Mengasah Kecerdasan Emosional Melalui Cooperative Learning
Ventianus Sarwoyo
Mahasiswa PBSID, Universitas Sanata Dharma, Yogyakarta
Setiap lembaga yang bergerak dan berkecimpung dalam bidang pelayanan pendidikan hampir bisa dipastikan memiliki keinginan yang kuat untuk mampu menyediakan pendidikan yang berkualitas bagi orang-orang yang memanfaatkan jasa pelayanannya itu. Dalam hal ini orang-orang yang memanfaatkan jasa pelayanan yang dimaksud adalah para peserta didik (siswa). Keinginan itu pun kemudian diupayakan agar bisa terwujud lewat berbagai bentuk usaha baik yang dilakukan secara individu (perorangan) maupun secara berkelompok dalam sebuah lembaga atau institusi. Berbagai pembenahanpun kemudian terjadi dalam tubuh lembaga pendidikan itu guna menunjang tercapainya maksud tersebut.
Peningkatan sarana dan prasarana fisik (baik dari segi kuantitas maupun kualitas), perbaikan kualitas guru, penyempurnaan kurikulum, evaluasi dan pembaharuan terhadap berbagai metode pembelajaan merupakan beberapa bagian saja dari serangkaian upaya pembenahan yang dilakukan. Hemat saya, dari sekian banyak upaya yang dilakukan, pembenahan terhadap kualitas guru merupakan upaya yang harus menjadi fokus utama (sentral). Dikatakan sebagai fokus utama karena gurulah yang menjadi fasilitator dan motivator dalam kegiatan pembelajaran.
Sebagai fasilitator dan motivator, guru harus mampu merangsang peserta didik untuk secara aktif terlibat dalam kegiatan pembelajaran. Guru harus mampu mendesain kegiatan pembelajaran yang tidak lain bertujuan mengaktifkan atau membangkitkan minat siswa. Dalam proses pembelajaran, yang terjadi seharusnya adalah siswalah yang aktif. Salah satu metode yang sudah lama dipakai dalam proses pembelajaran yang tidak lain secara aktif melibatkan siswa adalah metode cooperative learning.
Dengan metode ini, berbagai aktivitas dapat dijalankan siswa bersama siswa lain dalam kelompok. Yang menjadi penekanan dalam metode ini adalah bahwa siswa yang satu dapat bekerja sama dengan siswa lain. Namanya saja cooperative, yang tidak lain artinya adalah bersama-sama. Di sini, siswa selalu bersama siswa lain (dalam kelompok) menyelesaikan berbagai tugas yang telah disepakati bersama guru.
Ada berbagai hal positif (keuntungan) yang dapat dipetik dari metode cooperative learning ini, antara lain adalah siswa (peserta didik) bisa belajar untuk hidup berdemokrasi, belajar untuk saling menghargai pendapat, dan belajar untuk mendengarkan orang lain walaupun tingkatannya tergolong sederhana. Buah dari sistem pembelajaran ini sebenarnya memiliki efek yang sangat besar pada masa yang akan datang, yang mungkin untuk saat sekarang belum apa-apa kita rasakan. Dalam metode pembelajaran inilah, emosi peserta didik akan terus diasah.
Jika dihubungkan dengan realitas hidup, kenyataan yang ditampilkan dalam model cooperative learning sesungguhnya mencerminkan apa yang sesungguhnya ada dalam kehidupan nyata yakni dalam bermasyarakat. Sungguh harus dipahami bahwa manusia adalah mahluk sosial; mahluk yang selalu ada bersama orang lain dan membutuhkan orang lain. Dalam kehidupan sehari-hari, manusia senantiasa berinteraksi dan berdinamika dengan orang lain. Hal itu pula yang juga ditonjolkan dalam metode pembelajaran kooperatif atau pembelajaran gotong-royong.
Dalam pembelajaran gotong-royong ini, siswa yang satu akan selalu berada bersama siswa yang lain dalam kelompok yang tidak lain berusaha secara bersama-sama menyelesaikan berbagai tugas yang telah disepakati bersama antara guru dan siswa. Dalam kelompok itu, siswa saling betukar pikiran, saling mengemukakan pendapat, berembug yang pada akhirnya betujuan untuk menyelesaikan berbagai tugas yang telah disepakati terlebih dahulu dalam kelas.
Hal yang juga perlu dan penting dipahami bahwa yang namanya kelompok, tentu di dalamnya ada kumpulan orang yang memiliki karakteristik yang unik dan berbeda-beda. Berbagai karakteristik itu hendaknya tidak menjadi suatu penghalang berjalannya sebuah dinamika kelompok atau dalam konteks yang lebih luas dalam sebuah pembelajaran gotong-royong. Berbagai karakteristik itulah yang perlu diolah dan seharusnya dijadikan modal utama dalam menyelesaikan berbagai tugas kelompok. Agar dapat menjadikan berbagai karakteristik itu modal dan kekayaan yang tak ternilai, tentunya sikap saling menghargai, menghormati, dan memahami orang lain menjadi sangat mutlak dibutuhkan.
Kesediaan untuk mendengarkan orang lain dan tidak memaksakan kehendak, serta tidak mementingkan diri (egois) merupakan sikap yang tidak bisa ditawar-tawar lagi dalam sebuah pembelajaran gotong-royong. Setiap siswa harus senantiasa siap mengkomunikasikan ide dan gagasannya jika ada dan dibutuhkan oleh kelompok, dan siap pula untuk mendengarkan paparan ide dan gagasan teman-teman lain terhadap sebuah masalah yang harus dipecahkan bersama. Dengan berbagai kebiasaan dan sikap yang dikembangkan siswa dalam cooperative learning ini, kecerdasan emosional (yang merupakan salah satu bentuk kecerdasan yang utama dan paling penting) para peserta didik menjadi semakin terasah.
Lebih dari itu, metode pembelajaran kooperatif atau gotong royong sesungguhnya telah menanamkan bentuk-bentuk pendidikan nilai ke dalam diri siswa. Apa yang dipraktikan para siswa di dalam ruang-ruang kelas diharapkan dapat terinternalisasi dengan baik yang pada akhirnya dapat tercermin dalam kehidupan nyata di masyarakat. Agar semua hal ini bisa terwujud, kemampuan guru untuk mendesain kegiatan dan proses pembelajaran tentunya menjadi sesuatu yang tidak bisa ditawar lagi. Semoga!
Tidak ada komentar:
Posting Komentar