Rabu, 29 Oktober 2008

Kepemimpinan dan Keteladanan Kaum Muda

KEPEMIMPINAN DAN KETELADANAN KAUM MUDA
Tian Sarwoyo

Ketika melaksanakan kegiatan MOS beberapa waktu yang lalu, SMA Kolese De Britto mengangkat sebuah tema yang sungguh menarik yakni “Berpikir dan Berbuat”. Sebuah tema yang hemat penulis sarat makna. Implisit tersampaikan dalam tema ini adalah adanya pengakuan akan kebebasan pada diri seorang pemuda, yakni bebas untuk berpikir kemudian berbuat (melakukan aksi). Dalam tema ini tersirat sebuah pengakuan bahwa kaum muda memiliki suatu kekuatan yang bisa mengubah situasi kehidupan saat ini.
Pengakuan akan keberadaan dan kekuatan yang dimiliki kaum muda juga sempat dilontarkan Soekarno dalam sebuah pidatonya yang berbunyi “Beri aku tiga orang pemuda, maka aku akan mengubah dunia”. Pernyataan yang singkat dan sederhana memang, tetapi sesungguhnya tersirat kekuatan dan makna yang mendalam terhadap peran kaum muda. Implisit pernyataan ini menggambarkan tentang peran kaum muda yang begitu sentral di negara atau dunia ini. Kaum muda diyakini sebagai orang yang mampu membawa perubahan. Hal ini mungkin didasari pada keyakinan dan kenyataan bahwa kaum muda merupakan generasi penerus bangsa.
Begitu banyak orang yang yakin bahwa kaum mudalah yang bisa menyelamatkan dunia ini. Bahkan sejumlah tokoh terkemuka dunia dengan tegas mengungkapkan bahwa gerakan pemuda merupakan penentu sejarah zaman. Perjalanan sejarah bangsa Indonesia telah membuktikan dan menunjukkan peran kaum muda yang begitu besar. Hal itu dapat kita lihat dari berbagai peristiwa penting dan berharga di negeri ini yang dipelopori oleh kaum muda.
Sejarah bangsa Indonesia telah menunjukkan dan membuktikan bahwa pemuda Indonesia memang senantiasa jadi pelopor atau pemimpin bangsanya dalam berbagai tahap perjuangan. Kebangkitan Nasional tahun 1908 dipelopori oleh orang-orang muda, Sumpah Pemuda tahun 1928, yang telah merekat bangsa ini menjadi bangsa yang satu jelas adalah karya para pemuda kita. Proklamasi 1945 dan perjuangan mempertahankan kemerdekaan juga dipelopori oleh pemuda. Demikian pula saat rakyat Indonesia berusaha menyingkirkan rezim orde baru, pemuda tetaplah menjadi yang terdepan.
Mungkin terlupakan dari benak kita dan mengakibatkan kita bertanya-tanya apa kontribusi kaum muda saat menjelang kemerdekaan RI. Sekedar mengingatkan kembali dan memperjelas bahwa sesaat sebelum proklamasi kemedekaan RI, para pemuda berusaha menyingkirkan Soekarno dan Hatta ke Rengasdengklok. Di sana Soekarno dan Hatta dipaksa dan terus didorong oleh para pemuda agar secepatnya memproklamasikan kemerdekaan RI. Hal ini memang berangkat dari sikap menggebu-gebu (agar secepatnya memperoleh kemerdekaan) dalam diri pemuda, dan juga rasa ketakutan mereka akan kembalinya para penjajah ke tanah air. Dengan desakan pemuda itulah, Soekarno dan Hatta kemudian berani memproklamasikan kemerdekaan RI.
Kepeloporan kaum muda pada masa silam itu tentunya menjadi harapan semua orang agar bisa diwarisi dan diteruskan oleh generasi-generasi berikutnya. Agar bisa diterusi, apa yang sekarang harus kita (kaum muda) buat? Hemat penulis, ada dua sikap dasar yang harus dimiliki kaum muda saat ini untuk mengisi kemerdekaan dan agar bisa memberikan andil yang besar dalam upaya meningkatkan daya saing bangsa ini dengan bangsa-bangsa lain. Kedua hal itu adalah: pertama, kaum muda harus mampu memimpin, dan kedua, kaum muda harus mampu memberikan teladan. Di dalam kedua sikap ini sesungguhnya tercermin adanya tindakan berpikir dan berbuat. Ketika menjadi pemimpin, kaum muda harus bisa berpikir jernih sebelum bertindak atau mengambil keputusan; begitu pula halnya ketika kaum muda harus menjadi pemberi teladan. Kaum muda tentunya harus berbuat sesuatu terlebih dahulu yang nota bene yang dibuatnya itu sesuai dengan harapan masyarakat umum. Sikap-sikap seperti inilah yang dibutuhkan pada masa sekarang ini karena memang tugas itu cocok untuk kaum muda yang memang diyakini sebagai generasi penerus dan bahkan dikenal sebagai agent of change.
Mengapa diperlukan kaum muda yang harus mampu memimpin? Fakta sejarah bangsa Indonesia telah membuktikan bahwa kaum muda selalu menjadi pelopor atau pemimpin dalam berbagai pergerakan nasional namun saat ini sikap kepeloporan atau kepemimpinan kaum muda itu sudah tidak tampak lagi. Karena itu sudah saatnya sikap kepeloporan atau kepemimpinan itu ditumbuhkembangkan kembali apalagi dengan kondisi pemimpin bangsa kita saat ini yang tidak lagi benar-benar memimpin tetapi malah menuntun bangsa ini ke jurang kehancuran yang salah satunya dengan praktik korupsi. Padahal masalah yang paling besar dan paling banyak dihadapi bangsa ini yang membuat bangsa ini selalu terbelakang dan tidak bisa bersaing dengan bangsa-bangsa lain adalah masalah korupsi.
Kepeloporan atau kepemimpinan jelas menunjukkan sikap berdiri di muka, merintis, membuka jalan, dan sesuatu untuk diikuti, dilanjutkan, dikembangkan, dipikirkan oleh orang lain. Dalam kepeloporan ada unsur menghadapi resiko. Kesanggupan untuk memikul resiko ini menjadi sangat penting dalam setiap perjuangan. Dalam zaman modern seperti sekarang ini, kehidupan manusia mejadi semakin kompleks sehingga resiko yang timbul pun kian kompleks. Meminjam istilah Giddens “modernity is a risk culture”. Untuk menghadapi berbagai resiko itu, sangatlah diperlukan sikap tangguh baik mental maupun fisik dari para pemuda. Tidak semua orang dapat dan berani mengambil jalan yang penuh resiko itu. Kepemimpinan bisa berada di mana saja, entah itu di depan, di tengah, atau pun di belakang, seperti ungkapan “ing ngarso sung tulodo, ing madyo mangun karso, dan tut wuri handayani”.
Tidak hanya sikap kepeloporan atau kepemimpinan, sikap lain yang harus ditunjukkan pemuda adalah mampu memberikan teladan yang baik. Sikap keteladanan harus dimiliki pemuda mengingat saat ini, bangsa ini telah kehilangan pemimpin, tokoh, dan sosok yang bisa diteladani. Pemimpin bangsa ini sekarang lebih banyak mementingkan kesejahteraan pribadi, korupsi, hanya mengumbar janji untuk meraup dukungan, melakukan politik uang, dan masih begitu banyak tindakan negatif lainnya. Sudah begitu banyak warga masyarakat yang mulai kehilangan kepercayaan terhadap pemimpin (pemerintah) kita saat ini. Di tengah keadaan seperti itu, kiranya kehadiran tokoh muda yang bisa diteladani banyak orang (masyarakat) sungguh relevan dan sangat penting. Keteladanan yang dimaksud jelas berkaitan dengan sikap atau perilaku yang diidealkan atau dicita-citakan banyak orang (warga masyarakat).

Tidak ada komentar: