Senin, 15 Desember 2008

Seputar SEMINARI

Temu Tujuh Kolese di Seminari Mertoyudan

Magelang—Tujuh kolese Jesuit, pada tanggal 13-16 Oktober 2008, menggelar acara temu bareng yang sudah akrab dinamakan Temu Kolese (Tekol) di Seminari Mertoyudan. Ketujuh kolese tersebut adalah Kolese Kanisius Jakarta, Kolese Gonzaga Jakarta, Kolese Loyola Semarang, Kolese PIKA Semarang, Kolese De Britto Yogyakarta, Kolese Mikael Solo, dan Seminari Petrus Kanisius Mertoyudan. Temu tujuh kolese itu mengusung tema “Bersama Membangun Karakter”. Kegiatan “Tekol” ini dibuat dengan maksud agar para siswa-siswi kolese dapat saling mengenal serta dapat melanjutkan kerja sama setelah lulus dari masing-masing Kolese mereka.
Desain kegiatan Temu Kolese kali ini sarat dengan kolaborasi sehingga diharapkan dapat membuat para siswa-siswi kolese untuk semakin menghayati nilai-nilai persaudaraan dan kerja sama sebagai bekal masa depan mereka. Selain itu, dengan tema besar “Bersahabat Membangun Karakter”, diharapkan juga bahwa dalam diri siswa semangat hidup 3C (Competence, Conscience, Compassion) yang merupakan dasar setiap kolese semakin terus dihidupi dan dinyalakan.
Demi memeriahkan dan menyemarakan acara Tekol tersebut, berbagai kegiatan yang sifatnya kompetisi pun dirancang. Kegiatan-kegiatan diformat sedemikian rupa agar seluruh siswa dapat terlibat dan dapat bekerja sama dengan teman-teman baik yang satu kolese maupun dengan teman-teman dari kolese yang lain. Kegiatan-kegiatan yang dilaksanakan antara lain adalah lomba debat (bahasa Indonesia dan bahasa Inggris), sepak bola, bola volly, basket, dan futsal. Dalam kegiatan yang dipolesi kompetisi tersebut, para siswa dan siswi dalam suatu tim yang merupakan gabungan dari berbagai kolese berusaha atau berjuang untuk menyaingi bahkan mengalahkan tim lain yang juga tim kolaborasi dari bebeberapa kolese. Dengan kegiatan-kegiatan yang sarat kompetitif ini, semangat kerja sama tim (team work) menjadi semakin terasah. Sikap proaktif dan saling memahami pun menjadi semakin bertumbuh dan berkembang. Di atas semua itu, semangat sportivitas tetaplah selalu dijaga dan dijunjung tinggi oleh semua peserta tekol.

(Oleh: Ventianus Sarwoyo, salah satu Juri Lomba Debat ‘Tekol’ 2008)

Meneladani Oemar Bakrie

Oemar Bakrie di Gereja Kota Baru

Minggu sore, 19 Oktober 2008, Gereja Kota baru lagi-lagi sesak dengan “pengunjung” kaum muda. Pasalnya sore itu di Gereja Kota Baru berlangsung ekaristi kaum muda (EKM) yang dipandu kaum muda dari SMA Kolese De Britto. Ekaristi yang berlangsung semarak dengan ‘dipolesi’ kreativitas putra-putra JB itu mengusung tema “Maju tak Gentar, Mundur tak Geguyu. Ha…ha…ha”.
Misa yang berlangsung selama lebih kurang 1,5 jam itu dipimpin oleh Rm. Cornelius Priyanto, SJ. dan Rm. Ageng Marwoto, SJ. Saat ini ladang garapan kedua Romo tersebut adalah di De Britto. Dalam misa itu, sosok Oemar Bakrie-lah yang ditonjolkan. Romo Yan, dalam pengantarnya, mengatakan bahwa Oemar Bakrie, seorang tokoh fiksi, dijadikan sosok dalam misa itu lebih-lebih karena sifatnya yang tidak mudah menyerah. Salah satu simbol khas Oemar Bakrie adalah sepeda, yang merupakan simbol kesederhanaannya dalam menjalankan tugas untuk mengantar anak didiknya menjadi menteri namun, tetap tekun, setia, dan pantang menyerah.
Dalam kotbahnya, Rm. Yan yang sekarang mengurusi Campus Ministry di JB ini, sekali lagi menggarisbawahi bahwa tidak ada keberhasilan tanpa perjuangan; tidak ada kesuksesan tanpa kerja keras, pengorbanan, dan semangat pantang menyerah. Semangat hidup Oemar Bakrie harus dihidupkan kembali oleh orang-orang muda. Orang muda telah dipercaya oleh masyarakat umum di antaranya sebagai orang yang mampu membawa perubahan dan bisa membuat pembaharuan.
Fakta sejarah telah membuktikan bahwa kaum muda senantiasa membuat perubahan besar dalam sejarah perkembangan bangsa ini, di antaranya: pertama, Sumpah Pemuda 20 Oktober 1928 merupakan peristiwa besar dalam sejarah kemerdekaan bangsa ini di mana para pemuda Indonesia berhasil ‘duduk’ bersama mengikrarkan sumpah yang pada akhirnya berhasil mengantarkan Indonesia menjadi satu negara, satu bangsa, dan satu bahasa. Kedua, lengsernya penguasa tunggal orde baru pada Mei 1998 juga merupakan buah dari kerja keras kaum muda yakni para mahasiswa. Fakta-fakta ini menujukkan bahwa kaum muda adalah orang yang sangat berpengaruh dalam kehidupan bermasyarakat. Semoga kenyataan sejarah itu dapat dihidupkan kembali di zaman ini di tengah berbagai masalah dan kesulitan yang dihadapai bangsa ini. “Maju tak Gentar, Mundur Jijik i” demikian ungkapan Rm. Yan dengan nada menantang kaum muda di akhir kotbahnya.

(Oleh: Ventianus Sarwoyo)

Mencari MAKNA kerja

PRABA Mengantarkan Kami pada “Kepenuhan” Berjurnalistik

Tidak ada orang yang tidak ingin tampil profesional. Pada zaman yang sarat dengan persaingan saat ini, tentunya keprofesionalan seseorang sangatlah dituntut. Tampil profesional akan memungkinkan seseorang menjadi tokoh idola dan lebih dari itu disenangi banyak orang. Beranjak dari keinginan untuk bisa tampil profesional dan menjadi seorang yang profesional itu pulalah yang mendasari kami, sebagian dari para mahasiswa PBSID, memberanikan diri untuk mencoba ‘mengetuk hati’ PRABA agar sudi menampung kami sehingga kami bisa mengalami langsung apa dan bagaimana jalan menuju keprofesionalan itu. Tanpa memperpanjang jalan dan memperumit birokrasi, pada 19 Maret 2008 PRABA pun dengan hati terbuka siap menampung kami bersembilan untuk bisa berproses dan berdinamika menuju (atau paling tidak mendekati) “kepenuhan” berjurnalistik.
Bagi kami, pengalaman berpraktik ini merupakan sebuah pengalaman yang sangat indah dan bernilai. Dengan kegiatan ini, kami kemudian berusaha untuk menekuni dunia jurnalistik dengan sungguh-sungguh, meskipun kami sendiri bukanlah sungguh-sungguh jurnalis. Praktik ini membuat kami mau dan mampu bergelut dan bergulat dengan berbagai hal yang ada hubungannya dengan jurnalistik. Praktik yang telah kami jalani di PRABA telah menyadarkan kami akan tiga sikap penting, yakni: pertama, kerja keras. Sebuah semboyan klasik yang berbunyi “hidup adalah perjuangan” sudah sering kita dengar. Semboyan inilah yang mengilhami dan menyadarkan banyak orang bahwa hidup itu harus penuh dengan perjuangan dan kerja keras. Hal itu pula yang kami dapatkan ketika berpraktik di PRABA. PRABA menyodorkan sejumlah tugas yang sarat kerja keras, misalnya memburu narasumber yang susah dihubungi atau dicari. Namun berbagai hal itu kemudian tidak menyurutkan semangat kami tetapi malah membuat kami semakin berusaha keras.
Kedua, pantang menyerah. Sikap kerja keras dan pantang menyerah merupakan dua sikap yang berbeda namun sukar dipisahkan. Dalam sikap kerja keras sesungguhnya sudah tercakup sikap tidak mudah menyerah. Sebaliknya dalam sikap pantang menyerah pun sebenarnya sudah terkandung sikap kerja keras. Tugas yang sarat tantangan dari PRABA, seperti mencari dan menghubungi narasumber dari pihak pemerintahan, yang nota bene biasanya sarat dengan birokarsi dan cukup sukar bagi “jurnalis magang”, tidak kemudian menjadikan kami putus asa dan menyerah. Berbagai tugas itu kami lihat sebagai tantangan, bukan sebagai hambatan. Ketiga, terbuka terhadap kritikan dan masukan pihak lain. Sudah menjadi hakikatnya bahwa manusia adalah makhluk sosial, makhluk yang selalu ada bersama orang lain. Selain itu, dari hakikatnya juga manusia tidak ada yang sempurna. Karena ketidaksempurnaan yang melekat pada manusia itulah maka manusia diciptakan untuk ada bersama orang lain sehingga dapat saling melengkapi ketidaksempurnaan itu satu sama lain. Kenyataan di atas yang juga menyadarkan kami ketika berpraktik di PRABA. Dalam berproses dan berdinamika bersama, baik antarsesama praktikan maupun antara praktikan dengan pihak PRABA, sesungguhnya kami telah disadari bahwa menerima masukan dan kritikan pihak lain itu sangat penting karena sesungguhnya kita manusia tidak ada yang utuh dan sempurna.
Tiga sikap di atas yang menurut kami sangat mendasar dan bisa kami dapatkan ketika berpaktik di PRABA. Sesungguhnya masih begitu banyak hal positif yang kami dapatkan dari PRABA yang mungkin tidak cukup kalau kami beberkan di sini. Harapan kami PRABA senantiasa menjadi media terdepan yang selalu menjadi pembawa garam dan terang bagi dunia serta menjadi pengamal sejati nilai-nilai Pancasila sebagai mana telah tertuang dalam motto PRABA sendiri. Akhir kata, terima kasih yang tak terhingga kepada PRABA yang telah menerima dan “mendewasakan” kami dalam berjurnalistik.

(V. Sarwoyo)

DEBAT

Lomba Debat: Agenda Dies ke-53 USD

Membentuk generasi muda yang cerdas, kritis, dan mampu berpikir analitis merupakan dambaan setiap lembaga yang bergulat dan bergelut dalam dunia pendidikan, termasuk Universitas Sanata Dharma yang pada tahun ini berusia 53 tahun. Untuk mencapai tujuan itu tentunya generasi muda harus dihadapkan dengan sejumlah tantangan dan problema sosial yang ada di dalam masyarakat nyata yang menuntut mereka harus kritis dan kreatif memikirkan jalan keluar atau solusi alternatif terhadap pemecahan atau penyelesaian berbagai persoalan itu.
Besarnya atensi terhadap kaum muda seperti yang dipaparkan di atas beranjak dari kesadaran bersama bahwa generasi mudalah yang akan menjadi pemimpin masyarakat di masa yang akan datang. Sebagai calon pemimpin, suatu keharusan bagi kaum muda untuk saat ini berani menghadapi tantangan dan dituntut untuk bisa berpikir jernih, kritis, kreatif, dan analitis sehingga pada akhirnya dapat menyelesaikan berbagai tantangan itu.
Sebagai bagian dari upaya mendidik serta melatih generasi muda yang kritis, kreatif, dan mampu berpikir analitis itu pulalah yang mendorong Universitas Sanata Dharma (USD) untuk mendesain sebuah kegiatan yang juga sarat kompetisi yakni lomba debat. Lomba debat ini dirasa cukup representatif untuk melatih daya pikir, daya analitis-kritis, dan tidak lupa kemampuan beretorika yang juga sangat dibutuhkan dalam kehidupan bermasyarakat. Kegiatan lomba debat ini juga merupakan salah satu agenda menyongsong dies ke-53 USD yang mengusung tema besar “Revitalisasi Humaniora dalam Rangka Pembangunan Moral Bangsa”.
Lomba yang diselenggarakan di Kampus I Mrican ini berlangsung tanggal 9-11 November 2008. Tanggal 9 November diisi dengan kegiatan technical meeting, sedangkan tanggal 10 dan 11 November adalah pelaksanaan kompetisi dan perebutan juara. Dalam lomba yang berlangsung dengan sangat meriah dan mendapat tanggapan antusias dari berbagai pihak itu, SMA N 4 Magelang berhasil menduduki Juara I dengan memboyong Piala Driyarkara sebagai piala bergilir, piala tetap untuk juara I, dan sejumlah uang pembinaan. Juara II berhasil diraih SMA N 7 Purwerejo, Juara III diraih SMA Taruna Nusantara Magelang, dan Juara Harapan I diraih SMA N 1 Yogyakarta.

(Peliput: Ventianus Sarwoyo, Mahasiswa PBSI-Universitas Sanata Dharma)

Pendidikan Moral

KANTIN KEJUJURAN: Pendidikan Moral yang Bebas

Ventianus Sarwoyo


Dalam sebuah lomba debat di Universitas Sanata Dharma beberapa waktu lalu, ada satu topik menarik yang diperdebatkan yakni berkaitan dengan pendidikan moral yang dilaksanakan secara bebas. Dua kelompok yang berasal dari dua SMA yang berbeda memperdebatkan hal itu, yang mana kelompok yang satu setuju (pro) dengan pelaksanaan pendidikan moral secara bebas sedangkan kelompok yang satu menyatakan tidak setuju (kontra). Bagi saya, ada suatu yang menarik dalam debat itu yakni ketika satu kelompok dengan tegas dan berulang-ulang mengangkat contoh mengenai sebuah “Kantin Kejujuran” di salah sebuah lembaga pendidikan di Jakarta. Bagi kelompok tersebut, ‘Kantin Kejujuran’ tersebut merupakan wujud nyata dari pelaksanaan pendidikan moral yang dilakukan secara bebas.
Tidak jauh berbeda dengan itu, Kedaulatan Rakyat pada edisi awal November yang lalu juga memberitakan hal yang sama dengan apa yang dicontohkan oleh salah satu kelompok pendebat seperti yang diungkapkan di atas. Dalam berita itu diceritakan tentang salah satu sekolah di Yogyakarta yang baru saja meresmikan sebuah kantin yang bernama “Kantin Kejujuran”. Menurut Kepala Sekolah SMA tersebut, ‘Kantin Kejujuran’ itu merupakan sarana atau media untuk melatih anak (siswa) agar jujur, yang nantinya ketika mereka menjadi pejabat tidak terjerembab pada masalah korupsi seperti yang marak terjadi di negara kita saat ini.
Dari dua cerita di atas, hemat saya ada suatu hal yang menarik dan patut diapresiasi yakni bahwa atensi terhadap moral anak bangsa sudah mendapatkan tempatnya dalam masyarakat kita. Sudah banyak pihak yang mulai peduli dengan apa yang dinamakan pendidikan moral bagi anak sejak dini. Besar kemungkinan bahwa berbagai bentuk atensi terhadap moral anak bangsa itu berangkat dari berbagai kenyataan yang ramai dan marak terjadi di negara kita, di mana sudah begitu banyak pejabat kita yang tidak lagi jujur dan bermoral (amoral). Kenyataan akan maraknya pejabat yang tidak bermoral itu dapat dengan mudah kita saksikan dan amati lewat berita di media massa tentang korupsi, kolusi, dan nepotisme.
Di tengah kenyataan itu kiranya sungguh tepat jika pendidikan moral memang mendapat tempatnya dalam masyarakat kita secara khusus di dalam dunia pendidikan kita yang mana di situlah tempat generasi muda sebagai calon pemimpin masa depan akan dididik. Memang pendidikan moral tidak bisa disangkal lagi menjadi suatu bagian yang sangat penting yang tidak bisa dipisahkan dari keseluruhan proses pendidikan yang dialami seseorang selama hidupnya. Pendidikan moral justru menjadi dasar dan sesuatu yang utama dari sebuah proses pendidikan; sebuah proses yang membuat seorang manusia menjadi sungguh-sungguh manusiawi. Namun, dengan satu catatan penting bahwa pendidikan moral yang dimaksud tidak hanya berhenti pada tataran kognitif belaka tetapi lebih dari itu yang justru paling penting adalah anak diantar untuk sampai pada tataran praksis (tindakan nyata). Dengan menanamkan bentuk-bentuk pendidikan moral sejak dini kepada anak didik, maka secara tidak langsung sebenarnya kita telah menyelamatkan generasi yang akan datang dari bahaya laten ketidakjujuran dan KKN.
“Kantin Kejujuran’ merupakan salah satu sarana yang tepat untuk mengasah dan melatih anak (siswa) untuk bisa bertindak bebas dan bertanggung jawab sebagaimana ciri khas manusia. Bebas tercermin ketika setiap siswa secara bebas mengambil barang-barang yang ada di dalam kantin, dan bertanggung jawab akan tercermin lewat upaya sadar yang dilakukan siswa tersebut untuk membayar dengan sejumlah uang sesuai dengan harga barang yang diambilnya. Di ‘Kantin Kejujuran’ ini tidak ada satu orang pun yang mengawasi para pembeli (siswa) ketika membeli sesuatu. Setiap pembeli dengan bebas menentukan pilihannya namun, di balik itu si pembeli itu dilekati dengan suatu bentuk tanggung jawab yakni harus membayar apa yang sudah diambilnya.
Dalam ‘Kantin Kejujuran’ inilah sungguh seorang manusia (individu) dihargai sebagai seorang makhluk yang bebas dan bertanggung jawab. Setiap orang bebas menentukan pilihannya, namun ia harus bertanggung jawab terhadap apa yang ditentukannya itu termasuk menerima segala konsekuensi yang akan timbul dari apa yang dipilihnya itu. Kebebasan merupakan salah satu bagian dari hak asasi yang dimiliki manusia, namun kebebasan itu bukanlah sebuah kebebasan yang tanpa batas. Manusia memiliki kebebasan untuk bertindak dan melakukan sesuatu, namun kebebasan itu jangan sampai merugikan pihak lain.
‘Kantin Kejujuran’ menginspirasikan kita model konkret (praksis) pendidikan moral anak bangsa; bukan lagi sebuah model yang hanya berhenti pada tataran teori. Lewat kantin kejujuran anak (para siswa) dihadapkan dengan situasi nyata atau keadaan sesungguhnya yang memungkinkan mereka bisa betindak bebas namun tetap bertanggung jawab. Di dalam ‘Kantin Kejujuran’ inilah sungguh seorang individu yang bebas dihargai. Melalui “Kantin Kejujuran” ini pula moral dan akhlak anak-anak (peserta didik ) kita diasah dan diuji. Semoga masyarakat kita khususnya masyarakat yang bergulat dan bergelut dengan dunia pendidikan semakin terinspirasi untuk merancang dan mendesain model lain selain ‘Kantin Kejujuran’ yang memungkinkan para peserta didik sebagai calon pemimpin masa depan semakin dihargai sebagai individu yang bebas dan bertanggung jawab serta jujur dalam dalam menjalankan amanah dari Yang Kuasa.

Penulis: Ventianus Sarwoyo
Mahasiswa PBSI, Universitas Sanata Dharma

Penelitian Tindakan Kelas

Seminar Nasional PTK di Universitas Sanata Dharma

Dalam rangka meningkatkan kualitas dan profesionalitas guru di Indonesia, Prodi Pendidikan Bahasa dan Sastra Indonesia (PBSI), Universitas Sanata Dharma (USD) menggelar acara seminar nasional PTK pada Minggu, 23 November 2008 dengan tema “Penelitian Tindakan Kelas sebagai Upaya Meningkatkan Kualitas dan Profesionalitas Guru”. Kegiatan seminar nasional ini juga merupakan bagian dari agenda dies natalis ke-53 USD. Hadir sebagai pembicara adalah Dr. Paul Suparno, S.J., M.S.T., Dr. Pranowo, M. Pd., dan Dr. B, Widharyanto, M. Pd. Ketiga-tiganya adalah dosen FKIP, USD.
Dalam paparan awalnya, Dr. Paul Suparno mengemukakan bahwa salah satu sebab pendidikan di Indonesia kurang maju adalah banyak pendidik atau guru di lapangan tidak meneliti secara serius apa yang telah dan sedang dilakukan. Banyak guru cukup lama menanti semua perubahan pendidikan dari atas, dari departemen pendidikan. Ini semua akibat sentralisasi pendidikan yang cukup lama terjadi di Indonesia dengan sentralisasi kurikulum nasional yang ketat. Banyak ide, perubahan, dan keputusan dalam hal pendidikan ditentukan dari Jakarta. Padahal yang sesungguhnya yang mengetahui atau mengerti situasi konkret di lapangan adalah guru.
Dengan kenyataan tersebut tentunya jika kita ingin memajukan pendidikan, salah satu jalan yang harus ditempuh adalah para guru harus meneliti untuk mengetahui begitu banyak hal di antaranya apa yang dibutuhkan siswa, apa yang menyebabkan siswa sulit belajar, dan apa yang menjadi kendala kemajuan pendidikan di lapangan. Dengan penelitian tersebut, para guru akan menjadi semakin mudah menentukan hal-hal mana saja yang perlu dilakukan pembenahan. Mantan Rektor USD tersebut juga menambahkan bahwa penelitian tindakan kelas sekaligus menjadi alat refleksi bagi para guru terhadap praktik pendidikan yang sudah dijalankan.
Pada bagian akhir pemaparannya, doktor pendidikan sains tamatan Universitas Boston, AS ini menekankan bahwa penelitian tindakan kelas sangat penting bagi kemajuan praktik pendidikan sebagai seorang guru. Penelitian ini sesungguhnya tidak sulit bagi guru, hanya permasalahannya adalah banyak guru yang gamang untuk memulai. Maka, diperlukan keberanian bagi para guru untuk memulai mencoba. Di samping itu agar penelitian ini menjadi semakin berkembang di sekolah, maka bantuan kepala sekolah sangatlah penting, khususnya dalam memfasilitasi guru untuk melakukan penelitian tindakan kelas.
Apa yang diketengahkan oleh Dr. Paul Suparno di atas kemudian diperdalam serta dispesifikan oleh dua pembicara lain yang merupakan pakar dalam bidang pembelajaran bahasa dan sastra Indonesia yakni Dr. Pranowo, M. Pd. yang membawakan makalah berjudul “Pemetaan Topik Penelitian Tindakan Kelas Bidang Pendidikan Bahasa, Sastra, dan Pengajarannya” dan Dr. B. Widharyanto, M. Pd. yang membahas makalah berjudul “Pengembangan Rancangan Penelitian Tindakan Kelas untuk Pembelajaran Bahasa dan Sastra Indonesia’.

(Penulis: Ventianus Sarwoyo, Mahasiswa PBSI, Universitas Sanata Dharma)

Rabu, 05 November 2008

Opiniku Di Majalah PRABA

KAUM MUDA DAN LINGKUNGAN HIDUP

(Ventianus Sarwoyo)

Sungguh menarik tema Aksi Puasa Pembangunan (APP) Keuskupan Agung Semarang tahun 2008 yang intinya melibatkan kaum muda dan anak-anak dalam upaya memberdayakan lingkungan hidup. Di sini terlihat bagaimana pihak Gereja sungguh menaruh perhatian dengan keadaan lingkungan kita. Di sisi lain Gereja juga mengharapkan peran serta anak-anak dan kaum muda untuk menjadi subjek utama dalam upaya penyelamatan lingkungan itu. Gereja sungguh menaruh harapannya pada anak-anak dan kaum muda, yang nota bene merupakan generasi penerus, untuk menjadi perintis dan pioner pencinta lingkungan.
Sebagian besar dari kita kiranya tahu seberapa parah kerusakan alam (lingkungan) yang terjadi saat ini. Dari media massa cetak atau elektronik, kita mendengar di mana-mana ada peristiwa kebakaran hutan, banjir dan longsor karena penebangan hutan, banjir karena sampah yang dibuang di sembarang tempat, pencemaran air karena limbah industri, dan masih banyak berita kerusakan lingkungan alam lainnya. Inilah potret buruk perilaku manusia yang mengaku diri sebagai orang-orang beriman. Manusia telah semakin tamak dan rakus untuk mencari kesenangan diri, sehingga lingkungan alam pun harus dieksploitasi demi memenuhi kesenangan tersebut. Sebagian besar umat manusia tidak lagi melihat alam sebagai teman atau saudara satu pencipta yang kiranya perlu dihargai, tetapi malah melihat alam sebagai aset yang dapat dikeruk sebesar-besarnya demi kemakmuran diri.
Menghadapi kenyataan ini, anak-anak dan kaum muda, yang disebut-sebut masyarakat sebagai generasi penerus, harus segera mengambil langkah-langkah atau tindakan konkret agar lingkungan alam tidak semakin hancur yang pada akhirnya juga akan bisa menghancurkan kehidupan manusia. Tindakan konkret yang dilakukan bisa berupa kegiatan reboisasi, penghijauan, membuang sampah pada tempatnya, tidak merambah hutan, dan masih banyak kegiatan lainnya. Kiranya perlu diapresiasi kegiatan “1 Jam Bersama Bumi” oleh sebagian kaum muda di Sanata Dharma (yang dikoordinasi Forum Biarawan Biarawati) pada hari Jumat, 14 Maret 2008 yang melakukan aksi pemungutan sampah secara bersama-sama selama satu jam. Kegiatan lain yang patut diacungi jempol adalah gerakan Gereja Paroki Hati Kudus Yesus Tanah Mas Semarang yang berusaha menanam 1.000 pohon sejak perayaan Hari Raya Kristus Raja Semesta Alam 2007. Kegiatan seperti ini mungkin tergolong sederhana dan kita anggap sepele, tetapi dampaknya akan benar-benar terasa di kemudian hari. Upaya-upaya seperti itu memang harus dilakukan dengan kesadaran penuh sebagai bagian dari upaya melestarikan keutuhan ciptaan Tuhan, bukan semata-mata untuk dipuji orang lain atau untuk mendapatkan imbalan yang setimpal.
Di balik harapan pada keterlibatan anak-anak dan kaum muda dalam upaya penyelamatan lingkungan, tema APP di atas secara tidak langsung juga sebenarnya mengajak keluarga-keluarga Katolik untuk terlibat dan berpartisipasi secara aktif. Keterlibatan yang dimaksud dapat berupa dukungan atau dorongan kepada anak-anak untuk ikut melestarikan alam. Selain memberi dorongan atau dukungan, orang tua juga harus dapat menjadi teladan atau contoh bagi anak-anak dalam mengupayakan keutuhan alam. Jadi, orang tua tidak hanya bisa memerintah dan ngomong saja tetapi harus mampu berbuat konkret yang bisa dilihat langsung oleh anak-anak. Di sinilah letak pendidikan yang bermakna. Ingat dalam Kitab Suci dikatakan “…Allah menciptakan semuanya itu dan baiklah adanya”. Maka tugas kita tentunya menjaga dan melestarikan ciptaan Tuhan itu, bukan malah merusak.

(Penulis: Mahasiswa PBSI, FKIP, Universitas Sanata Dharma)

Beritaku yang Sudah Dimuat Di Surat Kabar

Pembukaan Bulan Maria di Sendang Jatiningsih

Hari Rabu, 30 April 2008 sekitar pukul 19.30-21.30 WIB, ratusan umat Kristiani memenuhi halaman Sendang Jatiningsih untuk merayakan perayaan ekaristi pembukaan Bulan Maria. Perayaaan ekaristi itu dipimpin oleh Rm. Ngatmo, Pr dari Paroki Boro.
Salah satu penggalan pesan yang disampaikan Rm. Ngatmo, Pr dalam khotbahnya adalah agar orang tua tidak pernah lupa mendoakan anak-anaknya dengan rosario, novena, dan adorasi. Misa yang berlangsung selama lebih kurang 2 jam itu berlangsung dengan cukup khidmat. Partisipasi umat pun sangat tinggi. Terbukti dengan banyaknya umat yang datang dan memadati halaman Sendang Jatiningsih.
Misa itu merupakan serangkaian agenda di Sendang jatiningsih selama Bulan Mei yang diperingati orang-orang Katolik sebagai Bulan Maria. Misa pembukaan yang mengawali Bulan Maria seperti ini bukan lagi suatu hal yang baru bagi umat Katolik tapi sudah merupakan bagian dari agenda rutin.
Bagi orang katolik, bulan Mei dan juga bulan Oktober memang dikhususkan untuk menghormati Maria. Bulan Mei biasa disebut sebagai bulan Maria, sedangkan bulan Oktober disebut sebagai bulan Rosario. Sebetulnya, tradisi yang memandang bulan Mei sebagai bulan Maria sudah ada sejak abad pertengahan. Pada mulanya, orang-orang kafir di Italia dan Jerman sudah mempunyai kebiasaan untuk menghormati dewa-dewi pada bulan Mei. Ketika mereka menjadi Kristen, bentuk kebiasaan bulan Mei itu tetap dilanjutkan, tapi sasarannya diganti: bukan lagi dewa-dewi, tapi Bunda Maria.
Penghormatan terhadap Maria juga merupakan hasil perkembangan dalam Gereja, sejak abad XVII hingga abad XIX. Pada tanggal 1 Mei 1965, Paus Paulus VI dengan ensiklik Mense Maio menegaskan kembali tradisi kesalehan ini dengan menyatakan bahwa penghormatan kepada Bunda Maria pada bulan Mei merupakan “kebiasaan yang amat bernilai“. Kebiasaan bulan Oktober sebagai bulan Rosario dinyatakan pertama kalinya oleh Paus Leo XIII pada akhir abad XIX yang menganjurkan umat beriman untuk berdoa rosario setiap hari pada bulan Oktober. Dalam bulan Mei ini doa yang indah bagi Bunda Maria menurut tradisi Katolik adalah doa Salam Maria. Bagian pertama dari doa tersebut berkembang dalam abad pertengahan ketika Maria, Bunda Yesus, menjadi bahan perhatian umat kristiani sebagai saksi terbesar atas hidup, wafat dan kebangkitan Yesus. Menurut Metodius Sarumaha, OFM Cap., bagian awal dari doa Salam Maria merupakan salam Malaikat Gabriel di Nazaret menurut Injil Lukas: Salam Maria, penuh rahmat, Tuhan sertamu. Dengan salam itu, Malaikat Tuhan menyatakan belas kasih ilahi bahwa Tuhan akan menyertai Maria. Maria akan melahirkan Yesus ke dunia. Bagian selanjutnya, adalah salam yang disampaikan kepada Maria oleh Elisabet, sepupunya, seperti ditulis dalam Injil Lukas: terpujilah engkau di antara wanita, dan terpujilah buah tubuhmu Yesus. Dan akhirnya pada abad ke-15, bagain doa selanjutnya di tambahkan: Santa Maria, bunda Allah, doakanlah kami yang berdosa ini sekarang dan waktu kami mati. Melalui bagian doa ini kita memohon kepada Bunda Maria untuk mendoakan kita orang yang berdosa, sekarang dan menjelang saat ajal kita.
Bunda Maria adalah bunda yang siap memperhatikan dan mendampingi kita anak-anaknya dalam peziarahan kita di dunia ini. “Bunda Maria tidak pernah tidur duluan mendahului kita. Dia senantiasa setia menunggu dan menantikan kita” begitu kata Romo Ngatmo, Pr di akhri khotbahnya.

(Peliput: V. Sarwoyo, PBSID, USD)

Refleksiku Sewaktu PPL Jurnalistik

Terbuka terhadap Kritik: Jalan Menuju Kesuksesan

(Tian Sarwoyo)

Semua orang di dunia ini pasti menginginkan kesuksesan dalam hidupnya. Untuk mencapai kesuksesan itu, orang kemudian berusaha dengan cara atau gayanya masing-masing. Cara atau gaya yang akan ditempuh seseorang tentu lebih dipengaruhi oleh kesuksesan macam apa yang dia ingini. Hal ini didasarkan pada kenyataan bahwa ada beragam tolok ukur seseorang dinyatakan sukses.
Salah satu jalan untuk mencapai kesuksesan adalah melalui jalur pendidikan. Ada begitu banyak orang yang memilih jalur ini. Lewat jalur ini, orang merasa perlu terlebih dahulu dibekali dengan berbagai pengetahuan dan keterampilan sebelum terjun ke dunia kerja. Dengan kata lain, begitu banyak orang yang merasa perlu untuk memiliki kompetensi tertentu agar menjadi seseorang yang sukses.
Kompetensi memiliki arti yang sama dengan kemampuan. Seseorang dikatakan berkompetensi apabila orang tersebut mengetahui sesuatu dan pengetahuan itu bisa diwujudnyatakan dalam kehidupan nyata (di lapangan). Jadi, seseorang tidak bisa dikatakan berkompeten apabila orang itu hanya mengetahui banyak hal tentang sesuatu tetapi tidak bisa menerapkan apa yang ia ketahui itu dalam kehidupan yang nyata. Kompetensi benar-benar terbukti apabila didukung performansi.
Usaha untuk mencapai kompetensi itulah yang kami alami lewat ber-PPL Jurnalistik di majalah PRABA. Kami merasa bahwa agar kami menjadi lebih berkompeten dalam bidang jurnalistik, tidak cukup bagi kami kalau hanya mempelajari teori. Kami pun akhirnya memberanikan diri untuk mencoba mempraktikkan teori-teori yang kami dapat itu di lapangan, yang dalam hal ini di majalah dua mingguan PRABA.
Dengan bermodalkan keberanian dan niat yang sungguh dari kami untuk mencoba mengimplementasikan toeri yang telah diterima, akhirnya pada 19 Maret 2008 kami secara resmi berpraktik di PRABA. Peresmian itu ditandai dengan penyerahan sembilan mahasiswa oleh Prodi PBSID, USD yang diwakili oleh Drs. G. Sukadi. Pihak PRABA pun yang diwakili Mt. B. Suryowidagdo, selaku pemimpin umum dengan senang hati menerima beberapa mahasiswa yang memang berniat untuk ber-PPL di sana.
Bagi saya, pengalaman ber-PPL ini merupakan sebuah pengalaman yang sangat indah dan bernilai. Dengan kegiatan ini, saya kemudian berusaha untuk menekuni dunia jurnalistik dengan sungguh-sungguh, meskipun saya sendiri bukanlah sungguh-sungguh jurnalis. Kegiatan PPL ini membuat saya mau dan mampu bergelut dan bergulat dengan berbagai hal yang ada hubungannya dengan jurnalistik.
Begitu banyak hal yang saya alami, baik suka maupun duka. Tetapi semua hal itu saya sadari dan yakini akan menjadikan saya seorang pribadi yang mendekati atau bahkan mungkin mencapai “kepenuhan”. Lewat program ini, saya menjadi sungguh-sungguh berproses dan mengalami sendiri secara langsung apa dan bagaimana itu kegiatan jurnalistik.
PPL yang telah saya jalani di PRABA telah menyadarkan saya akan banyak hal, antara lain: pertama, mendengarkan dan menerima masukan dari orang lain itu penting. Mungkin hal ini yang menjadi hal utama dan terpenting bagi saya. Hal ini sungguh saya alami dalam program ini, baik ketika saya berproses dalam kelompok bersama sesama teman PPL maupun ketika saya berproses dengan pihak PRABA, khususnya yang mendampingi kami dalam PPL ini. Dengan berbagai masukan itu, saya menjadi sadar bahwa ternyata begitu banyak hal yang mungkin saya anggap baik, ternyata menurut orang lain itu tidak baik; ada hal yang saya anggap sudah “utuh” dan sempurna saya lakukan, ternyata di mata orang lain hal itu belumlah apa-apa; dan masih begitu banyak hal lainnya. Dalam kenyataan seperti inilah, saya menjadi lebih terbuka dan lebih menyadarkan diri bahwa ternyata aku belumlah apa-apa dan bukanlah siapa-siapa di mata orang lain.
Kedua, pentingnya menjalin kerja sama dan berhubungan dengan orang lain. Dalam PPL ini saya menjadi begitu sadar bahwa ternyata kerja sama dengan orang lain itu sangat penting. Manusia tidak ada yang sempurna. Setiap manusia ada kelebihan dan ada kekurangan. Dengan kelebihan dan kekurangan itulah, manusia kemudian berusaha untuk saling melengkapi satu sama lain. Kerja sama juga telah memungkinkan suatu pekerjaan yang berat dapat menjadi mudah dan cepat diselesaikan. Begitulah yang saya alami ketika kami ditugaskan dalam kelompok untuk meliput masalah Keistimewaan DIY.
Ketiga, sikap mengalah dan mengerti (memahami) keadaan orang lain itu penting dalam sebuah kerja tim (kelompok). Watak setiap orang dalam kelompok tidak selalu sama. Itu perlu dipahami dalam suatu kerja tim. Ada orang yang berwatak keras kepala, mau menang sendiri, dan lain-lain. Menghadapi kenyataan seperti itu, sikap mengalah dan memahami satu sama lain sungguh sangat penting. Mengalah bukan berarti kalah.
Keempat, teori tidak selamanya sama dengan kenyataan yang terjadi di lapangan. Hal ini pula yang saya alami saat ber-PPL di PRABA. Saya menjadi begitu sadar bahwa saya harus menjadi fleksibel, tidak kaku dalam menghadapi suatu situasi atau keadaan yang “asing” atau baru. Semuanya harus dihadapi. Itulah bagian dari proses menuju suatu “kepenuhan”.
Masih begitu banyak hal baik suka maupun duka yang saya dapatkan lewat ber-PPL di PRABA ini. Semua hal yang saya alami itu, sudah sepatutnya saya syukuri karena semuanya akan mengantarkan saya mendekati atau bahkan mencapai sebuah ‘kepenuhan”. Puji syukur dan terima kasih kepada Sang Pemberi Hidup karena saya boleh mengalami dan merasakan begitu banyak pengalaman yang indah dan menarik. Terima kasih juga kepada Program Studi PBSID, USD yang memberikan kesempatan seluas-luasnya kepada saya dan menciptakan situasi dan kondisi yang memungkinkan saya untuk boleh mengalami kegiatan jurnalisitik secara langsung. Terima kasih yang tak terhingga kepada PRABA yang telah menerima dan “mendewasakan” saya dalam berjurnalistik. Sungguh berbagai pengalaman berharga, telah saya dapatkan dari berbagai proses yang telah dijalani di PRABA.
Ungkapan permohonan maaf juga selayaknya kami haturkan kepada pihak PRABA. Kami sungguh menyadari bahwa begitu banyak hal yang kami buat yang ternyata tidak sesuai dengan harapan pihak PRABA, baik dalam menjalankan tugas jurnalistik maupun dalam bertutur kata dan membawa diri di PRABA. Untuk itu semua, kami mohon maaf. Kiranya perlu disadari dan dipahami bersama bahwa di dunia ini tidak ada yang sempurna. Terima kasih.

Beritaku yang Sudah Dimuat Di Surat Kabar

Pembukaan Bulan Maria di Sendang Jatiningsih


Hari Rabu, 30 April 2008 sekitar pukul 19.30-21.30 WIB, ratusan umat Kristiani memenuhi halaman Sendang Jatiningsih untuk merayakan perayaan ekaristi pembukaan Bulan Maria. Perayaaan ekaristi itu dipimpin oleh Rm. Ngatmo, Pr dari Paroki Boro.
Salah satu penggalan pesan yang disampaikan Rm. Ngatmo, Pr dalam khotbahnya adalah agar orang tua tidak pernah lupa mendoakan anak-anaknya dengan rosario, novena, dan adorasi. Misa yang berlangsung selama lebih kurang 2 jam itu berlangsung dengan cukup khidmat. Partisipasi umat pun sangat tinggi. Terbukti dengan banyaknya umat yang datang dan memadati halaman Sendang Jatiningsih.
Misa itu merupakan serangkaian agenda di Sendang jatiningsih selama Bulan Mei yang diperingati orang-orang Katolik sebagai Bulan Maria. Misa pembukaan yang mengawali Bulan Maria seperti ini bukan lagi suatu hal yang baru bagi umat Katolik tapi sudah merupakan bagian dari agenda rutin.
Bagi orang katolik, bulan Mei dan juga bulan Oktober memang dikhususkan untuk menghormati Maria. Bulan Mei biasa disebut sebagai bulan Maria, sedangkan bulan Oktober disebut sebagai bulan Rosario. Sebetulnya, tradisi yang memandang bulan Mei sebagai bulan Maria sudah ada sejak abad pertengahan. Pada mulanya, orang-orang kafir di Italia dan Jerman sudah mempunyai kebiasaan untuk menghormati dewa-dewi pada bulan Mei. Ketika mereka menjadi Kristen, bentuk kebiasaan bulan Mei itu tetap dilanjutkan, tapi sasarannya diganti: bukan lagi dewa-dewi, tapi Bunda Maria.
Penghormatan terhadap Maria juga merupakan hasil perkembangan dalam Gereja, sejak abad XVII hingga abad XIX. Pada tanggal 1 Mei 1965, Paus Paulus VI dengan ensiklik Mense Maio menegaskan kembali tradisi kesalehan ini dengan menyatakan bahwa penghormatan kepada Bunda Maria pada bulan Mei merupakan “kebiasaan yang amat bernilai“. Kebiasaan bulan Oktober sebagai bulan Rosario dinyatakan pertama kalinya oleh Paus Leo XIII pada akhir abad XIX yang menganjurkan umat beriman untuk berdoa rosario setiap hari pada bulan Oktober. Dalam bulan Mei ini doa yang indah bagi Bunda Maria menurut tradisi Katolik adalah doa Salam Maria. Bagian pertama dari doa tersebut berkembang dalam abad pertengahan ketika Maria, Bunda Yesus, menjadi bahan perhatian umat kristiani sebagai saksi terbesar atas hidup, wafat dan kebangkitan Yesus. Menurut Metodius Sarumaha, OFM Cap., bagian awal dari doa Salam Maria merupakan salam Malaikat Gabriel di Nazaret menurut Injil Lukas: Salam Maria, penuh rahmat, Tuhan sertamu. Dengan salam itu, Malaikat Tuhan menyatakan belas kasih ilahi bahwa Tuhan akan menyertai Maria. Maria akan melahirkan Yesus ke dunia. Bagian selanjutnya, adalah salam yang disampaikan kepada Maria oleh Elisabet, sepupunya, seperti ditulis dalam Injil Lukas: terpujilah engkau di antara wanita, dan terpujilah buah tubuhmu Yesus. Dan akhirnya pada abad ke-15, bagain doa selanjutnya di tambahkan: Santa Maria, bunda Allah, doakanlah kami yang berdosa ini sekarang dan waktu kami mati. Melalui bagian doa ini kita memohon kepada Bunda Maria untuk mendoakan kita orang yang berdosa, sekarang dan menjelang saat ajal kita.
Bunda Maria adalah bunda yang siap memperhatikan dan mendampingi kita anak-anaknya dalam peziarahan kita di dunia ini. “Bunda Maria tidak pernah tidur duluan mendahului kita. Dia senantiasa setia menunggu dan menantikan kita” begitu kata Romo Ngatmo, Pr di akhri khotbahnya.


(Peliput: V. Sarwoyo, PBSID, USD)

Talk Less, Do More

BERPIKIR DAN BERBUAT

Judul di atas merupakan cuplikan inti pesan yang dikedepankan para fasilitator ketika mendampingi 46 mahasiswa dari Universitas Sanata Dharma (USD) dan Universitas Atmajaya Yogyakarta (UAJY) yang menjadi penerima beasiswa korban gempa “Misereor” di Wisma Duta Wacana Kaliurang pada tanggal 29-31 Agustus 2008. Oleh Rm. In Nugroho, S.J., salah seorang fasilitator dari USD, inti pesan di atas dikemas dalam bahasa yang agak lain yakni see, judge, and act.
Beasiswa bagi korban gempa ini merupakan sebuah bantuan yang berasal dari Jerman. Sumber utamanya adalah sumbangan para uskup dan donatur di Jerman yang peduli dengan para korban gempa 27 Mei 2006. Beasiswa ini disalurkan melalui APTIK (Asosiasi Perguruan Tinggi Katolik). Di Yogyakarta, penerimanya adalah para mahasiswa korban gempa dari USD dan UAJY.
Dalam kegiatan pendampingan yang berlangsung selama tiga hari itu, para mahasiswa penerima beasiswa diajak oleh para fasilitator untuk berefleksi, bersama-sama memikirkan situasi dan kenyataan yang saat ini terjadi di masyarakat. Para mahasiswa diasah untuk bisa peka mengamati berbagai masalah sosial; memikirkan pelbagai masalah itu, kemudian berani mengambil tindakan atau langkah partisipatif untuk mengatasi atau memulihkan berbagai masalah itu.
See mengisyaratkan para mahasiswa untuk jeli melihat berbagai kondisi sosial yang terjadi di lingkungan sekitar. Manusia adalah homo socius; manusia selalu ada bersama orang lain. Ketika manusia selalu ada bersama orang lain, mereka pasti saling membutuhkan; saling melengkapi karena dari hakikatnya manusia tidak ada yang sempurna. Dengan kenyataan itulah kiranya ketika mengamati sesamanya ataupun lingkungannya yang sedang mengalami masalah, manusia menjadi begitu peka dan cekatan dalam mengambil langkah untuk menyelesaikan masalah itu.
Judge mengacu kepada sikap mempertimbangkan. Dalam hal ini, para mahasiswa yang nota bene generasi muda dan penerus bangsa dituntut untuk bisa mempertimbangkan secara matang berbagai hal sebelum melakukan suatu aksi atau tindakan. Setelah melihat berbagai realitas sosial dalam masyarakat, para mahasiswa harusnya bisa menganalisis dan mempertimbangkan berbagai kemungkinan tindakan yang dapat dan mungkin untuk dilakukan berhadapan dengan pelbagai situasi sosial itu. Tentunya pula harus menimbang risiko dan konsekuensi yang mungkin akan timbul ketika melakukan sesuatu.
Act merujuk ke arti bertindak, berbuat, atau melakukan sesuatu. Melihat dan mempetimbangkan tidak cukup untuk dimiliki oleh seorang mahasiswa sebagai agen perubahan. Perlu suatu sikap lebih lanjut yang sifatnya substantif yakni berbuat atau melakukan sesuatu sesuai dengan apa yang telah dilihat dan dipertimbangkan.

(Peliput: Ventianus Sarwoyo, Mahasiswa PBSI, Universitas Sanata Dharma)

Puisi

Nyayikan Hati dengan Puisi

Dalam rangka memeriahkan HUT yang ke-60 sekaligus merayakan Lustrum XII SMA Kolese De Britto, pada Minggu, 3 Agustus 2008 diselenggarakan lomba musikalisasi puisi. Kegiatan tersebut mengambil tempat di kantin yang letaknya di sebelah timur SMA tersebut. Kegiatan itu dibuka secara langsung oleh Drs. Th. Sukristiyono selaku kepala sekolah dan Supriyatno selaku Ketua Lustrum dan Ketua Reuni. Lomba yang mengambil tema “Nyanyikan Hati dengan Puisi” tersebut diikuti oleh 14 kelompok. Jenis tampilan yang dipertontonkan masing-masing kelompok cukup bervariasi; begitu pula dalam hal jumlah anggota. Ada yang anggotanya hanya 4 orang, tetapi ada juga yang 62 orang, yakni Kelompok Stero dari SMA Stella Duce 2.
Munculnya jenis tampilan yang beragam dan jumlah personal yang terlibat memang tidak bisa terlepas dari bagaimana setiap kelompok menerjemahkan istilah “musikalisasi puisi”. Ada yang menerjemahkan istilah “musikalisasi puisi” dengan menyanyikan atau melagukan sebuah puisi; tetapi ada pula yang menginterpretasikan bahwa musikalisasi puisi itu sama dengan membacakan puisi dengan diiringi musik. Beragam jenis interpretasi ini pun tampak dalam acara “unjuk kebolehan” di sekolah Katolik yang dikenal banyak orang sebagai sekolah yang bebas tapi bertanggung jawab itu.
Menanggapi beragam interpretasi orang (kelompok) terhadap istilah “musikalisasi puisi” itu yang kemudian tampak dalam jenis atraksi saat perlombaan berlangsung, Didik Kristantohadi, S. Pd. selaku koordinator lomba musikalisasi puisi, berkomentar biarkan beragam jenis interpretasi itu muncul; hal itu akan menjadi sesuatu yang kaya. “Yang terpenting adalah makna atau pesan yang ingin ditonjolkan lewat musikalisasi puisi itu benar-benar sampai ke hadapan penonton/audiens”, ungkap guru Bahasa Indonesia yang akrab disapa Pak Didik.
Lomba yang berlangsung pukul 08.40–14.20 WIB tersebut mendapat tanggapan yang cukup antusias dari berbagai pihak baik intern sekolah maupun dari masyarakat umum. Hal itu dapat terlihat dari banyaknya peserta yang hadir dan memenuhi halaman kantin SMA yang akrab disebut JB itu. Semua rangkaian acara berlangsung dalam suasana yang cukup meriah dan berjalan lancar. Pihak panitia menunjuk 3 orang juri dalam perlombaan tersebut, yakni Landung Simatupang (penyair), Petrus Hariyanto (Dosen PBSID, USD) dan Tolik Handonohadi (musisi).
Kompetesi yang memakan waktu lebih kurang 6 jam itu akhirnya membesarkan hati Kelompok Stero dari SMA Stella Duce 2 yang keluar sebagai juara I. Selain itu, juara II diraih kelompok Laku Kita, Juara III diperoleh kelompok Beranda, kelompok Mardawa Mandala berhasil menduduki peringkat Harapan I, dan kelompok Sanggar Burung dari kelas XI Bahasa SMA Kolese De Britto meraih peringkat Harapan II. Hadiah kepada para pemenang diberikan langsung oleh Kepsek SMA Kolese De Britto.
Saat membacakan hasil perlombaan, Landung Simatupang sempat melontarkan beberapa kritik dan saran yang datangnya dari para dewan juri. Salah satu kritik yang menarik adalah sebagian besar peserta lomba tidak mengoptimalkan fungsi mic. “Peserta selalu mengandalkan teriak. Akibatnya suasana puisi jadi rusak” ungkap Ketua Dewan Juri itu. Kritik dan saran ini tentunya menjadi sebuah masukan yang bernilai bagi kita semua khususnya yang menyukai dunia puisi.
Sesaat sebelum pembacaan hasil lomba, Stero Orkestra juga sempat menghibur para penonton sekaligus ikut memeriahkan HUT SMA Kolese De Britto yang usianya sudah lebih dari setengah abad dengan menyanyikan 5 buah lagu. Pada saat yang bersamaan, bertempat di Ruang Audiovisual 2 SMA Kolese De Britto juga berlangsung lomba karya ilmiah remaja (KIR) yang dikomandoi Robertus Arifin Nugroho, guru Biologi SMA De Britto. Lomba ini juga merupakan bagian dari agenda menyonsong HUT dan Lustrum JB yang secara khusus diperuntukan bagi para siswa SMP.

(Peliput: Ventianus Sarwoyo, mahasiswa PBSI, Universitas Sanata Dharma)

Ujian Akhir Sekolah Berstandar Nasional

UPAYA MENGATASI RENDAHNYA KELULUSAN UJIAN AKHIR SEKOLAH BERSTANDAR NASIONAL DI SEKOLAH DASAR
Oleh: Tian Sarwoyo

I. Pendahuluan
Salah satu tolok ukur keberhasilan atau kemajuan suatu negara adalah sumber daya manusia (SDM) yang berkualitas. Karena dijadikan sebagai tolok ukur itulah yang kemudian mendorong banyak negara untuk mengupayakan SDM yang berkualitas. Salah satu upaya utama dan yang paling penting adalah melalui jalur pendidikan; secara khusus jalur pendidikan formal.
Indonesia sebagai sebuah negara juga menjadikan pendidikan (formal) sebagai upaya yang diprioritaskan untuk membentuk SDM yang berkualitas seperti yang dimaksud. Indonesia memiliki keyakinan bahwa pendidikan yang berkualitas akan menjamin terbentuknya SDM yang berkualitas pula. Beranjak dari keyakinan itu pulalah yang mendorong pemerintah untuk serius menangani pendidikan di Indonesia yang salah satunya dengan mengawasi (mengendalikan) mutu atau kualitas pendidikannya termasuk peserta didik.
Demi mewujudkan keinginan agar peserta didik di Indonesia memiliki mutu atau kualitas yang bagus, pemerintah telah mendesain atau merancang suatu model evaluasi (yang berbentuk ujian akhir) bersama. Untuk siswa-siswa sekolah menengah (baik menengah pertama maupun menengah atas), standar kelulusannya (patokan keberhasilannya) telah ditetapkan secara nasional (berbentuk UAN); sedangkan untuk tingkat sekolah dasar (SD) pemerintah telah memformat suatu kebijakan baru, yang wujudnya Ujian Akhir Sekolah Berstandar Nasional (UASBN). Standar kelulusan dalam UASBN ini masih ditentukan oleh pihak sekolah sendiri.
Dalam dokumen sosialisasi UASBN (2008) yang dikeluarkan oleh Badan Standar Nasional Pendidikan (BSNP) tercantum tujuan UASBN sebagai berikut: pertama, menilai pencapaian kompetensi lulusan secara nasional pada mata pelajaran bahasa Indonesia, Matematika, dan Ilmu Pengetahuan Alam (IPA); dan kedua, mendorong tercapainya target wajib belajar pendidikan dasar yang bermutu. Selain dipaparkan tentang tujuan, dalam dokumen itu juga dibahas kegunaan hasil UASBN, yakni: (1) pemetaan mutu program dan/atau satuan pendidikan; (2) dasar seleksi masuk jenjang pendidikan berikutnya; (3) penentuan kelulusan peserta didik dari satuan pendidikan; dan (4) dasar pembinaan dan pembinaan dan pemberian bantuan kepada satuan pendidikan dalam upaya meningkatkan mutu pendidikan. Singkatnya semua itu dibuat dan dirancang oleh pemerintah demi tercapainya pendidikan yang berkualitas dan pada akhirnya adakan membentuk SDM yang handal.

II. Fakta
Di atas sudah dijelaskan bahwa semua bentuk program yang dibuat pemerintah di atas tidak lain memiliki tujuan utama agar pendidikan di Indonesia bermutu. Namun, perlu disadari bahwa untuk menggapai pendidikan yang bermutu atau berkualitas, ada banyak faktor yang ikut berpengaruh. Beberapa faktor yang dianggap paling penting adalah: (1) siswa, (2) guru, (3) orang tua, dan (4) sarana-prasarana. Apabila keempat hal ini, dari segi kuantitas dan kualitas terjamin, maka besar kemungkinan cita-cita atau keinginan untuk memperoleh pendidikan yang berkualitas dapat terwujud.
Dalam kenyataannya, begitu banyak sekolah di Indonesia yang jumlah gurunya masih sangat kurang. Selain jumlahnya kurang, mutu atau kualitas guru-guru yang ada pun masih tergolong rendah. Begitu pula dalam hal sarana dan prasarana. Dari media massa kita bisa mendengar dan melihat informasi atau berita tentang begitu banyak sekolah yang gedungnya rusak dan hancur; bahkan tidak jarang ada sekolah yang belum memiliki bangunan sendiri. Buku-buku dan perpustakaan yang tidak memadai dapat dengan mudah kita temukan di banyak sekolah.
Dari segi orang tua, masih banyak orang tua yang kurang memberikan perhatian lebih pada pendidikan anak-anaknya. Hal ini sangat dipengaruhi oleh latar belakang ekonomi orang tua siswa yang sebagian besar adalah masyarakat menengah ke bawah. Dengan kenyataan ini, tentunya banyak orang tua yang sebagian besar waktunya dipakai untuk bekerja mencari nafkah untuk menghidupi keluarga; pendidikan anak kemudian menjadi kurang diperhatikan. Efek lainnya adalah tidak dikontrolnya jam belajar anak di rumah. Berbagai masalah tersebut akan dengan sangat berpengaruh pada tinggi rendahnya kelulusan saat UASBN.
Di SDK Raka sendiri ada banyak masalah yang ditemukan yang memiliki pengaruh yang signifikan pada kelulusan para siswa saat UASBN. Masalah-masalah tersebut antara lain: (1) jumlah guru yang masih kurang, (2) sebagian besar orang tua siswa adalah petani, sehingga kurang adanya kontrol terhadap jam belajar anak di rumah, (3) sarana dan prasarana yang kurang memadai seperti buku-buku dan fasilitas perpustakaan yang masih kurang lengkap, dan (4) para siswa yang kurang memiliki minat baca.
Menghadapi pelbagai masalah itu, tentu bukan saatnya lagi bagi orang-orang yang berkecimpung, bergulat, dan bergelut dalam dunia pendidikan seperti guru, orang tua, dan siswa di SDK Raka untuk hanya tinggal diam dan berpangku tangan karena dengan begitu cita-cita atau keinginan untuk menggapai pendidikan yang bermutu (termasuk menghasilkan lulusan yang berkualitas) menjadi semakin jauh dari harapan. Tentunya dibutuhkan langkah-langkah yang sifatnya solutif dan tindakan nyata untuk menghadapi pelbagai tantangan itu.

III. Upaya untuk Mengatasi Rendahnya Kelulusan
Di atas sudah dipaparkan berbagai masalah yang menghambat tingginya (jumlah dan mutu/kualitas) lulusan, khususnya masalah-masalah yang dihadapi pihak SDK Raka. Menghadapi pelbagai masalah itu, hemat saya ada berbagai upaya atau solusi yang sangat penting dan mendesak untuk dilakukan agar cita-cita untuk mencapai jumlah dan mutu lulusan yang tinggi tercapai. Pelbagai upaya itu adalah sebagai berikut:
1. Meningkatkan jumlah dan kualitas guru
Kehadiran guru (pendidik) dalam suatu proses atau kegiatan belajar-mengajar merupakan suatu hal yang sangat diperlukan dan tidak bisa ditoleransi. Gurulah yang menjadi ujung tombak di sekolah formal. Hal ini mengingat fungsi guru sebagai seorang motivator dan fasilitator dalam proses pembelajaran. Sebagai seorang motivator dan fasilitator, guru harus kreatif dan mampu mendesain materi serta kegiatan pembelajaran yang merangsang anak untuk aktif dan berpikir kritis. Selain itu kehadiran guru di kelas juga akan mendukung upaya penciptaan makna serta suasana yang interaktif, baik antarsiswa sendiri maupun antara guru dengan para siswa.
Kemampuan untuk mendesain materi atau kegiatan pembelajaran belumlah dianggap cukup atau dianggap memadai karena jumlah guru di SDK Raka masih kurang. Jumlah guru yang kurang akan menyebabkan rasio perbandingan antara guru dengan siswa menjadi tidak seimbang (tidak normal); dan efek lanjutnya adalah pembimbingan yang dilakukan kepada para siswa pun menjadi kurang optimal. Dengan kenyataan itu kiranya pemerintah atau pihak-pihak yang terkait dengan urusan guru bisa menambah beberapa orang guru untuk melengkapi guru-guru yang sudah ada di SDK Raka.
2. Menambah persediaan buku-buku pelajaran
Supaya para siswa dapat berhasil (lulus) dalam UASBN tentunya mereka harus mempelajari berbagai materi yang sudah pernah mereka terima. Materi-materi itu secara lengkap tentunya ada di dalam buku-buku paket. Tetapi, bagaimana siswa bisa belajar dengan baik sementara buku-buku pelajaran yang ada di SDK Raka saja belum cukup. Dengan kenyataan itu usaha yang tidak kalah pentingnya adalah mengupayakan tersedianya buku-buku pelajaran (baik jumlah maupun jenisnya) yang dapat dipakai (dipinjam) oleh para siswa ketika mempersiapkan UASBN.
3. Menambah waktu belajar bagi siswa dan memperbanyak latihan
Di atas sudah dikemukakan bahwa sebagian besar orang tua siswa di SDK Raka adalah petani dan masyarakat yang secara ekonomi tergolong menengah ke bawah. Kenyataan itulah yang menyebabkan kemajuan belajar anak (para siswa) tidak dipantau oleh orang tua termasuk tidak diperhatikannya waktu untuk belajar. Dengan keadaan seperti ini, menjadi sesuatu yang amat penting untuk diupayakan di SDK Raka agar para siswa diwajibkan untuk menyisihkan sebagian waktunya di sore hari (misalanya selama 2 jam) untuk belajar bersama di sekolah (atau pun secara berkelompok) serta diisi dengan kegiatan latihan soal-soal. Kegiatan seperti ini pun tetap berada di bawah bimbingan dan pengawasan guru.
4. Mendorong para siswa untuk rajin membaca buku
Tidak bisa diingkari bahwa minat baca para peserta didik di Indonesia masih tergolong rendah. SDK Raka sebagai bagian dari negara Indonesia juga tidak luput dari persoalan ini. Menghadapi persoalan itu maka upaya yang dilakukan tidak lain adalah mendorong para siswa untuk rajin membaca. Adapun salah satu cara agar para siswa terdorong untuk membaca adalah dengan meminjamkan buku-buku kepada para siswa dan meminta agar para siswa wajib membaca buku-buku yang dipinjamnya. Setelah dibaca, para siswa harus mampu untuk mengemukakan kembali secara singkat apa inti pokok (isi) dari buku yang sudah ia baca itu.
5. Menyadarkan orang tua akan pentingnya memantau kemajuan belajar serta waktu belajar anaknya
Upaya ini dianggap penting karena disadari bahwa sebagian besar waktu para peserta didik adalah ada bersama orang tua. Selain itu orang tua dianggap sebagai pendidik yang pertama dan utama bagi anaknya. Jika orang tua tidak serius menangani dan memperhatikan kemajuan belajar anaknya, maka waktu yang banyak itu akan terbuang percuma. Upaya ini dapat disampaikan atau disosialisaikan kepada orang tua saat rapat para orang tua/wali siswa.

IV. Penutup
Kualitas atau kemajuan suatu negara amat dipengaruhi oleh SDM yang berkualitas. SDM yang berkualitas itu akan terbentuk melalui proses pendidikan, khususnya pendidikan formal. Salah satu kriteria keberhasilan sebuah proses pendidikan (formal) adalah seberapa tinggi (banyak) kelulusan para siswa (peserta didik) ketika mengikuti ujian (misalnya: UAN atau UASBN).
Tinggi rendahnya kelulusan amat dipengaruhi oleh banyak faktor. Beberapa faktor yang dianggap penting adalah guru, siswa, orang tua, dan sarana-prasarana. Kelulusan akan semakin baik (semakin tinggi) apabila jumlah dan kualitas guru terpenuhi, sarana dan prasarana (seperti: buku pelajaran dan perpustakaan) tersedia dengan lengkap, orang tua sungguh memperhatikan perkembangan atau kemajuan pendidikan anaknya, serta para peserta didik yang memiliki minat baca yang tinggi.

Senin, 03 November 2008

SEputar MANGGARAI

PRIORITASKAN PERTANIAN DAN PENDIDIKAN
(V. Sarwoyo)


Rasa-rasanya hampir sebagian besar warga NTT mengetahui kalau dalam beberapa bulan ke depan, di NTT akan diadakan Pemilu untuk memilih gubernur dan wakil gubernur yang akan memimpin NTT periode 2008-2013. Lagi-lagi pesta demokrasi akan terjadi. Pesta demokrasi yang disebut-sebut sebagai pesta rakyat ini merupakan kesempatan bagi semua warga yang memenuhi syarat untuk menggunakan hak pilihnya dalam menentukan siapa yang akan pantas dan layak memimpin NTT pada lima tahun ke depan.
Tentu bukan sesuatu yang asing lagi, kalau sebelum pemilu dilaksanakan, para kandidat yang akan ikut bertarung itu terlebih dahulu memaparkan kepada masyarakat tentang apa yang akan dibuatnya selama ia memimpin nantinya, yang dalam istilah yang cukup modern kita sebut sebagai visi dan misi. Tidak jarang juga saat ini digunakan sebagai kesempatan yang emas bagi para kandidat untuk mengumbar janji-janji palsu kepada masyarakat. Bahkan lebih dari itu, sesama kandidat juga biasanya menggunakan kesempatan ini untuk saling menjatuhkan satu sama lain dengan menceritakan kejelekan kandidat lain. Sesuatu yang tidak etis terjadi pada calon pemimpin tentunya.
Menghadapi situasi ini, warga NTT dihimbau untuk berjaga-jaga dan cermat. Dalam artian, warga diharapkan dapat dengan selektif memilih dan menentukan siapa sebenarnya yang pantas mengurusi berbagai persoalan yang terjadi. Sungguh sangat diharapkan agar warga NTT tidak hanya terbuai dengan “gombalan” sesaat para kandidat yang sebenarnya punya kepentingan individu yang terselubung atau motivasi yang lain jika akan terpilih. Harus belajar dari pengalaman tentunya.
Sebelum warga NTT dengan berani dan mantap menentukan siapa yang pantas memimpin pada lima tahun mendatang, tentunya terlebih dahulu harus diketahui siapa dari para kandidat tersebut yang memang menaruh perhatian besar terhadap berbagai persoalan mendasar yang sedang dihadapai saat ini. Hemat saya, ada dua persoalan mendasar yang sungguh telah menggerogot dan merenggut warga NTT selama berpuluh-puluh tahun. Dua masalah itu adalah kemiskinan dan SDM yang rendah.
Tidak dapat diingkari lagi bahwa sebagian besar warga NTT memang tergolong miskin. Dari berbagai berita di media massa, kita dapat membuktikan hal itu. Penyakit busung lapar, kelangkaan pangan, dan masih begitu banyak kenyataan lainnya. Selain itu masalah SDM yang rendah juga menyelimuti sebagian besar warga NTT. Fakta bahwa jumlah angka putus sekolah di NTT masih begitu tinggi.
Dua hal ini pada dasarnya saling berkaitan. Masalah yang satu mempengaruhi masalah yang lain. Kemiskinan menyebabkan SDM warga NTT rendah; di sisi lain SDM yang rendah juga menyebabkan kemiskinan. Dua masalah ini mungkin agak tepat kalau dikatakan sebagai bagian dari lingkaran setan yang mungkin cukup sulit untuk diberantas.
Namun bukan sesuatu yang mustahil kalau calon pemimpin NTT khususnya dan warga NTT umumnya memiliki tekad yang kuat untuk bisa menyingkirkan hal ini.
Dengan kenyataan seperti itu, tentunya ada dua hal pokok yang seharusnya menjadi prioritas calon pemimpin di NTT. Pertama, memiliki tekad yang kuat untuk memberantas kemiskinan yang telah sekian lama menggerogoti warga NTT. Salah satu alternatif yang dapat dilakukan adalah memberikan porsi perhatian yang lebih besar dalam bidang pertanian. Mengapa? Tidak dapat diragukan lagi bahwa sebagian besar warga NTT bermata pencaharian sebagai petani. Sebagai mayoritas, sungguh lebih bijaksana kalau pemeritah atau para pemimpin memberikan porsi perhatian lebih besar daripada yang minoritas. Tidak berarti bahwa yang minoritas tidak perlu diperhatikan.
Memang dalam kenyataan bahwa selama ini pemerintah sudah memberikan bantuan atau program yang bisa membantu rakyat kecil. Namun, berbagai bantuan itu kemudian menjadi mubazir lantaran pemerintah tidak dengan sungguh-sungguh menaganinya. Salah satu contoh nyatanya adalah proyek ubi aldira di Kabupaten Manggarai Barat. Dalam begitu banyak kebijakan yang ada, pemerintah NTT belum sepenuhnya memikirkan secara komprehensif dan matang sebelum mengambil suatu kebijakan; ada kesan terburu-buru dan asal-asalan, atau bahkan mungkin sekali ada motivasi pribadi yang ingin “digolkan” dalam kebijakan itu.
Hal kedua yang harus dan terus dilakukan pemerintah atau siapa saja yang akan memimpin NTT adalah memberikan perhatian yang lebih besar terhadap persolan dan masalah pendidikan. Persolan pendidikan merupakan persoalan yang sungguh-sungguh kompleks di NTT. Mulai dari masalah kekurangan guru, bangunan yang tidak memadai, gaji guru yang masih rendah, kualitas guru yang masih dipertanyakan, dan masih banyak masalah lainnya yang kiranya tidak cukup kalau dibeberkan semuanya. Perlu dipahami bahwa dalam sebuah negara atau daerah berkembang, pendidikan merupakan faktor kunci yang harus mendapat perhatian utama. Pertanyaannya adalah apakah NTT termasuk daerah berkembang atau tidak? Ini menjadi pertanyaan reflektif bagi pemerintah NTT atau siapa saja yang merasa diri pantas memimpin NTT yang sekiranya harus segera ditemukan jawabannya dan alternatif pemecahannya.
Dua hal ini yang kiranya pantas menjadi prioritas jika ingin membangun NTT. Memang efek nyata dari kebijakan ini sifatnya tidak instant; semuanya butuh waktu dan proses. Tentu berbeda halnya jika para calon pemimpin NTT langsung memberikan uang (atau material lain) kepada masyarakat untuk meraup dukungan. Artinya money politics terjadi dalam pilkada NTT. Yang satu ini jelas hasilnya langsung terasa. Sekarang kita mau memilih yang mana? Itu tergantung kita semua. Momentum peringatan satu abad kebangkitan nasional kiranya menjadi momen yang tepat bagi masyarakat, pemimpin, dan bahkan calon pemimpin NTT untuk bersama-sama bertekad dan bersatu padu membangun NTT, tidak lagi memprioritaskan kepentingan pribadi dan demi keuntungan sesaat. Mari kita pikirkan bersama nasib NTT pada masa-masa mendatang.


(Cat: Penulis, lahir di Manggarai; SMP-SMA di Seminari Pius XII Kisol. Sekarang mahasiswa PBSI, FKIP, Universitas Sanata Dharma, Yogyakarta).

Kaum Muda dan Daya Saing Bangsa

KEPEMIMPINAN DAN KETELADANAN:
Sumbangan Kaum Muda Terhadap Upaya
Peningkatan Daya Saing Bangsa


Ventianus Sarwoyo
PBSI, Universitas Sanata Dharma


I. Pendahuluan
Tidak bisa disangkal lagi bahwa memang saat ini, negara-negara di dunia telah memasuki suatu abad yang dikenal oleh banyak orang sebagai abad globalisasi. Abad globalisasi ini telah mengakibatkan runtuhnya sekat-sekat antarnegara. Runtuhnya sekat antarnegara inilah yang kemudian mengakibatkan timbulnya interaksi yang cukup bebas antara suatu negara dengan negara yang lain. Tidak sebatas interaksi saja, akibat lain adalah adanya suatu kebebasan bagi suatu negara untuk memasarkan hasil produk negaranya ke suatu negara yang lain. Dampak lanjut dari hal ini adalah adanya sikap saling bersaing antara suatu negara dengan negara lain.
Hal itu memang tidak bisa dimungkiri lagi. Itulah yang terjadi saat ini. Setiap negara berusaha mengerahkan segala potensi yang ada agar bisa bersaing di era pasar bebas itu dan agar tetap eksis. Begitu pulalah yang dialami dan sedang terjadi di Indonesia. Indonesia sebagai sebuah negara tentunya pula harus siap dan segera mengerahkan potensinya untuk dapat bersaing dengan negara lain.
Dalam upaya untuk bersaing dengan negara lain itu, siapa-siapa saja yang berperanaan di dalamnya? Yang pasti bahwa seluruh elemen masyarakat Indonesia harus ikut ambil bagian dalam usaha tersebut. Nah, kaum muda sebagai bagian dari masyarakat Indonesia, mampu berbuat apa berhadapan dengan situasi seperti itu? Pertanyaan inilah yang menjadi dasar pijak penulisan makalah ini. Jadi, makalah ini berusaha menguraikan pendapat penulis tentang apa dan bagaimana peran pemuda dalam upaya peningkatan daya saing bangsa Indonesia dengan bangsa lain?

II. Peran Kaum Muda
Mantan presiden RI, Soekarno pernah mengatakan “Beri aku tiga orang pemuda, maka aku akan mengubah dunia” (Bdk. http://djandjan.com/blog/?p=44). Pernyataan ini kelihatan sederhana tetapi sebenarnya mengandung makna yang begitu dalam terhadap peran kaum muda. Secara implisit pernyataan ini menggambarkan tentang peran kaum muda yang begitu sentral di negara atau dunia ini. Kaum muda diyakini sebagai orang yang mampu membawa perubahan. Hal ini sebenarnya didasari pada kenyataan bahwa kaum muda merupakan generasi penerus bangsa. Begitu banyak orang yang yakin bahwa kaum mudalah yang bisa menyelamatkan dunia ini.
Senada dengan apa yang diungkapkan Soekarno di atas, Hery Santosa (2005: 210) juga pernah mengungkapkan bahwa gerakan pemuda merupakan penentu sejarah zaman. Perjalanan sejarah bangsa Indonesia telah membuktikan dan menunjukkan peran kaum muda yang begitu besar. Hal itu dapat kita lihat dari berbagai peristiwa penting dan berharga di negeri ini yang dipelopori oleh kaum muda.

2.1 Fakta Masa Lampau Tentang Peran Pemuda
Generasi muda adalah penentu perjalanan bangsa di masa berikutnya. Mahasiswa sebagai inti dari generasi muda, mempunyai kelebihan dalam pemikiran ilmiah, selain semangat mudanya, sifat kritisnya, kematangan logikanya, dan “kebersihan”nya dari noda orde masanya. Mahasiswa adalah motor penggerak utama perubahan. Mahasiswa diakui perannya sebagai kekuatan pendobrak kebekuan dan kejemuan masyarakat.
Sejarah bangsa Indonesia telah menunjukkan dan membuktikan bahwa pemuda Indonesia memang senantiasa jadi pelopor atau pemimpin bangsanya dalam berbagai tahap perjuangan. Kebangkitan Nasional tahun 1908 dipelopori oleh orang-orang muda, Sumpah Pemuda tahun 1928, yang telah merekat bangsa ini menjadi bangsa yang satu jelas adalah karya para pemuda kita. Proklamasi 1945 dan perjuangan mempertahankan kemerdekaan juga dipelopori oleh pemuda. Demikian pula saat rakyat Indonesia berusaha menyingkirkan rezim orde baru, pemuda tetaplah menjadi yang terdepan (Bdk. www. ginandjar.com).
Tidak beda jauh dengan apa yang dikemukakan di atas, Fanar Syukri (dalam
http://www.ppi-jepang.org/print.php?id=1) juga memaparkan tentang peran pemuda atau mahasiswa dalam lima gelombang nasionalisme di Indonesia, yang berulang hampir dua puluh tahun sekali, yaitu:
a. Nasionalisme Gelombang Pertama: Kebangkitan Nasional 1908
Dalam sejarah dikemukakan bahwa gerakan kebangkitan nasional Indonesia pada dasarnya diawali oleh organisasi Boedi Oetomo pada tahun 1908 dengan dimotori oleh para mahasiswa kedokteran Stovia, tempat sekolah anak priyayi Jawa, di sekolah yang disediakan Belanda di Djakarta.

b. Nasionalisme Gelombang Kedua: Sumpah Pemuda 1928
Dua puluh tahun setelah kebangkitan nasional, ternyata para pemuda tetap tidak mau tinggal diam. Mereka tetap berjuang dan berusaha dengan caranya masing-masing untuk memperjuangkan nasib bangsa Indonesia, sehingga sampai saatnya pada 28 Oktober 1928 mereka (para pemuda) yang merupakan gabungan Jong Java, Jong Celebes, Jong Sumatera, dan sebagainya bersatu dan berani mengucapkan sumpah yang kita kenal sebagai Sumpah Pemuda yang di dalamnya dinyatakan tentang kesadaran kaum muda untuk menyatukan negara, bangsa, dan bahasa ke dalam satu negara, bangsa, dan bahasa yaitu Indonesia.

c. Nasionalisme Gelombang Ketiga: Kemerdekaan 1945
Kurang dari 20 tahun (yaitu 17 tahun) setelah peristiwa Sumpah Pemuda, di negara kita terjadi lagi sebuah peristiwa sejarah yang sangat besar dan banyak dikenang orang. Peristiwa itu adalah peristiwa kemerdekaan. Pada peristiwa ini pun, kaum muda memiliki perannya tersendiri. Kalau kita dengan teliti membaca dalam buku-buku sejarah, akan kita temukan informasi yang berisi tentang penyingkiran Soekarno dan Hatta oleh para pemuda menuju ke Rengasdengklok. Penyingkiran itu, oleh para pemuda dimanfaatkan benar-benar untuk mendorong dan memaksa Soekarno dan Hatta untuk segera memproklamasikan kemerdekaan RI.

d. Nasionalisme Gelombang Keempat: Lahirya Orde Baru 1966
Dua puluh tahun setelah peristiwa kemerdekaan, di negara RI terjadi lagi sebuah peristiwa besar yaitu terjadinya pemberontakan G30S. Di sini pun pemuda atau mahasiswa memiliki peran. Tanpa peran besar mahasiswa dan organisasi pemuda serta organisasi sosial kemasyarakatan di tahun 1966, Soeharto dan para tentara tidak mungkin bisa merebut kekuasaan dari penguasa orde lama.

e. Nasionalisme Gelombang Kelima: Lahirnya Orde Reformasi 1998
Berbeda dengan nasionalisme-nasionalime gelombang sebelumnya yang berselang sekitar 20 tahun, nasionalisme gelombang kelima ini memiliki rentang waktu yang cukup panjang (lebih dari 20 tahun, bahkan mencapai 32 tahun) dari nasionalisme gelombang sebelumnya (yaitu nasionalisme gelombang keempat). Hal ini tidak lain karena kuatnya rezim orde baru mempertahankan kekuasaannya dengan berbagai cara dan tindakan. Namun, meskipun rezim orde baru semakin gigih melanggengkan kekuasaannya, ternyata tekanan pemuda dan mahasiswa masih lebih kuat dan tidak bisa dibendung lagi sehingga pada Mei 1998, rezim orde baru “runtuh”, dengan lengsernya penguasa utama Soeharto dari kursi kepresidenan.
Sebagian besar warga Indonesia mengetahui apa yang terjadi pada Mei 1998 itu dan juga mengetahui apa dan bagaimana peran mahasiswa dalam peristiwa itu. Peristiwa runtuhnya rezim orde baru ini tentunya tidak bisa dipisahkan dari usaha dan perjuangan para mahasiswa dan pemuda. Jadi, saat itu pun ternyata pemuda atau mahasiswa juga memegang peran utama atau peran kunci.

2.2 Peran Pemuda Saat Ini
Dari pembahasan di atas, kita telah mengetahui apa dan bagaimana sebenarnya peran kaum muda pada masa lampau (pada masa penjajahan sampai dengan runtuhnya orde baru). Ternyata para pemuda memegang peranaan yang utama dan sentral. Pemuda selalu menjadi pelopor atau pemimpin terhadap berbagai pergerakan nasional. Yang menjadi pertanyaan selanjutnya adalah apakah peran kaum muda yang selalu menjadi pelopor atau pemimpin (seperti yang tampak pada masa penjajahan sampai dengan runtuhnya orde baru) masih tampak pada masa sekarang ini?
Dalam sebuah tulisannya yang berjudul “Semangat Pemuda Meredup”, B. E. Satrio menyimpulkan bahwa pada dasarnya peran kaum muda dalam kehidupan bernegara saat ini kian meredup. Kesimpulan B. E. Satrio ini didasarkan pada hasil jajak pendapat yang dilakukan Litbang Kompas pada 16-17 Oktober 2006. Jajak pendapat ini mengambil responden yang berusia minimal 17 tahun sebanyak 886 orang yang dipilih secara acak menggunakan metode pencuplikan sistematis dari buku telepon terbaru. Responden berdomisili di 32 propinsi dengan jumlah responden di setiap kota ditentukan secara proposional (Bdk. http://www.kompas.com/kompas‑cetak/0610/30/Politikhukum/3055911.htm.)
Dari jajak pendapat ini, ada berbagai tanggapan dari responden, antara lain: pertama, 38,8 % responden memberikan apresiasi positif terhadap peran pemuda dalam memperbaiki kerukunan antaretnis, sementara lebih dari separuh (52,7 %) responden lainnya mengatakan sebaliknya bahwa peran pemuda selama ini justru memperburuk keadaan. Kedua, 44,1 % responden menilai positif peran generasi muda dalam memperbaiki kerukunan antarkelompok, seperti antarpendukung partai atau tokoh politik tertentu, sementara 48,4 % responden lainnya menilai bahwa peran generasi muda selama ini justru memperburuk kerukunan antarkelompok politik dalam masyarakat.
Ketiga, tidak kurang dari 51,6 % responden menilai generasi muda saat ini sudah bersikap kritis terhadap persoalan bangsa yang menyangkut konflik di masyarakat, sementara sebagian yang lain (44,8 %) memberikan penilaian sebaliknya. Keempat, 36,8 % responden mengapresiasi positif keterlibatan pemuda dalam masalah sosial dan kesejahteraan rakyat, sementara lebih dari separuh (60,5 %) responden tidak puas dengan kiprah kaum muda di bidang sosial ini. Kelima, 32,6 % responden puas dengan keterlibatan langsung pemuda dalam persoalan politik, sementara 64 % belum puas.
Keenam, tidak kurang dari 58,8 % responden menyetujui bahwa kaum muda saat ini lebih mementingkan diri sendiri daripada masyarakat, sementara 37,7 % yang lain menolak anggapan itu. Ketujuh, tidak kurang dari 65,8 % responden setuju dengan anggapan bahwa generasi muda saat ini cenderung bersikap konsumtif daripada produktif.
Dari berbagai data yang diperoleh dari hasil jajak pendapat yang dilakukan Kompas di atas kiranya tidak sulit bagi kita untuk menyimpulkan bahwa memang sikap keteladanan dan kepeloporan atau kepemimpinan kaum muda seperti yang tampak pada masa penjajahan sampai orde baru tidak tampak lagi pada masa sekarang ini. Justru sebaliknyalah yang dilakukan oleh kaum muda. Kaum muda kita justru telah menjadi semakin egois, konsumtif, tidak peduli, dan lain sebagainya. Lalu pertanyaan selanjutnya adalah apakah dengan keadaan atau kondisi seperti itu, pemuda masih bisa memberikan sumbangan atau berperan dalam upaya peningkatan daya saing bangsa ini dengan bangsa-bangsa lain?

2.3 Apa yang Perlu Dilakukan Pemuda Sekarang?
Menghadapi berbagai situasi seperti yang telah dipaparkan Satrio di atas, kiranya sudah saat bagi pemuda untuk berubah dan berintrospeksi diri. Sudah waktunya bagi kaum muda untuk tidak lagi menutup mata terhadap berbagai persoalan bangsa ini. Kaum muda hendaknya bersatu padu untuk menyelamatkan bangsa yang masih terbelakang dan sudah diambang kehancuran ini. Sebagai bagian dari bangsa Indonesia dan sebagai generasi penerus bangsa, pemuda sudah saatnya harus sadar dan segera mengambil sikap dan tindakan untuk menunjukkan dan membuktikan kepada bangsa Indonesia bahwa memang kaum muda ada dan merupakan agen perubahan.
Hemat penulis, ada dua hal utama yang harus dimiliki pemuda atau kaum muda saat ini untuk bisa memberikan andil yang besar dalam upaya meningkatkan daya saing bangsa ini dengan bangsa-bangsa lain. Kedua hal itu adalah: pertama, kaum muda harus mampu memimpin, dan kedua, kaum muda harus mampu memberikan teladan. Sifat-sifat seperti inilah yang dibutuhkan oleh kaum muda pada masa sekarang ini karena memang tugas itu cocok untuk kaum muda yang memang diyakini sebagai generasi penerus dan bahkan dikenal sebagai agent of change.
Mengapa diperlukan kaum muda yang harus mampu memimpin? Fakta sejarah bangsa Indonesia telah membuktikan bahwa kaum muda selalu menjadi pelopor atau pemimpin dalam berbagai pergerakan nasional namun saat ini sikap kepeloporan atau kepemimpinan kaum muda itu sudah tidak tampak lagi. Karena itu sudah saatnya sikap kepeloporan atau kepemimpinan itu ditumbuhkembangkan kembali apalagi dengan kondisi pemimpin bangsa kita saat ini yang tidak lagi benar-benar memimpin tetapi malah menuntun bangsa ini ke jurang kehancuran yang salah satunya dengan praktik korupsi. Padahal kita tahu bahwa masalah yang paling besar dan paling banyak dihadapi bangsa ini yang membuat bangsa ini selalu terbelakang dan tidak bisa bersaing dengan bangsa-bangsa lain adalah masalah korupsi.
Berkaitan dengan kepemimpinan atau kepeloporan kaum muda, Kartasasmita mengemukakan bahwa ada tiga aspek penting yang perlu diperhatikan, yaitu membangun semangat, kemampuan, dan pengamalan (www.ginandjar.com). Kepeloporan atau kepemimpinan jelas menunjukkan sikap berdiri di muka, merintis, membuka jalan, dan sesuatu untuk diikuti, dilanjutkan, dikembangkan, dipikirkan oleh orang lain. Dalam kepeloporan ada unsur menghadapi resiko. Kesanggupan untuk memikul resiko ini menjadi sangat penting dalam setiap perjuangan. Dalam zaman modern seperti sekarang ini, kehidupan manusia mejadi semakin kompleks sehingga resiko yang timbul pun kian kompleks. Meminjam istilah Giddens “modernity is a risk culture” (www.ginandjar.com). Untuk menghadapi berbagai resiko itu, sangatlah diperlukan sikap tangguh baik mental maupun fisik dari para pemuda. Tidak semua orang dapat dan berani mengambil jalan yang penuh resiko. Kepemimpinan bisa berada di mana saja, entah itu di depan, di tengah, atau pun di belakang, seperti ungkapan “ing ngarso sung tulodo, ing madyo mangun karso, dan tut wuri handayani”.
Tidak hanya sikap kepeloporan atau kepemimpinan, sikap lain yang harus ditunjukkan pemuda adalah mampu memberikan teladan yang baik. Sikap keteladanan harus dimiliki pemuda mengingat saat ini, bangsa ini telah kehilangan pemimpin, tokoh, dan sosok yang bisa diteladani. Pemimpin bangsa ini sekarang lebih banyak mementingkan kesejahteraan pribadi, korupsi, hanya mengumbar janji untuk meraup dukungan, melakukan politik uang, dan masih begitu banyak tindakan negatif lainnya. Sudah begitu banyak warga masyarakat yang mulai kehilangan kepercayaan terhadap pemimpin (pemerintah) kita saat ini. Di tengah keadaan seperti itu, kiranya kehadiran tokoh kaum muda yang bisa diteladani banyak orang (masyarakat) sungguh relevan dan sangat penting. Keteladanan yang dimaksud jelas berkaitan dengan sikap atau perilaku yang diidealkan atau dicita-citakan banyak orang (warga masyarakat).

III. Penutup
Tidak bisa disangkal lagi bahwa era globalisasi telah merambah ke berbagai belahan dunia. Globalisasi ini telah membuat setiap negara bersaing untuk tetap eksis. Begitu pulalah yang dialami oleh Indonesia sebagai sebuah negara. Untuk bisa bersaing, semua elemen masyarakat Indonesia tentunya harus ikut berperan. Kaum muda sebagai bagian dari masyarakat Indonesia tentunya dituntut untuk memiliki peran tersendiri. Ada dua peran pokok atau utama yang harus dimiliki oleh kaum muda dalam upaya memberikan sumbangan terhadap upaya meningkatkan daya saing bangsa Indonesia dengan bangsa lain. Kedua peran itu adalah pertama, kaum muda harus mampu memimpin, dan kedua, kaum muda harus bisa memberikan teladan yang baik kepada masyarakat Indonesia.


DAFTAR PUSTAKA


Bharuna, Bayu. “Insan Alam yang Menjenguk Gurunya” dalam
http://djandjan.com/blog/?p=44. Diakses 24 Sepetember 2007.

Kartasasmita, Ginandjar. 1997. “Kepeloporan dan Kepemimpinan: Peran Pokok Pemuda Dalam Pembangunan” dalam www. ginandjar.com. Diakses 20 September 2007.

Santosa, Hery. 2005. “Gerakan Pemuda, Penentu Sejarah Zaman” dalam Pedoman Insadha 2005. Yogyakarta: Universitas Sanata Dharma.

Satrio, B.E. 2006. “Semangat Pemuda Meredup” dalam
http://www.kompas.com/ kompas-cetak /0610/30/Politikhukum/3055911.htm. Diakses 17 September 2007.

Syukri, fanar. 2003. “Peran pemuda dalam 20 Tahunan Siklus Nasionalisme Indonesia (Refleksi 75 tahun Soempah Pemoeda, 1928-2003)” dalam
http://www.ppi-jepang.org/print.php?id=1. Diakses 27 September 2007.


Minggu, 02 November 2008

Kejar Daku, Kau Kutangkap!

KEJAR DAKU, KAU KUTANGKAP !

Ventianus Sarwoyo

Lahir di Raka, Manggarai Barat, 30 Januari 1987. Menyelesaikan SMP dan SMA di Seminari Pius XII Kisol. Sekarang menempuh pendidikan di Universitas Sanata Dharma, Yogyakarta.

Pos Kupang edisi Minggu, 17 Februari 2008 memberitakan sebuah drama kekerasan terhadap insan pers yang terjadi di Labuan Bajo ibukota Kabupaten Manggarai Barat, yang nota bene merupakan sebuah kabupaten “muda”. Sebuah berita yang hemat saya memuat suatu kejadian yang baru bagi sebagian warga NTT, khususnya Manggarai. Baru yang dimaksud karena menimpa pihak pers atau media massa. Tentu karena ‘kebaruannya’ inilah yang kemudian menyimpan setumpuk pertanyaan bagi sebagian besar warga masyarakat. Bagi saya, ada suatu pertanyaan awal yang mungkin klasik yaitu “mengapa ini terjadi?”
Tanpa bermaksud mengkaji lebih dalam terhadap apa yang sesungguhnya terjadi, apalagi kasus ini belum menemukan titik terang dan masih ditangani pihak berwajib untuk diselidiki, saya hanya melihat satu hal yang pokok dan substansial yaitu bahwa pemahaman dan kesadaran sebagian besar warga masyarakat (rakyat dan pemerintah) terhadap posisi dan peran pers atau media massa masih sangat rendah. Tidak jarang warga masyarakat (rakyat dan pemerintah) memiliki pemahaman yang keliru akan keberadaan dan fungsi pers dalam kehidupan bersama. Sehingga sering terjadi warga masyarakat, rakyat maupun pemerintah “mengamuk” kepada media massa atau pers manakala media massa atau pers berani mengungkapkan kebobrokan yang ada dalam dirinya (baca: dalam masyarakat). Posisi dan peran pers yang dimaksud jelas sebagai wahana kontrol sosial.
Kontrol sosial yang dijalankan pers sesungguhnya kontrol sosial yang tidak memihak siapa-siapa. Dalam artian, pers menjalankan perannya sebagai wahana kontrol sosial secara berimbang. Tidak semata-mata hanya berpihak pada pemerintah atau tidak semata-mata berpihak pada rakyat saja. Pers menjadi wahana kontrol sosial dari rakyat kepada pemerintah manakala pemerintah menjalankan roda pemerintahannya melenceng dari aturan yang telah berlaku. Sebaliknya pers menjadi wahana kontrol dari pemerintah kepada masyarakat atau dari warga masyarakat yang satu kepada warga masyarakat yang lain manakala warga masyarakat telah berbuat menyimpang dari aturan dan tatanan kehidupan bersama yang telah disepakati.
Satu hal lagi yang penting dan perlu dipahami bersama oleh rakyat dan pemerintah adalah bahwa dalam posisi dan perannya sebagai wahana kontrol sosial, pers merupakan sebuah lembaga yang independen, yang bebas dari segala bentuk campur tangan pihak luar. Kalau posisi dan peran pers yang seperti ini sungguh-sungguh dipahami oleh rakyat dan pemerintah, niscaya masyarakat ideal akan terwujud. Bahkan tidak bisa dielak lagi, suatu masyarakat akan disebut sebagai masyarakat yang demokratis manakala masyarakat tersebut sungguh menjunjung tinggi dan menghargai kebebasan pers atau media massa.
Dalam suatu masyarakat yang demokratis, yang mana kebebasan pers sungguh sangat diperjuangkan dan dijunjung tinggi, sikap terbuka dan lapang dada dari rakyat dan pemerintah tentunya mutlak diperlukan. Terbuka dan lapang dada yang dimaksud tidak lain adalah terbuka dan lapang dada untuk menerima kritik, usul, dan saran demi semakin sempurnanya kehidupan bersama. Kritik, usul, dan saran itu pada dasarnya disampaikan melalui sebuah media yang sifatnya independen yang bisa menjembatani kehidupan bersama termasuk menjembatani kepentingan rakyat dan pemerintah, yaitu pers atau media massa. Pemerintah harus terbuka dan lapang dada kepada pers atau media massa ketika pers atau media massa itu menyuarakan masukan, usul, saran, dan kritik dari rakyat berkaitan dengan roda pemerintahan yang sedang berjalan atau pun berkaitan dengan kebijakan-kebijakan pemerintah yang tidak tepat menurut rakyat banyak. Di sisi lain, rakyat harus dengan lapang dada pula menerima masukan dari pemerintah atau pun dari sesama rakyat manakala ada yang belum beres dalam kehidupan bersama.
Sangat pasti, dalam sebuah negara atau daerah yang berani mengatakan diri sebagai negara atau daerah yang menjunjung tinggi kehidupan demokrasi, rakyat atau pemimpin yang otoriter tidak mendapatkan tempatnya. Negara atau daerah demokratis bukanlah tempat bagi para preman atau mafia yang selalu ingin memenangkan diri sendiri dan selalu ingin menggolkan cita-cita pribadi, bukan pula lahan empuk bagi penjahat yang selalu ingin berfoya-foya di atas kesengsaraan orang lain dan yang selalu ingin menguasai serta tidak mau menerima kritikan dari pihak lain.
Sudah waktunya, dalam sebuah negara atau daerah yang demokratis, rakyat atau pemerintah yang ‘keras kepala’ yang selalu ingin menang sendiri, harus berani mengangkat kaki dan tidak perlu takut dan malu untuk berkata “saya mundur dari persaingan ini”. Persaingan yang dimaksud adalah persaingan untuk menjadi rakyat atau pemerintah yang selalu ingin mendengarkan orang lain serta selalu terbuka atas berbagai masukan dan kritik yang bersifat konstruktif, serta menjunjung tinggi kebebasan pers yang menjembatani kepentingan seluruh lapisan warga masyarakat.
Ungkapan klasik yang berbunyi “kejar daku, kau kutangkap” tentunya tidak berlaku bagi sebuah negara atau daerah yang sangat demokratis dan menjunjung tinggi kebebasan pers. Mungkin istilah kejar itu sangat kasar dan frontal tetapi kejar yang dimaksud penulis adalah mengkritik. Kalau kita dikritik/dikejar karena kesalahan kita, sebagai seorang yang bertanggung jawab, kita tentunya tidak lari dan mencari dalih serta cara untuk “menangkap” orang/pihak yang mengkritik kita. Tetapi sungguh sangat bijaksana kalau kita menerima dengan tangan terbuka dan lapang dada segala bentuk kritik dan masukan pihak lain yang mungkin lebih konstruktif. Sekian !!!

Pengembangan Kepribadian

PBSID-USD Selenggarakan PPKM II

Program Studi PBSID, FKIP menyelenggarakan kegiatan Pelatihan Pengembangan Kepribadian Mahasiswa Tahap II pada hari Selasa (12/08) sampai Kamis (14/08) di Kampus II Mrican. Kegiatan PPKM II ini merupakan kelanjutan dari PPKM I yang sudah diselengarakan universitas pada Januari 2008 yang lalu. Semua kegiatan ini merupakan bagian dari upaya mewujudnyatakan motto Memadukan Keunggulan Akademik dan Nilai-Nilai Humanistik yang selalu dikedepankan USD dan dalam rangka memberikan pendampingan yang utuh kepada mahasiswa.
Pelatihan yang diikuti lebih kurang 84 mahasiswa angkatan 2008 ini difasilitatori oleh tiga orang dosen PBSID, yakni Drs. G. Sukadi, Drs. P. Hariyanto, dan L. Rishe Purnama Dewi, S. Pd., yang juga bertindak sebagai ketua panitia. Dalam PPKM II ini, ada tiga kebiasaan yang disoroti, yakni berpikirlah menang-menang, berusahalah dahulu memahami baru dipahami), dan bersinergilah. Ketika diwawancarai secara tetulis berkaitan dengan manfaat apa yang diperoleh selama mengikuti PPKM, Riko, salah satu mahasiswa PBSID angkatan 2007 dengan lugas menjawab “Saya mulai mengerti bagaimana kebiasaan-kebiasaan orang yang berhasil.”

(Peliput: Tian Sarwoyo, PBSID-USD)

Pengembangan Kepribadian

PBSID-USD Selenggarakan PPKM II

Program Studi PBSID, FKIP menyelenggarakan kegiatan Pelatihan Pengembangan Kepribadian Mahasiswa Tahap II pada hari Selasa (12/08) sampai Kamis (14/08) di Kampus II Mrican. Kegiatan PPKM II ini merupakan kelanjutan dari PPKM I yang sudah diselengarakan universitas pada Januari 2008 yang lalu. Semua kegiatan ini merupakan bagian dari upaya mewujudnyatakan motto Memadukan Keunggulan Akademik dan Nilai-Nilai Humanistik yang selalu dikedepankan USD dan dalam rangka memberikan pendampingan yang utuh kepada mahasiswa.
Pelatihan yang diikuti lebih kurang 84 mahasiswa angkatan 2008 ini difasilitatori oleh tiga orang dosen PBSID, yakni Drs. G. Sukadi, Drs. P. Hariyanto, dan L. Rishe Purnama Dewi, S. Pd., yang juga bertindak sebagai ketua panitia. Dalam PPKM II ini, ada tiga kebiasaan yang disoroti, yakni berpikirlah menang-menang, berusahalah dahulu memahami baru dipahami), dan bersinergilah. Ketika diwawancarai secara tetulis berkaitan dengan manfaat apa yang diperoleh selama mengikuti PPKM, Riko, salah satu mahasiswa PBSID angkatan 2007 dengan lugas menjawab “Saya mulai mengerti bagaimana kebiasaan-kebiasaan orang yang berhasil.”

(Peliput: Tian Sarwoyo, PBSID-USD)

Berita seputar PBSI dan USD

PBSID,Universitas Sanata Dharma:
Mengasah Softskill Mahasiswa melalui PPKM II


Program Studi PBSID, FKIP, Universitas Sanata Dharma menyelenggarakan kegiatan Pelatihan Pengembangan Kepribadian Mahasiswa (PPKM) Tahap II pada hari Selasa (12/08) sampai Kamis (14/08) di Kampus II Mrican. Kegiatan PPKM II ini merupakan lanjutan dari PPKM I yang sudah diselenggarakan pihak universitas pada Januari 2008 yang lalu. Pelatihan yang diikuti kurang lebih 84 mahasiswa angkatan 2007 ini difasilitatori oleh tiga orang dosen PBSID, yakni Drs. G. Sukadi, Drs. P. Hariyanto, dan L. Rishe Purnama Dewi, S. Pd., yang juga bertindak sebagai ketua panitia.
Kegiatan PPKM ini merupakan suatu kegiatan unggulan dan kekhasan yang dimiliki USD. Semua kegiatan PPKM ini merupakan bagian dari upaya mengasah softskill mahasiswa, dan lebih dari itu misi besarnya adalah mewujudnyatakan motto Memadukan Keunggulan Akademik dan Nilai-Nilai Humanistik yang selalu dikedepankan USD. Kegiatan pengembangan kepribadian ini juga merupakan bagian dari rangkaian upaya memberikan pendampingan yang utuh kepada mahasiswa. USD merasa bahwa tidak cukup kalau para mahasiswanya hanya dibekali dan dijejali dengan berbagai hal yang sifatnya teoretis. Agar mencapai suatu perkembangan yang utuh, matang, dan seimbang dalam diri seorang individu, di samping penguasaan terhadap hal-hal yang sifatnya teoretis (kognitif), seseorang juga harus perlu dilengkapi dengan berbagai hal yang sifatnya afektif. Dalam istilah lain yang mungkin lebih keren dan populer pada saat ini adalah kecerdasan emosional.
Kenyataan yang terjadi di lapangan tidak mungkin kita pungkiri lagi. Saat ini dunia kerja tidak lagi membutuhkan orang-orang yang hanya cerdas secara inteletuktual namun “mati” dalam hal sikap/kepribadian; tidak lagi memerlukan manusia-manusia seperti “robot berjalan”. Yang dicari dan dapat diandalkan pada zaman sekarang adalah orang-orang seimbang dari segi kognitif, afektif, dan psikomotorik; orang-orang yang memiliki kepribadian dan karakter yang kuat; dan orang-orang yang memiliki rasa kemanusiaan. Berangkat dari kenyataan seperti ini pula yang (mungkin) telah mengilhami para pimpinan USD untuk merancang kegiatan yang memungkinkan para mahasiswanya cerdas secara emosional, selain cerdas secara intelektual.
Kegiatan PPKM ini sifatnya wajib bagi para mahasiswa USD. Pada tahun-tahun yang lalu, kegiatan PPKM ditangani secara langsung oleh pihak universitas yang dikomandoi Wakil Rektor (WR) Bidang Kemahasiswaan; biasanya kegiatan ini hanya dijalankan sekali untuk tiap angkatan. Hal itu berbeda dengan yang terjadi pada tahun ini. Pihak universitas merancang kegiatan PPKM dalam 2 tahap. PPKM tahap I diselenggarakan pihak universitas, sedangkan PPKM II langsung ditangani oleh program studi. Walaupun semuanya tetap berada di bawah koordinasi WR Bidang Kemahasiswaan.
Dibedakannya PPKM menjadi PPKM I dan II juga dipengaruhi oleh jenis kebiasaan yang ingin dikedepankan. Dalam PPKM I, kebiasaan yang dikedepankan adalah jadilah proaktif, mulailah akhir dalam pikiran, dahulukanlah hal yang harus didahulukan. Kebiasaan-kebiasaan ini berhubungan dengan pengendalian diri. Jika ketiga kebiasaan ini berhasil dikuasai seseorang, maka orang tersebut akan mencapai kemenangan pribadi (private victory). Hal itu akan berbeda dengan kebiasaan yang dikembangkan dalam PPKM II. Kebiasaan-kebiasaan pada PPKM II berhubungan dengan menjalin relasi dengan sesama dan bekerja dalam tim, yakni berpikirlah menang-menang, berusahalah dulu memahami baru dipahami, bersinergilah. Seseorang yang berhasil dalam mengembangkan kebiasaan-kebiasaan ini, orang tersebut akan mencapai kemenangan bersama (public victory)
Kegiatan pelatihan ini dirancang sedemikian rupa sehingga para peserta (mahasiswa) tidak merasa bosan. Berbagai jenis permainan energizer dikombinasikan dengan berbagai permainan pengantar materi membuat para mahasiswa semakin enjoy mengikuti kegiatan itu. Nyanyian-nyanyian yang disertai gerakan dan jingle-jingle yang dirancang para peserta sendiri semakin memeriahkan suasana kegiatan yang berlangsung selama 3 hari itu. Selain “dibumbui” dengan permainan, pelatihan ini juga diisi dengan pengerjaan lembar-lembar kerja sebagai bentuk simulasi serta lembar refleksi.

(Peliput: Ventianus Sarwoyo, mahasiswa PBSID-USD)

Rabu, 29 Oktober 2008

Tentang Aku

FKIP 29 Oktober 2007 07:31:05
KEPEMIMPINAN DAN KETELADANAN: Sumbangan Kaum Muda Terhadap Upaya Peningkatan Daya Saing Bangsa

Kalimat di atas adalah judul makalah garapan Ventianus Sarwoyo mahasiswa program studi Pendidikan Bahasa Sastra Indonesia & Daerah FKIP USD, yang menjadi Juara I dalam Lomba Penulisan Makalah Ilmiah Peranan Pemuda Dalam Peningkatan Daya Saing Bangsa. Lomba ini digelar oleh Himpunan Mahasiswa Program Studi Pendidikan Ekonomi dan Pendidikan Akuntansi (HIMAPADU) FKIP USD Sabtu (27/10) di Ruang Driyarkara Gedung Pusat USD.Dalam makalahnya, Ventianus Sarwoyo memaparkan sejarah bangsa Indonesia telah menunjukkan dan membuktikan bahwa pemuda Indonesia memang senantiasa jadi pelopor atau pemimpin bangsanya dalam berbagai tahap perjuangan. Kebangkitan Nasional tahun 1908 dipelopori oleh orang-orang muda, Sumpah Pemuda tahun 1928 yang telah merekat bangsa ini menjadi bangsa yang satu jelas adalah karya para pemuda. Proklamasi 1945 dan perjuangan mempertahankan kemerdekaan juga dipelopori oleh pemuda. Demikian pula saat rakyat Indonesia berusaha menyingkirkan rezim orde baru, pemuda tetaplah menjadi yang terdepan. Hal tersebut merupakan fakta peran pemuda di masa lampau.Lalu, apa yang perlu dilakukan pemuda sekarang? Lebih lanjut Ventianus Sarwoyo menyebutkan dua hal utama yang harus dimiliki kaum muda saat ini untuk bisa memberikan andil yang besar dalam upaya meningkatkan daya saing bangsa ini dengan bangsa-bangsa lain. Pertama, kaum muda harus mampu memimpin dan kedua, kaum muda harus mampu memberikan teladan. Kepemimpinan bisa berada di mana saja, entah itu di depan, di tengah, atau pun di belakang, seperti ungkapan "ing ngarso sung tulodo, ing madyo mangun karso, dan tut wuri handayani”.Tidak hanya sikap kepeloporan atau kepemimpinan, sikap lain yang harus ditunjukkan pemuda adalah mampu memberikan teladan yang baik. Pemimpin bangsa ini sekarang lebih banyak mementingkan kesejahteraan pribadi, korupsi, hanya mengumbar janji untuk meraup dukungan, melakukan politik uang, dan masih begitu banyak tindakan negatif lainnya. Sudah begitu banyak warga masyarakat yang mulai kehilangan kepercayaan terhadap pemimpin (pemerintah) kita saat ini. Di tengah keadaan seperti itu, kiranya kehadiran tokoh kaum muda yang bisa diteladani banyak orang (masyakarat) sungguh relevan dan sangat penting. Keteladanan yang dimaksud jelas berkaitan dengan sikap atau perilaku yang diidealkan atau dicita-citakan banyak orang (warga masyarakat), demikian Ventianus Sarwoyo menegaskan.Lomba penulisan makalah ilmiah yang menjadi salah satu program kerja HIMAPADU ini terbuka bagi seluruh mahasiswa USD untuk menjadi peserta lomba. Jumlah makalah yang masuk sebanyak 9 makalah, hanya 5 makalah yang bisa lolos seleksi. Hadir sebagai dewan juri adalah Dra. C. Wigati Retno Astuti, M.Si., Y.M.V. Mudayen, S.Pd., dan B. Indah Nugraheni, S.Pd., SIP. Selain Juara I yang tersebut di atas, Juara II diraih oleh Ignatius Bayu Sudibyo, mahasiswa program studi Pendidikan Sejarah FKIP dengan judul makalah “Belajar dari Nilai-nilai Budaya dan Sejarah Bangsanya”, dan Juara III diraih oleh Erlyna Ekawati, mahasiswa program studi Fisika FST dengan judul makalah “Fenomena Kepeloporan dan Kepemimpinan Pemuda dalam Mendongkrak Daya Saing Bangsa”. (Atk)

Resensi Buku Sastra

MENGGALI SISI-SISI SEJARAH YANG TERLUPAKAN

Judul : Pergolakan Daerah
Penulis : Soewardi Idris
Penerbit : Beranda
Tahun : 2008
Halaman : xxiii + 320


Pergolakan Daerah merupakan sebuah buku kumpulan (antologi) cerpen yang ditulis seorang wartawan, sastrawan, dan budayawan terkemuka Indonesia yang berasal dari Sumatera Barat. Buku yang memuat 29 cerpen ini pada dasarnya memuat serangkaian kisah seputar pemberontakan PRRI. Ke-29 cerpen yang ada dalam antologi ini dikelompok-kelompokan penulis dalam tiga bagian. Bagian pertama diberinya judul Di Luar Dugaan yang memuat delapan cerpen. Bagian yang kedua diberinya judul Istri Seorang Sahabat yang berisi delapan cerpen. Sedangkan bagian ketiga, oleh Idris diberi judul Lagu Tak Bersyair yang memuat 13 cerpen.
Lewat antologi cerpen ini, penulis sesungguhnya memberikan sumbangan yang sangat besar bagi catatan perkembangan sejarah kehidupan bangsa kita. Hal-hal yang diungkapkan penulis sesungguhnya belum pernah diungkapkan penulis lain dan kalaupun ada, kadarnya tidak seperti yang diuraikan dalam buku ini. Buku ini menyodorkan kepada kita suatu pengetahuan untuk menyadarkan kita akan gerak dan dinamika bangsa ini ketika bergulirnya PRRI. Tidak banyak sastrawan yang menulis tentang hal ini, dan bisa dikatakan bahwa kisah mengenai PRRI ini terlupakan dari catatan-catatan sejarah kita.
Kisah pemberontakan PRRI tidak banyak ditulis dengan berbagai kemungkinan rasionalisasi. Pertama, bagi sekian banyak sastrawan, masalah itu bukan suatu yang menarik karena memang pemberontakan itu merupakan pemberontakan yang gagal. Kedua, minimnya ulasan tentang PRRI bisa juga karena “ketakutan”/kecemasan segelintir oang untuk mengupas persoalan tersebut secara detail. Atau ketiga, bisa juga terjadi, persoalan itu oleh banyak orang dianggap tabu untuk dibahas.
Berbagai kemungkinan rasionalisasi itu akhirnya menjadi ‘basi’ dengan keberanian seorang Idris untuk mengupas secara detail, rinci, dan mendalam akan peristiwa yang sesungguhnya terjadi sekitar 1958 itu. Lebih dari hanya sekadar keberanian, buku ini ditulis Idris berdasarkan kesaksiannya secara nyata saat ia terlibat dalam pemberontakan PRRI selama tiga tahun. Idris kemudian menuangkan pengalaman-pengalamannya itu dalam bentuk cerpen dan novel. Idris adalah wartawan pertama yang menulis berita pemberontakan itu.
Buku ini bisa tergolong sebuah antologi kisah sejarah tentunya karena semua ulasan dalam buku ini berdasar pada kisah seputar pemberontakan PRRI. Kekuatan buku ini tidak hanya semata-mata mengupas masalah sejarah yang terlupakan tetapi lebih dari itu buku ini merupakan sebuah kesaksian dan pengalaman penulis ketika terlibat dalam pemberontakan tersebut. Buku ini memiliki muatan informasi yang kaya bagi kita dalam usaha memahami secara utuh lika-liku pergulatan dan pergelutan bangsa Indonesia pascakemerdekaan.
Ulasan-ulasan yang menarik dan gaya bahasa yang polos dan khas dalam buku antologi cerpen ini membuat pembaca tidak bosan untuk memahami ceritanya satu per satu. Buku ini sangat cocok bagi mereka yang berminat dalam menggeluti secara mendalam dan utuh masalah sejarah nasional bangsa kita karena tidak banyak penulis yang telah secara mendalam dan detail mengupas masalah PRRI. Tidak hanya itu buku ini juga bisa dinikmati oleh masyarakat umum yang memiliki keinginan untuk mengetahui secara jelas dan pasti pergolakan politik yang dialami bangsa Indonesia sekitar 1958. Selamat membaca!


Penulis: Ventianus Sarwoyo
Mahasiswa PBSID, FKIP, Universitas Sanata Dharma

Resensi Buku

Pelajar SMP “Menggugat” U(A)N


Judul : Lebih Asyik Tanpa UAN
Penulis : Naylul Izza, Fina Af’idatussofa, dan Siti Qona’ah
Penerbit : LkiS Yogyakarta
Tahun : 2007
Tebal : xiv + 82 halaman

Judul di atas bukanlah sebuah judul yang terlalu bombastis dan berbau politis tetapi itulah sebuah judul yang hemat saya cukup representatif menyatakan isi sebuah buku yang ditulis oleh tiga orang pelajar SMP Alternatif Qaryah Thayyibah. Permasalahan seputar UN mungkin dianggap oleh sebagian besar orang sebagai masalah yang sudah basi dan tidak pantas diangkat ke permukaan lagi, karena toh pihak-pihak yang terkait dengan kebijakan UN tidak pernah mendengar apa yang diserukan oleh sekian banyak orang itu. Tetapi, selagi masih ada UN dan masih begitu banyak pihak yang merasa tersiksa dengan UN, reaksi dan tanggapan pun akan tetap mengalir.
Sekilas begitu pula yang dirasakan oleh tiga siswa sebuah SMP Alternatif di Kalibening, Salatiga itu. Mereka merasa “tersiksa” dengan UN. Tidak hanya itu mereka pun menaruh rasa prihatin pada teman-teman mereka yang juga menjadi korban keganasan UN. Berangkat dari rasa keprihatinan itu, tiga siswa itu pun kemudian menuliskan berbagai hal, berkaitan dengan apa yang mereka rasakan dan orang lain rasakan dalam sebuah buku kecil. Buku kecil itu tidak semata-mata ditulis begitu saja. Lebih dari itu, buku itu dihasilkan berdasarkan sebuah pengalaman langsung yaitu pengalaman keterlibatan ketiga siswa itu dalam UN.
Kelebihan lain yang dimiliki buku ini adalah bahwa buku ini tidak hanya berisi ungkapan perasaan atau tanggaan peserta didik (siswa SMP) terhadap pelaksanaan UN. Lebih dari itu, di dalam buku ini pula, ketiga siswa (penulis) menyodorkan delapan alternatif solusi terhadap berbagai permasalahan seputar pendidikan di Indonesia. Alternatif-alternatif yang mereka tawarkan itu tidak hanya berkaitan dengan permasalahan sekitar UN tetapi lebih luas dari itu yakni mencakup permasalahan pendidikan pada umumnya yang terjadi di Indonesia.
Ulasan-ulasan yang ada dalam buku ini juga sungguh sangat menarik, ringan, dan gaya bahasanya sangat sederhana serta lugas, dan hal ini pula yang membuat buku ini semakin enak dibaca. Ulasan yang ada memang bukanlah sebuah ulasan yang berdasarkan pada suatu kajian ilmiah, tetapi hanya berupa uraian naratif terhadap pengalaman ketiga penulis saat mempertimbangkan apakah mengikut UN atau tidak sampai pada akhirnya pengalaman yang dirasakan saat UN berlangsung.
Kekuatan lain yang dimiliki buku ini adalah bahwa isi ulasan yang ada bukanlah hasil rekayasa atau opini orang dewasa yang memang tidak mengalami UN secara langsung. Isi buku ini merupakan suara/aspirasi dari para siswa sendiri yang memang bergelut dan bergulat dengan UN. Apa yang sesungguhnya mereka rasakan saat menjelang UN dan saat pelaksanaan UN, mereka narasikan kembali lewat buku ini. Dengan berdasarkan pada berbagai pengalaman itu dan hasil pengamatan pada teman-teman lain, ketiga siswa itu kemudian dengan berani merekomendasikan agar UN itu dihapus atau ditiadakan. Rekomendasi itu didasarkan pada hasil pengamatan mereka bertiga bahwa yang sesungguhnya terjadi adalah dengan UN berbagai keinginan yang ada pada diri pelajar semakin dibatasi; pelajar menjadi tidak kreatif dan sulit untuk menentukan kebutuhan yang ada pada dirinya.
Dengan berbagai kekuatan yang dimiliki, sesungguhnya buku ini sangat cocok dibaca oleh orang-orang yang menyukai masalah pendidikan, para praktisi dan pengamat pendidikan, siswa-siswa sekolah menengah, serta pemerintah untuk mengetahui secara langsung bagaimana sesungguhnya yang dirasakan oleh para siswa dan tanggapan mereka terhadap pelaksanaan UN. Sungguhpun buku ini memiliki banyak kelebihan, itu tidak berarti bahwa buku ini sungguh sempurna. Masih ada sisi-sisi yang “bolong” misalnya formulasi dan penggunaan bahasa yang khas remaja (bahasa gaul) dan tidak runtutnya penjabarkan ide dan gagasan yang dimiliki. Namun, beberapa kekurangan itu tidak mengurangi berbagai nilai lebih yang dimiliki buku ini. Akhirnya, selamat membaca, semoga bisa mendapatkan sesuatu.

Catatan: Penulis: Ventianus Sarwoyo
Mahasiswa PBSID, FKIP, Universitas Sanata Dharma, Yogyakarta