Rabu, 29 Oktober 2008

Budaya dan SDM

Budaya dan SDM
(Oleh: Ventianus Sarwoyo)

Salah satu masalah serius yang dihadapi bangsa Indonesia saat ini adalah masalah kepadatan penduduk. Tidak bisa disangkal lagi bahwa tiap tahun penduduk Indonesia mengalami pertambahan yang cukup signifikan. Bahkan jika tidak segera diantisipasi, 25 tahun lagi jumlah penduduk Indonesia menjadi 300 juta jiwa (Kompas, 14 Maret 2008). Menghadapi problem ini, pemerintah bersama warga masyarakat sudah sejak lama menggencarkan program keluarga kecil atau keluarga berencana (KB) yang tujuan utamanya menekan laju pertumbuhan penduduk. Dalam kenyataannya, efek atau pengaruh positif program ini belum begitu terasa. Hal ini disebabkan masih begitu banyak warga masyarakat yang tidak lagi mempunyai kesadaran untuk berkeluarga kecil atau keluarga berencana.
Hemat penulis, ada dua faktor pokok yang menyebabkan hal itu. Pertama, faktor budaya. Masih begitu banyak warga masyarakat Indonesia, khususnya masyarakat yang belum begitu maju (misalnya: masyarakat pedalaman) yang memegang kuat budaya tradisional. Salah satu hal yang dipahami oleh warga masyarakat yang memegang kuat budaya tradisional ini adalah paham “banyak anak banyak rejeki”. Hal ini diyakini karena menurut warga masyarakat yang tradisional, semakin banyak anak (anggota keluarga) maka semakin banyak pula orang yang akan mencari nafkah untuk menghidupi keluarga. Faktor budaya lain yang ikut berpengaruh adalah adanya anggapan sepihak dari kaum pria bahwa kewajiban ber-KB hanya ada pada wanita. Hal ini menjadi salah satu faktor minimnya partisipasi (kepesertaan) kaum laki-laki dalam program KB terutama melalui pemakaian alat kontrasepsi jenis kondom.
Kedua, SDM warga masyarakat Indonesia yang masih tergolong rendah. SDM yang rendah telah menyebabkan sebagian besar warga masyarakat Indonesia tidak mengetahui secara mendalam manfaat atau dampak positif apa yang akan diperoleh dengan berlakunya program KB ini. Faktanya dapat kita lihat, pada masyarakat yang SDM-nya tergolong baik (kaum terdidik), tingkat efektivitas pelaksanaan program KB pun tinggi. Hal ini tentunya dipengaruhi oleh tingkat kesadaran warga masyarakat tersebut akan manfaat atau dampak positif yang akan timbul dari pelaksanaan program KB. Berbeda dengan yang terjadi pada masyarakat yang SDM-nya masih tergolong rendah (masyarakat yang tidak terdidik atau tidak pernah mengenyam pendidikan). Pada masyarakat kelas ini secara umum, tingkat efektivitas pelaksanaan program KB ini belumlah optimal bahkan tidak berjalan. SDM yang rendah ini bisa menjadi penyebab masyarakat kurang paham akan manfaat atau dampak positif dari program KB.
Dua faktor ini yang hemat penulis saling berkaitan dan menjadi alasan utama mengapa masih begitu banyak warga masyarakat Indonesia tidak lagi mempunyai kesadaran untuk berkeluarga kecil. Dengan mengetahui kedua alasan ini, pemerintah dapat bekerjasama dengan warga masyarakat mencari alternatif atau langkah-langkah solusi yang tepat yang memungkinkan sebagian besar warga masyarakat Indonesia paham akan manfaat atau dampak positif dari program keluarga kecil atau KB; sehingga dengan kesadaran yang utuh masyarakat ikut ambil bagian dalam menyukseskan upaya menekan laju pertumbuhan penduduk di Indonesia.
(Penulis: Mahasiswa PBSI, FKIP, Universitas Sanata Dharma)

Tidak ada komentar: