mungkin dianggap oleh sebagian besar orang sebagai masalah yang sudah basi dan tidak pantas diangkat ke permukaan lagi, karena toh pihak-pihak yang terkait dengan kebijakan UN tidak pernah mendengar apa yang diserukan oleh sekian banyak orang itu. Tetapi, selagi masih ada UN dan masih begitu banyak pihak yang merasa tersiksa dengan UN, reaksi dan tanggapan pun akan tetap mengalir.
Sekilas begitu pula yang dirasakan oleh tiga siswa sebuah SMP Alternatif di Kalibening, Salatiga itu. Mereka merasa “tersiksa” dengan UN. Tidak hanya itu mereka pun menaruh rasa prihatin pada teman-teman mereka yang juga menjadi korban keganasan UN. Berangkat dari rasa keprihatinan itu, tiga siswa itu pun kemudian menuliskan berbagai hal, berkaitan dengan apa yang mereka rasakan dan orang lain rasakan dalam sebuah buku kecil. Buku kecil itu tidak semata-mata ditulis begitu saja. Lebih dari itu, buku itu dihasilkan berdasarkan sebuah pengalaman langsung yaitu pengalaman keterlibatan ketiga siswa itu dalam UN.
Kelebihan lain yang dimiliki buku ini adalah bahwa buku ini tidak hanya berisi ungkapan perasaan atau tanggaan peserta didik (siswa SMP) terhadap pelaksanaan UN. Lebih dari itu, di dalam buku ini pula, ketiga siswa (penulis) menyodorkan delapan alternatif solusi terhadap berbagai permasalahan seputar pendidikan di Indonesia. Alternatif-alternatif yang mereka tawarkan itu tidak hanya berkaitan dengan permasalahan sekitar UN tetapi lebih luas dari itu yakni mencakup permasalahan pendidikan pada umumnya yang terjadi di Indonesia.
Ulasan-ulasan yang ada dalam buku ini juga sungguh sangat menarik, ringan, dan gaya bahasanya sangat sederhana serta lugas, dan hal ini pula yang membuat buku ini semakin enak dibaca. Ulasan yang ada memang bukanlah sebuah ulasan yang berdasarkan pada suatu kajian ilmiah, tetapi hanya berupa uraian naratif terhadap pengalaman ketiga penulis saat mempertimbangkan apakah mengikut UN atau tidak sampai pada akhirnya pengalaman yang dirasakan saat UN berlangsung.
Kekuatan lain yang dimiliki buku ini adalah bahwa isi ulasan yang ada bukanlah hasil rekayasa atau opini orang dewasa yang memang tidak mengalami UN secara langsung. Isi buku ini merupakan suara/aspirasi dari para siswa sendiri yang memang bergelut dan bergulat dengan UN. Apa yang sesungguhnya mereka rasakan saat menjelang UN dan saat pelaksanaan UN, mereka narasikan kembali lewat buku ini. Dengan berdasarkan pada berbagai pengalaman itu dan hasil pengamatan pada teman-teman lain, ketiga siswa itu kemudian dengan berani merekomendasikan agar UN itu dihapus atau ditiadakan. Rekomendasi itu didasarkan pada hasil pengamatan mereka bertiga bahwa yang sesungguhnya terjadi adalah dengan UN berbagai keinginan yang ada pada diri pelajar semakin dibatasi; pelajar menjadi tidak kreatif dan sulit untuk menentukan kebutuhan yang ada pada dirinya.
Dengan berbagai kekuatan yang dimiliki, sesungguhnya buku ini sangat cocok dibaca oleh orang-orang yang menyukai masalah pendidikan, para praktisi dan pengamat pendidikan, siswa-siswa sekolah menengah, serta pemerintah untuk mengetahui secara langsung bagaimana sesungguhnya yang dirasakan oleh para siswa dan tanggapan mereka terhadap pelaksanaan UN. Sungguhpun buku ini memiliki banyak kelebihan, itu tidak berarti bahwa buku ini sungguh sempurna. Masih ada sisi-sisi yang “bolong” misalnya formulasi dan penggunaan bahasa yang khas remaja (bahasa gaul) dan tidak runtutnya penjabarkan ide dan gagasan yang dimiliki. Namun, beberapa kekurangan itu tidak mengurangi berbagai nilai lebih yang dimiliki buku ini. Akhirnya, selamat membaca, semoga bisa mendapatkan sesuatu.
Catatan: Penulis: Ventianus Sarwoyo
Mahasiswa PBSID, FKIP, Universitas Sanata Dharma, Yogyakarta
Tidak ada komentar:
Posting Komentar